Adab dan Akhlak dalam Kesempurnaan Islam

Oleh Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyah An Nawawi

(maramissetiawan.wordpress.com)

Adab dan akhlak dalam pandangan agama memiliki kedudukan yangg tinggi dan mulia. Juga di hadapan Allah dan Rasul-Nya, bahkan di hadapan seluruh makhluk. Namun banyak orang menggampangkan maasalah ini dan menjadikannya seolah sebagai bagian luar dan jauh dari agama. Sungguh tidak demikian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Sesungguhnya kamu berbudi pekerti yang agung.”

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Maknanya adalah engkau berada di atas tabiat yang mulia.” Kata Al-Mawardi, “Ini makna yang nampak.” Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Maknanya adalah dalam pengamalan Al-Qur’an. perintah dan larangan telah menjadi tabiat dan akhlak beliau, sehingga apapun yang Al-Qur’an perintahkan maka beliau laksanakan dan apapun yang dilarang beliau meninggalkan hal tersebut.”

Berikut sifat-sifat yang telah diberikan Allah SWT pada keagungan akhlak Rasulullah, seperti sifat malu, dermawan, pemberani, pemaaf, lemah-lembut dan semua bentuk kebaikan akhlak. Sebagaimana telah shahih dari Anas bin Malik Mutafaq ‘alaih,Aku telah berkhidmat kepada Rasulullah selama sepuluh tahun. Beliau tidak pernah mengatakan ‘ah’ sama sekali dan tidak pernah bertanya jika aku melakukan sesuatu dan pada sesuatu yang tidak aku lakukan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik kelakuannya. Aku tidak pernah menyentuh sutra atau sesuatu pun yang lebih lembut dari tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku pun tidak pernah mencium minyak wangi yang lebih wangi dari keringat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Taufik dari Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِيْ اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

Maka disebabkan rahmat dari Allah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka dan musyawarahlah bersama mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkal lah. Karena sesungguh Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan, “Makna ayat ini adalah bahwa Rasulullah ketika bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang lari dari perang Uhud dan tidak memperlakukan mereka dengan kasar. Allah menjelaskan bahwa beliau bisa melakukan hal itu disebabkan taufik dari Allah.

Ibnu Katsir mengutip Al-Hasan Al-Bashri berkata, “Demikianlah akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus beliau dengannya.” Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku menjumpai sifat Rasulullah dalam kitab-kitab terdahulu bahwa beliau tidak berkata kasar kotor dan tidak pula berteriak-teriak di pasar dan tidak membalas perbuatan jelek dengan kejelekan tetapi beliau sangat pemaaf.”

Benda-benda peninggalan Rasulullah saw, semoga menambah keimanan kita
(fadilah-yuni.blogspot.com)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Akhlak yg baik bila menyertai seorang pemimpin di dunia akan menarik orang-orang untuk masuk ke dalam agama dan mendorong mereka untuk cinta kepada agama dan tentu dia akan mendapatkan pujian dan pahala yang khusus. Apabila akhlak yang jelek menyertai seorang pemimpin dalam agama, hal ini menyebabkan orang-orang lari dari agama dan membenci agama tersebut. Bersamaan dgn itu pelaku mendapatkan cercaan dan adzab yang khusus. Kalau Allah mengatakan demikian kepada Rasul-Nya, maka lebih-lebih kepada orang lain. Bukankah termasuk dari kewajiban yang wajib dan perkara yang sangat penting adalah mengikuti akhlak-akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bergaul bersama orang lain dengan cara meneladani pergaulan beliau, berupa sifat kelemahlembutan akhlak yang baik dan penyayang dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan menarik orang ke dalam agama Allah.

Demikian beberapa ayat yang menjelaskan kedudukan adab dan akhlak di dalam agama, berikut ucapan beberapa ulama ahli tafsir. Adapun dari Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlalu banyak dan kita mencukupkan hadits dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Mu’adz bin Jabal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada dan ikutilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapus perbuatan jelek dan berakhlaklah kamu kepada manusia dengan akhlak yang baik.

Tidak Bisa Lepas dari Agama

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah, “Pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik dalam ucapan ataupun perbuatan hal itu adalah sangat baik dan perintah ini bisa menunjukkan wajib atau menunjukkan sunnah dan bisa diambil faidah dari yaitu disyariatkan bergaul bersama manusia dengan perilaku yang baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membatasi bagaimana cara bergaul dengan akhlak karena penerapan akhlak yang baik itu berbeda sesuai dengan kondisi orang. Ada akhlak di sisi seseorang baik dan di sisi orang lain jelek dan tiap orang yang berakal mengerti dan menimbang hal itu.”

Begitu pula bila kita melihat kitab-kitab karya para ulama kita akan menemukan pembahasan tentang adab dan akhlak, baik dalam kitab khusus ataupun dalam pembahasan tersendiri, secara global maupun secara terperinci. Contoh Al-Imam Al-Bukhari di dalam kitab Shahih, beliau menulis sebuah judul pembahasan “Kitab Adab”. Lebih khusus lagi, beliau memiliki kitab “Al-Adab Al-Mufrad“. Al-Imam Muslim di dalam kitab “Shahih” beliau menulis sebuah bab Kitab “Al-Birr wash Shilah wal Adab“. Al-Imam At-Tirmidzi rahimahullah dalam Sunan- menulis pembahasan khusus yang terkait dengan adab berjudul “Kitab Al-Adab.” Al-Imam Ibnu Majah di dalam “Sunan” beliau menulis sebuah judul pembasan “Kitab Adab.” Al-Imam Al-Ajurri menulis sebuah kitab yang berjudul “Akhlak.” Ulama Ibnu Hazm memiliki karya berjudul “Al-Akhlaq wa As-Sair fi Mudawaati An-Nufus.” Badruddin Abu Ishaq Ibrahim memiliki karya berjudul “Tadzkiratu As-Sami’ wa Mutakallim fi Adab Al-’Alim wa Al-Muta’allim.”

