Masjid Libaisi (Niujie) di Kawasan Muslim Beijing

Akar tradisi China sangat kuat dan mengakar. Apalagi, semua dinasti kekaisaran mewajibkan warga yang mendirikan bangunan tetap mempertahankan aristektur asli China. Tidak heran arsitektur masjid di China pun, tetap mempertahankan seni bangunan asli. Hal ini terlihat jelas saat saya berkunjung ke Masjid Niujie dan Kawasan Muslim Niujie di Beijing, pada saat mengikuti rombongan pengurus Partai Golkar setahun silam

Di Niujie, terdapat bangunan masjid sangat tua yang melintasi berbagai generasi dari beragam dinasti. Masjid ini sempat mengalami era Dinasti Liao, Dinasti Song, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, Dinasti Qing hingga zaman China modern sekarang. Masjid yang bernama Masjid Libaisi (Puisi Putih) ini, dibangun dua orang berkebangsaan Arab pada 966 M masa pemerintahan Kaisar Tonghe dari Dinasti Liao.

Pusat Komunitas Muslim

Sebagai masjid tertua di Beijing, Masjid Libaisi ini juga merekam jejak masuknya Islam ke negeri tirai bambu. Islam –yang dikenal di China sebagai Yisilan Jiao (agama murni)– diperkirakan masuk sejak abad ke-6 M. Adalah khalifah Usman bin Affan yang mengutus sahabat Sa’ad bin Abi Waqqas, untuk menyebarkan Islam ke China melalui perdagangan. Konon, makam Saad pun berada di China.

Bersama Imam Masjid
(foto: dok. pribadi)

Tetapi masjid ini lebih dikenal sebagai Masjid Niujie, karena terletak di kawasan Niujie, Distrik Xuanwu, Beijing, Niujie artinya Jalan Sapi, lantaran penduduk sekitar menjual dan mengkonsumsi masakan halal, terutama yang menggunakan bahan baku daging sapi. Masjid Libaisi pun akhirnya menjadi pusat komunitas muslim di Beijing.

Sejak awal berdiri hingga kini, Masjid Niujie telah direnovasi beberapa kali. Di masa pemerintahan Dinasti Ming (1442 M) bangunan masjid diperbaiki, yang kemudian diperluas pada era Dinasti Qing berkuasa (1696 M). Setelah RRC berdiri tahun 1949, pemerintah memberikan dana cukup besar untuk merenovasi Masjid Niujie, yang dilakukan pada 1955, 1979 dan 1996. Pada 2005, kembali pemerintah memberi bantuan untuk memperluas lagi masjid yang sudah menjadi bagian Kebudayaan Nasional China ini.

Masjid Niujie berada di area seluas kurang lebih 10.000 meter per segi. Di kompleks tersebut, terdapat juga menara untuk mengobservasi bulan, ruang-ruang belajar, paviliun, gedung pertemuan, mesjid khusus wanita dan makam dua Syaikh. Mereka adalah Syaikh Ahmad Burdani dan Syaikh Ali, yang berjasa dalam penyebaran agaram Islam di Beijing.

Prasasti Renovasi

Interior Masjid Niujie didekorasi dengan arsitektur khas Cina, dengan tambahan sentuhan desain Arab. Di langit-langit depan aula utama terdapat panel persegi yang setiap sudutnya dilukis lingkaran warna merah, kuning, hijau dan biru. Ruangan ibadah dihiasi kaligrafi dalam aksara Arab dan Cina, lukisan bunga, serta hiasan kaca berwarna.

Menengok perpustakaan masjid

Di dalam masjid yang mampu menampung 1.000 jamaah ini, terdapat 21 tiang penyangga. Sedangkan di bagian belakang, terdapat paviliun berbentuk segi enam. Menariknya, di sisi kiri dan kanan masjid disediakan kursi khusus untuk para manula yang mau shalat namun tidak mampu berdiri.

Masjid ini juga menyimpan beberapa benda sejarah. Sebut saja cawan, terbuat dari campuran timah dan tembaga yang dibuat pada 1702. Cawan yang disimpan di depan aula utama ini, digunakan untuk menyiapkan makanan saat peringatan Maulid Nabi maupun pada setiap malam ke-27 di bulan Ramadhan.

Di luar bangunan utama terdapat dua buah paviliun, yang pada salah satunya terdapat prasasti batu menuliskan sejarah masjid. Prasasti batu tersebut merekam pernyataan Kaisar Kangxi dari Dinasti Qing, setelah dilaksanakannya renovasi besar pada 1696. Di situ juga tertulis tanggal pembangunan masjid, lengkap dengan tanggal renovasi dan penambahan bangunan di setiap periode sejak Dinasti Liao (907-1125).

Pada menara adzan bertingkat dua di tengah halaman masjid, yang dulu sempat digunakan sebagai tempat untuk mencetak Al-Qur’an. Tak salah bila kata-kata “Carilah ilmu hingga ke negeri China” terus menggema hingga sekarang.  (Lalu Mara Satria Wangsa)