Maskun Iskandar

Memengaruhi Opini Publik
Melalui Kolom
(2)

(Seri 8)


Oleh
Maskun Iskandar

===================================

Pokok bahasan lanjutan:

  1. Persyaratan Penulis Kolom
  2. Teknik Menulis
  3. Kepiawaian Menyusun Tulisan
  4. Bahasa yang Efektif dan Komunikatif

===================================

3. Persyaratan Penulis Kolom

Penulis kolom itu orang yang berada di luar jajaran redaksi, sedangkan ia menulis untuk media massa. Dengan demikian, dia harus memahami keredaksian. Untuk itu kolumnis harus memenuhi persyarat sebagai berikut.

  • Media itu merupakan cermin dari keadaan masyarakat. Kata orang, corak suatu negara dapat terlihat dari keadaan persnya, entah itu otoriter, demokratsis, dan sebagainya. Oleh karena itu, seorang kolumnis dituntut untuk mempunyai ketertarikan pada keadaan sekeliling. Mampu menangkap permasalahan yang sedang berdenyut di masyarakat. Mengetahui apa yang diinginkan oleh pembaca.
  • Mampu menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan yang tersusun dengan jelas dan jernih. Hal yang senantiasa harus kita ingat, media massa itu dibaca oleh orang banyak yang tingkat pengetahuan, pengalaman, dan pendidikannya berbeda-beda.
  • Rajin mengumpulkan bahan tulisan. Seorang kolumnis harus terlihat kemampuannya menguasai permalasahan karena ada kemungkinan tulisannya itu dipakai sebagai acuan untuk melakukan suatu kebijakan.
  • Mencintai bahasa. Dalam hal tulis-menulis bahasa merupakan faktor yang sangat penting. Dengan demikian, bahasa yang kita gunakan–meminjam slogan majalah Tempo–enak dibaca.
  • Dapat dipercaya. Penulis itu bermodalkan kepercayaan. Apa yang ditulisnya harus berdasarkan kebenaran, akurat, dan objektif.
  • Kritis dalam menyikapi sesuatu.
  • Kemahiran menganalisis.
  • Kemampuan memengaruhi pembaca.
  • Berlapang dada menerima  pendapat orang lain yang berbeda.
  • Pantang melakukan plagiarisme.
  • Memahami kode etik jurnalistik dan hukum pers.

4. Teknik Menulis Kolom     

Andai Anda berkunjung ke kantor redaksi media massa, niscaya Anda akan menjumpai timbunan naskah. Map bertumpuk-tumpuk di meja, di laci pun penuh sesak, bahkan di kolong meja pun bertebaran. Belum lagi yang berbentuk file di komputer. Sebagian di antaranya berupa naskah kolom kiriman pembaca. Jumlahnya puluhan, sedangkan yang dimuat hanya beberapa. Artinya, naskah yang kita kirimkan kepada redaksi harus bersaing keras dengan naskah orang lain. Yang lolos hanyalah yang layak muat.

Untuk menentukan naskah layak muat redatur akan mempertimbangkan:

  • Siapa yang menulis. Pada tulisan kolom biasanya dicantum nama dan identitas penulis. Ini berarti redaktur mempertimbangkan kompetensi penulis naskah. Lebih terkenal nama penulisnya lebih diutamakan karena lebih “menjual”. Apalagi penulis kolom itu–seperti penulis cerpen dan novel–mempunyai pembaca penggemar.
  • Penguasaan masalah.  Redaktur juga akan mempertimbangkan kualitas isi–dan ini biasanya yang menjadi pertimbangan utama. Oleh karena itu, penting benar mengumpulkan bahan sebanyak-banyaknya. Semakin banyak bahan yang terkumpul kian luas pandangan kita terhadap masalah yang  akan kita tulis. Dengan demikian, akan lebih arif kita menyikapi permasalahan tersebut. Di antara bahan-bahan itu hanya sebagian yang akan kita pakai untuk menulis, sebagian besar lainnya hanya untuk mempelajari permasalahan.
  • Teknik menulis.  Bobot isi saja tidak cukup. Redaktur akan mempertimbangkan kepiawaian kita menulis. Bahan yang bagus, bila koki tak pandai memasak, makanan akan menjadi tidak enak. Demikian juga halnya dengan menulis.

Ciri khas tulisan Mahbub adalah kekayaan akan bahan tulisan. Dalam kutipan pendek di awal makalah ini  terlihat bahwa ia rajin membaca. Lihat saja ada peribahasa Tionghoa, ada Mahatma Gandhi dan ada buku Burton Anatomy of Melancholy.

5. Kepiawaian Menyusun Tulisan

Seibarat memasak, kepiawaian juru masak menentukan kelezatan makanan. Bahan yang sama-sama berkualitas belum tentu sama enaknya, bila yang memasak berbeda. Masakan yang enak ditentukan oleh kecukupan dan kualitas bahan masakan, cara masak, ketepatan memilih dan menakar bumbu, dll. Begitu pula halnya kualitas tulisan ditentukan oleh teknik menulis.

Andai menulis itu sama dengan membuka restoran atau membuat masakan, maka kepiawaian mengolah tulisan itu ditentukan oleh hal-hal berikut ini:

Supaya makanan dapat kita makan yang sesuai dengan selera, makanan itu ada yang digoreng, direbus, dibakar, atau dimakan mentah.

