Pembaca Budiman,
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional,
mulai 2 Mei 2012, pada tiap hari Rabu selama bulan Mei 2012
Redaksi akan menurunkan tulisan serial tentang pendidikan.
Selamat mengikuti…

==============================================================================================

Metode Penilaian UAN, Pendidikan Ketidakadilan bagi Siswa

DR Amie Primarni

Oleh DR. Amie Primarni

Pendidikan ini tidak hanya memprioritaskan kompetisi, tapi proses belajar saling mendukung, kerja sama dan menjadikan manusia yang membebaskan dirinya untuk menjadi manusia utuh. Kepribadian dengan karakter yang baik atau adab yang baik, menjadi sasaran utama dalam proses pendidikan holistik Islami.

Lalu, apakah sistem penilaian Ujian Akhir Nasional mendapat tempat dalam konteks pendidikan ini? Apakah cukup lengkap sistem penilaian Ujian Akhir Nasional, untuk bisa menggambarkan keutuhan manusia dalam pengembangan aspek ‘dien’ pada dirinya.

Tidak Relevan dengan Kehidupan Nyata

Bersamaan dengan perkembangan ‘pendidikan massal,’ tujuan pendidikan diarahkan untuk mencetak anak pandai secara kognitif (yang menekankan pengembangan otak kiri saja dan hanya meliputi aspek bahasa dan logis-matematis), maka banyak materi pelajaran yang berkaitan dengan pengembangan otak kanan (seperti kesenian, musik, imajinasi, dan pembentukan karakter) kurang mendapatkan perhatian. Kalau pun ada, maka orientasinya pun lebih kepada kognitif (hafalan), tidak ada apresiasi dan penghayatan yang dapat menumbuhkan kegairahan untuk belajar dan mendalami materi lebih lanjut.

Pendekatan yang terlalu kognitif telah mengubah orientasi belajar para siswa menjadi semata-mata untuk meraih nilai tinggi. Hal ini dapat mendorong para siswa mengejar nilai dengan cara yang tidak jujur, seperti menyontek, menjiplak, dan sebagainya. Mata pelajaran yang bersifat subject matter juga makin merumitkan permasalahan, karena para siswa tidak melihat bagaimana keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan lainnya, serta tidak relevan dengan kehidupan nyata. Akibatnya, para siswa tidak mengerti manfaat dari materi yang dipelajarinya untuk kehidupan nyata.

(kafeilmu.com)

Sistem pendidikan seperti ini membuat manusia berpikir secara parsial dan terkotak-kotak, yang menurut David Orr adalah akar dari permasalahan yang ada. “Isu-isu terbesar saat ini pasti berakar dari kegagalan kita, untuk melihat segala sesuatu secara keseluruhan. Kegagalan tersebut terjadi ketika kita terbiasa berpikir secara terkotak-kotak dan tidak diajarkan cara untuk berpikir secara keseluruhan dalam melihat keterkaitan antar kotak-kotak tersebut, atau untuk mempertanyakan bagaimana suatu kotak (perspektif) dapat terkait dengan kotak-kotak lainnya,” jelas David Orr.

Hal yang sama diungkapkan oleh Fitjrof Capra, betapa pengetahuan manusia tentang sains, masyarakat, dan kebudayaan telah begitu terkotak-kotak, sehingga manusia tidak mampu melihat gambar keseluruhan (wholeness) dari setiap fenomena. Akibatnya banyak solusi yang dilakukan manusia dalam menghadapi berbagai segi kehidupan manusia didekati pula secara fragmented (parsial), sehingga tidak dapat memperbaiki masalah, tetapi justru semakin memperburuk. Inti pemikiran Fitjrof Capra adalah menekankan pentingnya untuk melihat segala sesuatu secara keseluruhan,  “multidisciplinary, holistic approach to reality”.

Membentuk Manusia Berkarakter

Apabila dalam dunia fisika paradigma telah bergeser dari pendekatan mekanistik dan terfragmentasi dalam menelaah partikel benda mati menjadi menyeluruh, sudah seharusnya pendekatan yang sama diterapkan dalam bidang-bidang keilmuan lainnya, termasuk yang menyangkut cara mempelajari manusia dan semua unsur peradabannya. Oleh karena itu, perlu dilaksanakan reformasi pendidikan ke arah yang lebih kondusif demi terciptanya Sumber Daya Manusia yang berkualitas, terutama melalui pengenalan konsep pendidikan holistik secara Islami.

Tujuan pendidikan holistik, seperti dikatakan J. Krishnamurti, adalah “The highest function of education is to bring about an integrated individual who is capable of dealing with life as a whole (Fungsi terpenting pendidikan adalah menghasilkan manusia terintegrasi, yang mampu menyatu dengan kehidupan sebagai satu kesatuan).” Sizer dan Sizer (1999) mengatakan, tujuan pendidikan selain untuk mempersiapkan manusia untuk masuk ke dalam dunia kerja, adalah untuk membuat manusia dapat berpikir secara menyeluruh serta menjadi manusia yang bijak (thoughtful and decent human being).

