Pembaca Budiman,
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional,
mulai 2 Mei 2012, pada tiap hari Rabu selama bulan Mei 2012
Redaksi akan menurunkan tulisan serial tentang pendidikan.
Selamat mengikuti…

==============================================================================================

Pendidikan Holistik, Integrasikan Jiwa Terpecah

DR Amie Primarni

Oleh DR. Amie Primarni

Di era global ini manusia dituntut serba cepat, agar mampu survive dalam kehidupan yang penuh kecepatan ini. Lambat laun  manusia terprogram dengan rasa persaingan yang tinggi, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Manusia seakan berlomba dengan waktu, tidak memberi ruang pada kekalahan dan kegagalan. Manusia menjadi serakah untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan, yang diukur dari sesuatu kasat mata, materi, maupun status sosial.

Contohnya, kasus bunuh diri di kalangan pelajar yang tidak siap dengan kekalahan. Perilaku curang, termasuk mulai dari menyontek hingga menjiplak di kalangan akademisi, merupakan dampak modernisasi yang memandang tinggi sebuah keberhasilan, tanpa menyertakan unsur religius yang memungkinkan segala sesuatu dapat terjadi sebagaimana yang dikehendaki atau tidak.

Dampak modernisasi dan paradigma dikotomis, membuat manusia mengedepankan aspek kognitif daripada afektif dan psikomotorik. Mempercayai apa yang dapat terindrai, semata-mata oleh akal serta panca indera dan menolak sesuatu yang tak terinderai. Dampak dikotomis, menjadikan manusia sebagai central, manusia tidak membutuhkan Tuhan dalam meraih kesuksesaan.

(ismails3ip.staff.fkip.uns.ac.id)

Terjadinya pemilahan-pemilahan antara ilmu umum dan ilmu agama inilah, yang membawa umat Islam kepada keterbelakangan dan kemunduran peradaban. Karena ilmu-ilmu umum dianggap sebagai sesuatu yang berada di luar Islam dan berasal dari non-Islam atau the other, bahkan seringkali dipertentangkan antara agama dan ilmu (dalam hal ini sains).

Agama dianggap tidak ada kaitannya dengan ilmu, begitu juga ilmu dianggap tidak memerdulikan agama. Begitulah gambaran praktik kependidikan dan aktivitas keilmuan di tanah air sekarang ini, dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan dan dirasakan oleh masyarakat. Di sisi lain, generasi muslim yang menempuh pendidikan di luar sistem pendidikan Islam hanya mendapatkan porsi kecil dalam hal pendidikan Islam, atau bahkan sama sekali tidak mendapatkan ilmu-ilmu keislaman.

Keutuhan Diri Terancam

Terdapat sejumlah masalah yang melatar belakangi perlunya menggagas pendidikan Holistik Islami, sebagai berikut :

Pertama, sebagai dampak era globalisasi yang terjadi saat ini, telah terjadi proses integrasi ekonomi, fragmentasi politik, high technology, interdependensi dan new colonization in culture. Dampak tersebut antara lain disebabkan globalisasi itu sendiri, yang digerakan suatu ideologi Barat berbasis paham pragmatis, hedonisme, postivisme, rasionalisme dan materialisme, yang berakar pada antropo-centrisme yang sama sekali tidak melibatkan peran dan kekuasaan Tuhan.

Integrasi ekonomi adalah sebuah kondisi ketika perdagangan di antara bangsa-bangsa di dunia saling terbuka, sehingga bangsa yang satu menjadi pasar produk bangsa yang lain dan sebaliknya. Sehingga timbullah persaingan dagang antara setiap negara dalam suasana yang sangat ketat dan tidak sehat, yang mendorong munculnya penggunaan cara-cara yang tidak legal dan mementingkan diri sendiri.

Sementara itu fragmentasi politik adalah kondisi saat setiap individu semakin menuntut diperlakukan secara adil, demokratis, manusiawi dan egaliter. Berbagai perlakuan yang dipandang melanggar hak-hak asasi manusia akan mendapat penolakan yang terkadang dilakukan dengan cara berlebihan dan mengarah kepada tindakan anarkhis, seperti praktek main hakim sendiri, melakukan tindakan pengrusakan dan sebagainya.