Supaya tulisan kita mencapai tujuan (lihat halaman 3 dan 4) ada empat cara yang kita lakukan dalam mengolah tulisan, yakni dengan jalan:

  • Eksposisi: menjelaskan, membeberkan, menerangkan. Tujuan utamanya ialah  memberitahukan atau memberi informasi mengenai objek tertentu. Penulis tidak memaksakan pendapatnya untuk diikuti oleh pembaca. Ia persuasif.
  • Argumentasi: meyakinkan orang lain dengan disertai bukti atau alasan yang kuat. Tujuan utamanya membuktikan suatu kebenaran. Argumentasi berusaha memengaruhi serta mengubah sikap dan pendapat orang lain untuk menerima suatu kebenaran dengan mengajukan bukti mengenai objek yang diargumentasikan itu.
  • Deskripsi: menggambarkan, memaparkan, menjelaskan dengan kata-kata secara jelas dan  rinci. Tujuan utamanya menyajikan suatu objek atau peristiwa, sehingga seolah-olah pembaca melihat, mendengar, dan merasakan sendiri hal itu.
  • Narasi: menuturkan, menceritakan, mengisahkan. Tujuan utamanya menceritakan suatu peristiwa, mengisahkan apa dan bagaimana hal itu terjadi.

Mahbub termasuk penulis yang piawai mengolah tulisan. Dalam tulisan yang berjudul “Robah Menu” ia antara lain mendeskripsikan Pak Menteri Pertanian makan di restoran padang. Lokasinya di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Pak Menteri lahap melalap lalapan. Bukan selada, terung, kemangi atau mentimun, melainkan lalapan tumbuhan laut. Agaknya ia ingin menunjukkan bahwa laut kita kaya akan bahan makanan.

Nasi padang (wikipedia)

Nikmat sekali Pak Menteri makan. Dahinya berkeringat. Mulutnya penuh. Berdesah-desah kepedasan. Satu piring habis. Tangannya melambai memanggil pelayan. “Tambuah ciek! Zonder (tanpa) nasi,” ujar Pak Menteri.

Tentu saja itu sekadar cerita rekaan. Tak pernah Menteri Pertanian makan nasi di warung padang di Kepulauan Seribu. Mahbub secara tersirat menyindir bahwa anjuran mengubah menu itu hanya berlaku bagi rakyat. Sang penggede tetap saja makan nasi.

6.  Bahasa yang Efektif dan Komunikatif

Perhatikanlah bagaimana Mahbub berbahasa (Lihat Bagian 1):

“Kearifan tua bilang,”  begitulah ia memulai tulisannya.  Pemilihan kata seperti itu terasa hidup. Bandingkan bila  ia menulis kata-kata klise, “Pepatah lama mengatakan….”

“’Bukan hidup buat makan, melainkan makan buat hidup.’ Baiklah. Soalnya, makan apa?”

Perhatikanlah kata “Baiklah. Soalnya, makan apa?” Kata-kata tersebut merupakan “jembatan” agar menyambung dengan kalimat berikutnya: Buat orang Tionghoa gampang saja. Perutnya pragmatik. Simaklah pepatahnya, “Segala rupa yang berkaki bisa digoreng, kecuali kursi. Segala rupa yang terbang di langit bisa dipanggang, kecuali layangan.” Saya tidak tahu bagaimana persisnya peribahasa Tionghoa tersebut. Yang jelas, ini kocak.

Kalimat berikutnya:  “Mahatma Gandhi lain”.  Ini juga kalimat peralihan yang manis, sehingga satu pokok pikiran dengan pokok pikiran lainnya tersambung. Begitu juga ketika ia telah selesai mengutip Gandhi. Disambungnya dengan kalimat, “Ini belum seberapa.” Lalu beralih pada kutipan Burton. Kemudian aliena tersebut ditutup dengan “Di samping buah-buahan, jangan pula jamah sayur-mayur, khusus kol, karena ‘bikin mimpi buruk dan otak dungu.’” Alamak, saya geli ketika membaca “‘bikin mimpi buruk dan otak dungu.’”

Apakah bahasa tulisan kolom harus jenaka seperti itu? Tentu saja tidak. Menggugah perasaan pembaca dan membangun pemikiran bisa saja dengan cara lain. Yang penting—sekali lagi mengutip slogan majalah Tempo—enak dibaca dan perlu. Misalnya begini:

Apakah arti kemenangan? Setelah Kurawa dikalahkan, medan perang Kuru tinggal lapangan penuh bangkai. Bau busuk terbentang. Rasa cemar terapung ke kaki langit. Ribuan anjing ajak melolong, mengaum, mengais. Selebihnya cuma erang sekarat para prajurit, di antara sisa kereta dan senjata yang patah.
Warna di sana hanya darah. Anyir. Tak akan ada lagi perbuatan kepahlawanan.

Goenawan Mohamad
“Catatan Pinggir” Tempo

Walaupun dengan gaya yang berbeda, bahasa keduanya terasa efektif dan komunikatif. Dengan cara itulah para kolumnis memengaruhi pendapat umum.

Penulis adalah mantan Redaktur Pelaksana Majalah Amanah
dan kini menjadi Pengajar di Lembaga Pers Dr. Soetomo