Sejak 2500 tahun yang lalu Socrates telah berkata, tujuan yang paling mendasar dari pendidikan untuk membuat seseorang menjadi “good and smart.”  Manusia terdidik seharusnya menjadi bijak, yang dapat menggunakan ilmunya untuk hal yang baik (beramal shaleh), dan dalam seluruh aspek kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara. Karenanya suatu sistem pendidikan yang berhasil adalah dapat membentuk manusia-manusia berkarakter, yang sangat diperlukan dalam mewujudkan negara kebangsaan yang terhormat. Seperti menurut Socrates: “Then the man who’s going to be a fine and good guardian of the city for us will in nature be philosophic, spirited, swift, and strong ”

Pembentukan Aqidah/Keimanan Mendalam

Problem pendidikan di atas tidak saja dialami oleh pendidikan umum, tetapi juga terjadi pada problem pendidikan Islami. Pemikiran pendidikan holistik dalam perspektif Barat di atas, sepintas telah mampu memberikan nuansa baru perubahan paradigma pendidikan. Namun hakikatnya –jika dikaji lebih jauh dalam perspektif Islam– akan ditemukan perbedaan mendasar. Sejatinya filsafat Barat adalah filsafat Humanisme, maka perspekstif pendidikan holistik Barat pun tetap berdimensi Humanisme. Perhatikan definisi tujuan pendidikan holistik di atas, yang hanya menitikberatkan pada kehidupan manusia di dunia, tanpa ada hubungan dengan Tuhan.

(fattahulhudapungpungan.wordpress.com)

Sementara itu dalam Islam, dengan Al-Qur’an yang memberi penjelasan tentang tugas manusia dalam hubungannya dengan ilmu dan pengetahuan, mengisyaratkan Allah SWT sebagai Zat Pencipta yang Agung, menciptakan manusia dan alam semesta dengan memiliki tujuan penciptaan (QS 51:56). Dengan acuan ini, manusia dan makhluk ciptaan-Nya pun memiliki tujuan dalam kehidupannya, untuk mengabdi kepada-Nya. (QS 6:162), dan menjadi rahmat bagi seluruh alam ciptaan-Nya (QS 21:107).

Oleh sebab itu secara umum, tujuan pendidikan Islami itu adalah dengan mengacu pada QS 51:56, menjadikan manusia sebagai insan pengabdi kepada Khaliq-nya. Agar mampu membangun dunia dan mengelola alam semesta, sesuai dengan konsep yang telah ditetapkan Allah SWT. Muhammad Fadhil al-Jumaly seperti dikutip Samsul Nizar memberikan batasan, tujuan pendidikan Islami adalah membina kesadaran atas diri manusia itu sendiri, dan atas sistem sosial yang Islami. Ibn Khaldun sebagaimana dikutip Ali al-Jumbulaty dalam buku Samsul Nizar menyebutkan, tujuan pendidikan Islami, berupaya bagi pembentukan aqidah/keimanan yang mendalam. Menumbuhkan dasar-dasar akhlak karimah melalui jalan agamis, yang diturunkan untuk mendidik jiwa manusia serta menegakkan akhlak akan membangkitkan kepada perbuatan yang terpuji.

Dari penjelasan di atas, ditinjau dari perspektif Islami, tidak akan tampak adanya pemisahan antara yang dianggap agama dan bukan agama, yang sakral dengan yang profan, maupun antara dunia dan akhirat.

Sementara itu, saat ini dengan cara pandang pendidikan Barat yang mendominasi hampir semua landasan Ilmu pengetahuan –termasuk juga Ilmu dalam kependidikan– maka cara pandang yang memisahkan antara dianggap agama dan bukan agama, yang sakral dengan yang profan, antara dunia dan akhirat, yang disebut sebagai cara pandang dikotomik kemudian muncul.  Adanya simtom dikotomik inilah –yang menurut Abdurrahman Mas’ud seperti dikutip Azyumardi Azra— meresap masuk dalam pola pendidikan Islami sebagai penyebab ketertinggalan pendidikan Islam.

Hingga kini masih ada pendidikan Islami yang memisahkan antar akal dan wahyu serta fikir dan zikir. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan paradigmatik, kurang berkembangnya konsep humanisme religius dalam dunia pendidikan Islami. Selain itu orientasi pendidikan Islami yang tumpang tindih, melahirkan masalah-masalah besar dalam dunia pendidikan, dari persoalan filosofis, hingga persoalan metodologis. Di samping itu pendidikan Islami menghadapi masalah serius, terkait perubahan masyarakat yang terus menerus semakin cepat. Terlebih perkembangan ilmu pengetahuan, yang hampir tidak memperdulikan lagi sistem suatu agama.