Selanjutnya high technology berkaitan dengan penggunaan teknologi canggih, terutama dalam bidang komunikasi dan interaksi, yang selanjutnya mengarah terjadinya perubahan pola komunikasi dan interaksi yang lebih bersifat jarak jauh, serta penyalahgunaan peralatan teknologi canggih tersebut untuk tujuan merusak moral, bertendensi kriminal dan lain sebagainya.

Sementara interdependensi adalah keadaan  di antara bangsa-bangsa di dunia sudah saling membutuhkan satu sama lain, dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dalam arti seluas-luasnya. Kerjasama antar bangsa mau tidak mau harus dibangun, yang terkadang sering diwarnai sikap saling mengkooptasi dan mendominasi antara satu dan lainnya.

Selanjutnya new colonization in culture adalah keadaan sewaktu budaya suatu bangsa tertentu lebih menguasai budaya bangsa lain, karena didukung oleh peralatan teknologi canggih, sehingga keadaan kebudayaan negara tersebut tergeser. Budaya Barat yang hedonistik, materialistik, pragmatik dan sekularistik, sering mendominasi kehidupan bangsa Indonesia. Sebagaimana terlihat dalam dampaknya pada pola pergaulan, gaya hidup dan pola komunikasi, yang tidak sejalan dengan nilai-nilai budaya bangsa sendiri. Timbulnya pergaulan bebas, sek bebas, foya-foya dan berbagai tindakan amoral lainnya yang melanda para remaja dan pemuda pada umumnya, merupakan bukti adanya penjajahan baru dalam bidang kebudayaan. Semua kondisi ini akhirnya, menyebabkan keutuhan diri manusia menjadi terancam.

Melihat Kepentingannya Sendiri

(iperpin.wordpress.com)

Kedua, sebagai dampak  dari budaya masyarakat global dan masyarakat urban yang cenderung ingin serba cepat, instans, rasional, efisien, pragmatis, hedonis, materialistik, telah terjadi tingkat persaingan dalam memperebutkan berbagai kebutuhan hidup yang makin tinggi.

Kecenderungan masyarakat tinggal di kota yang areanya terbatas, sementara mereka tidak membekali diri dengan pengetahuan, ketrampilan, mental dan kecakapan hidup yang memadai. Sehingga lahirlah orang-orang sukses maupun gagal, yang dengan segala cara dan upaya memperebutkan berbagai peluang di kota .

Sulitnya mendapat dan mempertahankan pekerjaan, tempat tinggal, tempat berdagang, pendidikan, kesehatan, jalur lalu lintas, bahkan hingga tempat pembuangan sampah, dan lainnya, menyebabkan masyarakat yang tinggal di kota-kota besar mudah terhinggapi penyakit jiwa, seperti cemas, gelisah, tegang, temperamental, kurang memiliki kemampuan menguasai diri, stress, kehilangan akal sehat dan akhirnya gila.

Dalam keadaan demikian, praktek perdukunan atau paranormal amat mudah tumbuh. Demikian pula orang-orang yang mengaku dirinya memiliki kekuatan ekstra ordinary, mengaku diri sebagai Nabi, dan sebagainya. Akhirnya kian mempersulit manusia untuk melihat segala sesuatu secara utuh, melainkan hanya dari sudut kepentingannya sendiri, atau individualistik.

Mereduksi Nilai Kemanusiaan

Ketiga sebagai akibat proses pembangunan yang lebih menekankan materi dan hal bersifat kebutuhan jangka pendek, telah mendorong lahirnya peningkatan jumlah berbagai usaha di bidang industri dan jasa. Keadaan ini dari satu segi memiliki dampak positif, karena ikut memecahkan problem lapangan kerja. Namun karena jumlah lapangan kerja yang tersedia tidak sebanding dengan pencari lapangan kerja (jumlah tenaga kerja jauh lebih banyak daripada lapangan kerja yang tersedia), maka posisi dan daya tawar tenaga kerja menjadi amat lemah.

