Marah Sakti Siregar

Berikut ini komentar Marah Sakti Siregar atas tulisan “Carilah Ilmu Hingga ke Negeri China, Antara Hadits dan Perkembangan China yang Fenomenal” oleh Lalu Mara Satria Wangsa.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya sudah membaca tulisan Lalu Mara Satria dari link yang dibuka Sdr Azhmy F Mahyddin di grup ini. Yakni, tentang kemajuan pesat yang dialami Cina, yang sudah empat kali dia kunjunginya sejak 1994.

Bahwa Cina sekarang ini, maju pesat dalam semua lini kehidupan (menyaingi dan bahkan mulai melampaui Amerika), itu adalah realitas. Bahwa Cina Kuno dalam sejarah peradaban manusia termasuk negeri unggulan (dalam arti sebagai penemu atau inovator) pelbagai alat dan sarana bantu kehidupan manusia (misalnya, penulisan huruf, kertas, dll) itu juga sudah tercatat dalam sejarah.

Sisi duniawi, sah saja kita mengagumi, dan kalau perlu belajar dan meniru kemajuan itu dari mana pun. Termasuk dari Cina. Tapi, mengaitkan kemajuan negeri itu dan kekaguman kita pada pada negeri itu, dengan suatu hadis Nabi SAW, hemat saya perlu hati-hati.

Lalu Mara Satria Wangsa

Sebagai sesama muslim, yang masih awam tentang hadis, saya terus terang pernah terganggu dengan hadis yang dikutip Lalu Mara Satria itu. Dan saya pada akhirnya menemukan jawabannya, yang perlu saya share, karena saya merasa kenal Saudara Lalu Mara Satria.

Apa yang ditulisnya Lalu Mara, perihal hadis Rasul: “Carilah Ilmu meskipun sampai di Negeri Cina”…, sudah pernah dan lama dipertanyakan kaum muslimin dan mereka yang belajar terutama Ilmu Hadis. Malah, pada tahun 1990-an, ihwal itu pernah jadi topik diskusi yang hangat di kampus seperti IAIN dan di majelis- majelis taklim. Betulkah ada hadis seperti itu? Bagaimana kualitas hadisnya? Jawabannya waktu itu tegas: itu hadis palsu. Dan perawinya; Abu ‘Atikah Tarif Bin Sulaiman, dinilai tidak memiliki kredibilitas sebagai sebagai perawi hadis. Bahkan, ada ulama yang mengutip pendapat seorang ahli hadis, yaitu Al Sulaimani, tegas menyatakan: Abu ‘Atikah dikenal sebagai seorang pemalsu hadis.

Lebih detil, bolehlah menyimak kembali buku: “Hadis-Hadis Bermasalah”, tulisan pakar hadis : Prof KH Ali Mustafa Yaqub, MA, Guru Besar Ilmu hadis Institut Ilmu Al Quran (IIQ), Jakarta. Buku ini dibuat tahun 2003, sudah cetak ulang beberpa kali, dan diterbitkan oleh PT Pustaka Firdaus, Jln Siaga I no 3, Pejaten Barat

Setahu saya, buku itu, termasuk pendapat Prof Ali Mustafa Yaqub sendiri, dalam taklimnya, antara lain di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, kerap menjadi rujukan banyak ustadz, dan ulama serta para pembelajar hadis di negeri ini.

Tulisan Lalu Mara Satria, menyiratkan dia sudah cukup faham tentang seluk beluk hadis, tapi mungkin belum membaca tulisan dan pendapat Prof Yaqub.

Kita tahu, ada puluhan ribu teks hadis beredar di masyarakat. Dari ratusan buku yang sudah ditulis manusia. Isinya amat beragam. Kualitasnya juga berbeda-beda. Apakah semua benar? Perlu diteliti. Prof Yaqub dkk, sudah melakukan itu. Dan saya belum pernah membaca bantahan dari ulama mana pun atas penelitian Prof Yaqub itu. Termasuk pendapatnya yang menyatakan bahwa teks hadis yang menyerukan agar menuntut ilmu sampai ke negeri Cina itu, termasuk salah satu hadis palsu dan bermasalah. Makanya, hemat saya, apa yang ditulis Prof Yaqub, sudah valid.

Marah Sakti saat Safari Jurnalistik PWI Nestle di Kampus UPN Yogya, 23 Maret 2012 (foto: Hendry Ch Bangun)

Oleh karena itu, saya kurang sependapat dengan sekilas pandangan Saudaraku Azhmy F Mahyddin bahwa hadis yang dikutip Lalu Mara Satria itu dilihat dari substansinya, tidak bermasalah, karena kita memang wajib belajar dan menutup ilmu!

Rasulullah, saya kira kita sepakat, manusia maksum yang sikap, perilaku dan ucapannya, sangat terjaga. Yang paling tahu tentang dia selain Allah SWT, adalah keluarga dekat dan sahabat-sahabatnya. Mereka itu, dari hasil penelitian Prof Yaqub– dari banyak buku hadis–hanya membenarkan bahwa cuma ada hadis Rasulullah yang menyebutkan perlunya (wajib) bagi seorang muslim untuk mencari ilmu. “Mencari Ilmu itu wajib hukumnya bagi seorang muslim.” Ini hadis shahih yg antara lain, diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi dalam kitab Syu’ab Al-Iman. Beberapa ahli hadis lain juga menulis hal yang sama di buku mereka.

Konklusinya sekali lagi, cukup jelas dan kuat bahwa tidak pernah Rasulullah menyebutkan dan menganjurkan ummatnya menuntut ilmu ke negeri Cina.

Memang, boleh saja ada manusia atau orang-orang kagum pada sesuatu di dunia ini. Tapi kalau Rasulullah juga sampai ikut kagum, maka pengikutnya yang kritis tentu bertanya: benarkah itu. Kalau ternyata itu cuma kata-kata mutiara yang dipelesetkan perawi palsu, maka seyogianya kita tidak perlu ikut membenarkan, apalagi sampai menyebarluaskannya, tanpa terlebih dahulu melakukan pengecekan (tabbayun) kepada ahlinya.

Sekedar urun rembuk dari seorang saudara. Wasalam.

============================================================================================

Redaksi:

“Terimakasih atas periksa dan pencerahannya, Bang Marah Sakti Siregar. Indahnya Islam adalah saling mengingatkan. Kami merasakan hal tersebut. Alhamdulillah. Barakallahu fikum.”