Dan masih banyak kitab ulama terdahulu yang memberikan perhatian tinggi terhadap permasalahan adab dan akhlak, yang semua menunjukkan bahwa adab dan akhlak adalah perkara yg tidak bisa lepas dari agama.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan budi pekerti yang baik.”

Memperbaiki Hubungan dengan Allah

Begitu pun ulama di masa kini memberikan perhatian yang besar terhadap akhlak. Ini bisa dilihat pada karya-karya mereka, seperti Asy-Syaikh Jamaluddin Al-Qashimi menulis sebuah kitab “Jawami’ul Adab fi Akhlaq Al-Anjab.” Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz menulis risalah berjudul “Al-Ilmu wa Akhlaq Ahlihi.” Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin memiliki risalah berjudul “Makarimul Akhlaq.” Asy-Syaikh Muqbil di dalam kitab beliau “Al-Jami’ush Shahih” menulis kitab “Al-Adab.”

Seorang Da’i dan akhlak Da’i merupakan manzilah yang tinggi di hadapan Allah. Untuk mendapatkan gelar tersebut tentu dengan memperbaiki hubungan dengan Allah dan menggali agama-Nya.

Kata da’i dalam bahasa syariat memiliki dua makna. Pertama, da’i yang berada di tepi neraka jahannam, sebagaimana dalam hadits Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan juga hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dalam riwayat Al-Imam Ahmad dan mafhum dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

ادْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ

Serulah kepada jalan Rabbmu dengan hikmah..

Kedua, da’i ilallah sebagaimana dalam ayat di atas. Adapun da’i ilallah hendak menjadikan firman Allah di bawah ini, sebagai perhiasan dalam langkah memikul amanat yang besar ini,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجَو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا

Sungguh telah ada pada diri Rasul suri tauladan yang baik bagi bagi orang yg mengharap Allah dan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan, “Di dalam ayat ini terdapat cercaan bagi orang-orang yang tidak menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam peperangan. Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik, artinya bahwa Rasulullah telah mengorbankan diri untuk berperang dan keluar menuju Khandaq untuk membela agama Allah. Dan ayat ini, walaupun sebab khusus, namun yang dimaksud adalah umum dalam segala hal.

Hati seorang dai ilallah, mengacu pada keagungan akhlak Rasulullah
(hartaduniakita.blogspot.com)

Ada beberapa perkara penting yang terkait dengan akhlak seorang alim dan da’i ilallah. Dibawakan oleh Al-Imam Al-Ajurri rahimahullah di dalam kitab beliau “Akhlaq Ulama“: “Apabila Allah mengangkat seseorang di hadapan orang-orang yang beriman sebagai sosok yang berilmu dan sosok yang ilmu dibutuhkan oleh tiap orang, maka ia berusaha menjadi orang yang tawadhu’ terhadap orang alim seperti diri atau orang di bawahnya.”

Adapun ke-tawadhu’-an terhadap orang yang sederajat dengan muncul dalam bentuk rasa cinta kasih kepada mereka dan sangat berharap untuk dekat dengannya dan bila orang tersebut tidak ada di sampingnya, maka hati mereka selalu berkait dengannya. Kemudian beliau mengatakan, “Termasuk dari sifat seorang alim adalah tidak pernah mencari kedudukan di sisi para raja dan tidak menghinakan diri di hadapan mereka, menjaga ilmunya kecuali kepada pemilik yang tidak pernah mengambil upah atas ilmu dan tidak pula dijadikan jembatan untuk terpenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Dia tdk mendekat kepada pemilik dunia dan menjauhi orang-orang fakir, bahkan dia menjauhi ahli dunia dan merendah diri di hadapan orang fakir dan orang shalih untuk menyampaikan ilmu kepada mereka. Kalau dia memiliki sebuah majelis ilmu, maka dia berperilaku baik kepada tiap orang yang duduk di majelis, lemah-lembut kepada orang yang bertanya dan senantiasa menampilkan akhlak yang baik dan menjauhi akhlak yang rendah.”

Dari uraian di atas, maka jelas bahwa Islam dengan kesempurnaan dan keluasan cakupan dalam bentuk aqidah manhaj ibadah akhlak, maka tdk boleh untuk dipisah-pisah dan kita dituntut untuk mengamalkan Islam sesempurna mungkin. Akhlak tidak bisa dipisahkan dari manhaj aqidah atau ibadah. Artinya dalam ber-manhaj, ber-aqidah dan beribadah butuh kepada akhlak yang baik, yang mencerminkan pembawa bendera ilmu Al Kitab dan As Sunnah di atas pemahaman As-Salafus Shalih. Wallahu a’lam.

============================================================================================

1 Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dlm Shahihul Jami’ no. 97

2 Seperti Al-Imam An-Nawawi di dlm Kitab Riyadhus Shalihin dan Al-Hafidz Ibnu Hajar menulis sebuah judul di dlm kitab Bulughul Maram Kitab Al-Jami’ bab Al-Adab dsb

3 Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dlm Silsilah Ash-Shahihah no. 45

4 Sebagaimana firman Allah: يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ Allah akan mengangkat orang2 yg beriman dan orang2 yg diberi ilmu beberapa derajat.

============================================================================================

(Sumber: http://www.asysyariah.com)