Mereka umumnya mendapat upah yang tidak layak, perlakuan yang tidak manusiawi, dan menjadikannya sebagai buruh kapital dan elemen mesin ekonomi yang tidak memiliki jiwa dan hati nurani. Terjadilah yang disebut sebagai proses dehumanisasi dan dislokasi, yang pada intinya mereduksi nilai-nilai kemanusiaan, dan menghilangkan haknya untuk menyatakan pendapat dan kebebasannya. Manusia tidak lagi dilihat secara utuh, melainkan hanya sebuah sekrup atau baut dari sebuah mesin kehidupan ekonomi.

Jiwa yang Terpecah

Keempat, sebagai akibat sulitnya mendapatkan berbagai kebutuhan hidup serta berkembangnya budaya hipokrit yang kurang sehat, yang menghalalkan segala cara hinga mengakibatkan manusia harus berbohong atau bersikap mendua dalam menyikapi sebuah masalah. Akibatnya jiwa manusia menjadi terpecah (split personality). Sebagaimana terlihat banyaknya orang yang rajin menjalankan ibadah sholat, puasa, zakat dan haji, menghadiri pengajian dan kegiatan keagamaan lainnya, namun dalam waktu bersamaan mereka juga dengan sengaja melakukan tindakan yang bertentangan dengan agama, seperti melakukan praktek korupsi, mafia kejahatan, kolusi, menyuap dan menggugurkan kandungan.

Jiwa yang terpecah ini juga terkait erat dengan pola pikir (mindset) transaksional atau pola pikir yang merasa selesai jika telah memberikan sesuatu sebagai imbalan dari sesuatu yang diperolehnya. Orang-orang yang berpola pikir transaksional ini, misalnya, menganggap sebuah dosa akan dapat dihapus apabila telah dibayar dengan perbuatan yang baik. Orang yang korupsi dianggap telah dimaafkan, ketika sebagian uang korupsinya disedekahkan kepada mereka yang kurang mampu, atau diinfakkan untuk membangun sarana ibadah, pendidikan dan sebagainya. Keadaan jiwa yang terpecah ini perlu diintegrasikan kembali dengan pendidikan holistik.

Distorsi Makna

Kelima, sebagai akibat suasana kehidupan yang makin individualistik dan banyaknya hal pribadi bersifat rahasia dan berbahaya jika diketahui orang lain, menyebabkan timbulnya sikap hidup menyendiri maupun perasaan terasing dan terisolasi dari sebuah kehidupan. Gejala kehidupan menyendiri (lonely) ini, menyebabkan orang tersebut mencari pelarian pada kegiatan yang dapat menyenangkan dan mengembalikan keutuhan jiwa secara sesaat.

(oktomagazine.com)

Banyaknya rumah tangga yang tidak bahagia, disebabkan sikap individualistik dan tidak adanya penerimaan antar pasangan. Berkurangnya kepedulian antar pasangan adalah indikasi masuknya sikap hidup yang individualistik. Di rumah-rumah besar yang sepi dan dingin, kita temukan setiap orang mengunci dirinya dalam kamar dengan kesibukannya masing-masing. Anak-anak kemudian mencari kesenangannya sendiri di luar rumah, ayah menyibukkan diri lebih lama di tempat kerja, dan ibu akan lebih lama berada di Mall atau Spa.

Semua itu dalam upaya mengisi kekosongan jiwa mereka yang kering. Kegiatan akan menjadi lebih ekstrem, ketika menemukan club-club malam yang penuh dan maraknya kehidupan malam lainnya. Tetapi manusia tidak akan pernah menemukan kedamaian, ketentraman dan kebahagiaan dengan cara-cara demikian.

Munculnya gejala pada perasaan memiliki hidup yang kurang bermakna (loose of spiritual vision), sebagai akibat pandangan hidup yang terlampau menekankan aspek materi dan tidak pernah ada batas kepuasaannya. Orang yang demikian akan merasa hampa, memiliki tujuan hidup yang pendek, tidak memiliki wawasan maupun tujuan hidup jangka panjang. Mereka boleh jadi memiliki kedudukan, pangkat, dan harta yang berlimpah, namun tidak tahu untuk apa mereka miliki semua itu. Mereka mengalami distorsi makna.

Melihat Masalah Secara Utuh

Kemudian pelaksanaan pendidikan yang cenderung mengutamakan aspek kognitif, tetapi meninggalkan aspek afektif dan psikomotorik. Pendidikan yang terlampau mengutamakan kecerdasan intelektual, ketrampilan dan pancaindera, dan kurang memperhatikan kecerdasan emosional, spiritual, sosial dan berbagai kecerdasan lainnya. Akibatnya output dan outcome pendidikan menjadi parsial. Dalam merancang konsep pendidikan yang hampir kebanyakan diambil dari cara pandang Barat, akan terasa kurang sekali melibatkan pendekatan agama dan filsafat.

Konsep pendidikan yang dilaksanakan saat ini, terkadang berdasarkan pendekatan kelimuan tertentu saja. Seperti pendekatan psikologi, ekonomi, dan sosial, yang juga sangat parsial. Keadaan ini menyebabkan pendidikan menjadi terfragmentatif, mengingat setiap keilmuan tertentu cenderung bersifat spesifik dan mengutamakan pendekatannya sendiri.

Hal ini berbeda dengan pendekatan agama (Islam) dan filsafat, yang melihat suatu masalah secara utuh sebagai sebuah sistem yang hidup dan saling terintegrasi, terrelasi, dan terkoneksi. Dengan mengemukakan beberapa alasan tersebut di atas, gagasan pendidikan yang bersifat holistik berdasarkan pendekatan agama dan filsafat penting dilakukan. Hal yang demikian terjadi, karena hanya agama (Islam) dan filsafat yang memiliki pandangan yang holistik. (Bersambung)

============================================================================================

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed M Naquib, Islam and The Philosophy of Science, ISTAC, Kuala  Lumpur, 1989.
Al-Attas, Syed M Naquib,
The Concept of Education in Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1999
Capra, Fritjof,  The Turning Point, Titik Balik Peradaban, Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan, Jejak, Bandung, 2007
Capra, Fritjof, The Hidden Connection : Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru, Jalasutra, Bandung, 2007.
Hasan , Aliah B Purwakania, Psikologi Perkembangan Islam,PT. Radja Grasindo Perkasa, 2006
Hude, Darwis M, Emosi, penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam Al-Qur’an, Erlangga, 2006
Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu,
Sebuah Rekonstruksi Holistik, Arasy Mizan, 2005
Kartanegara, Mulyadhi,
Menembus Batas Waktu, Panorama Filsafat Islam, Mizan, 2002
Mahzar, Armahedi,
Integralisme sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam, Penerbit Pustaka. 1983.
Mahzar, Armahedi, Islam Masa Depan,
Penerbit Pustaka, 1993.
Miller, J.
Ed. Holistic Learning and Spirituality in Education,State University of New York Press. (2005),
Nata, Abuddin,
Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (seri kajian Filsafat Pendidikan Islam), (PT. Rajawali Press. 
Nata, Abuddin,
Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta, Rajawali Pers, 2009.ja Grafindo Persada, Jakarta, Cet. I, Juli 2000).
Pasiaq, Taufik
, Revolusi IQ/EQ/SQ antara neurosains dan Al-Qur’an, Mizan 2002
Tabrani, Primadi
, Kreativitas dan Humanitas, Jalasutra, Jogya, 2006
Tafsir, Ahmad
, Filsafat Pendidikan Islami, Rosda, Bandung, 2006.
Tafsir, Ahmad,
Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, Rosda, 2005 edisi enam.

============================================================================================

DR. Amie Primarni adalah Pemerhati Pendidikan yang bekerja sebagai Dosen dan Konsultan Pendidikan

Iklan