Mengembangankan Hubungan dengan Allah

Dari sisi praksis pendidikan, terdapat dus hal yang perlu dicermati. Pertama, baik pendidikan umum maupun pendidikan Islami, perlu kiranya kita renungkan ke arah manakah pendulum dunia pendidikan formal kita? Nampaknya paradigma dikotomik sudah meresap masuk, baik ke pendidikan Islami maupun pendidikan Umum. Kekeliruan ini seyogyanya menurut penulis, perlu mendapat koreksi dan pelurusan. Di satu sisi pendidikan Islami harus kembali ke ‘fitrah holistik’-nya, sementara pendidikan umum harus menyadari bahwasanya perspektif dikotomi tidak lagi tepat digunakan.

(langkahkebebasan.blogspot.com)

Kedua, metode penilaian Ujian Akhir Nasional mengandung unsur manipulasi pihak yang berkompeten, dalam menentukan hasil usaha dan perjuangan anak didik. Yang lebih tragis adalah pendidikan ketidakadilan di kalangan anak-anak didik. Secara tak sadar dunia pendidikan formal kita sedang mempersiapkan dan melahirkan generasi muda yang menghalalkan sistem ‘katrol-katrol’–an, mengubah realitas menurut maksud manusia, merugikan pihak lain tanpa rasa bersalah dan diuntungkan dengan jalan haram.

Sistem penilaian Ujian Akhir Nasional perlu mempertimbangkan kerangka holistik pendidikan, tanpa meninggalkan cara pandang berperspektif interdisipliner dalam konteks keseluruhan yang membantu manusia untuk lebih memahami dan menyelami makna pendidikan. Bukan saja dalam perspektif humaniora, seperti dalam perspektif Barat. Melainkan membutuhkan kerangka ‘holistik’ yang menghubungkan garis vertikal pengabdian kepada Allah SWT, dan tolong-menolong dalam kebaikan sebagai garis horizontal hubungan manusiawi.

Pendidikan holistik perspektif Barat tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini, khususnya di dunia Timur –termasuk Indonesia yang sangat kental religiusitasnya. Yang sejak pertama meletakkan ‘Dien‘ dan nilai-nilai agama sebagai fondasi kehidupan dunia dan akhirat. Keyakinan ini akan memudar, manakala dunia pendidikan memisahkan fungsi pengetahuan dan ‘Dien.’

Dikotomi klasik yang memisahkan otak dan hati, pengetahuan dan agama, antara keindahan dan fungsi, sebaiknya segera ditinggalkan, karena pendekatan ini akan menimbulkan fragmentasi dalam hidup manusia. Kehilangan fondasi ‘Din‘ dan nilai-nilai agama inilah, yang membuat generasi kita akan mudah berputus asa, memiliki kepercayaan diri yang rendah, menyenangi dunia hiburan semata, berorientasi pada hasil kekayaan dan kemewahan tanpa mengindahkan cara-cara yang benar dan baik.

Betapapun, metode penilaian Ujian Akhir Nasional perlu ditempatkan dalam bingkai dunia pendidikan holistik, tempat manusia belajar menjadi manusia yang baik dan dapat hidup bersama dengan yang lain. Ruang kelas menjadi sebuah komunitas.

Dunia pendidikan menjadi tempat bagi manusia untuk mengembangkan hubungan dengan Allah SWT, menjadikan diri-diri individu yang memiliki ketaatan, kepatuhan dan tawakkal. Dan secara horizontal mengembangkan hubungan baik, adil, terbuka, jujur, saling menghormati, tak merugikan sesama manusia.

Pendidikan ini tidak hanya memprioritaskan kompetisi, tapi proses belajar saling mendukung, kerja sama dan menjadikan manusia yang membebaskan dirinya untuk menjadi manusia yang utuh. Kepribadian dengan karakter yang baik atau adab yang baik menjadi sasaran utama dalam proses pendidikan holistik Islami.

Lalu, apakah sistem penilaian Ujian Akhir Nasional mendapat tempat dalam konteks pendidikan ini? Apakah cukup lengkap sistem penilaian Ujian Akhir Nasional untuk bisa menggambarkan keutuhan manusia, dalam pengembangan aspek ‘dien’ pada dirinya.

Mengembalikan Kesejatian Pendidik

(sopyanmk.wordpress.com)

Pekerjaan rumah pertama yang harus serius untuk dikembangkan secara praksis adalah melengkapi proses belajar intelektual dengan proses belajar internal religius  dan membuat kerangka penilaiannya, sehingga terdapat gambaran yang utuh tentang sosok manusia yang sesungguhnya.

Pekerjaan rumah kedua –namun menduduki nilai sentral— adalah mengembalikan sosok para pendidik kembali ke alam habitat nilai-nilai agama dan filosofi pendidikan. Saya melihat inilah yang telah lama ditinggalkan oleh para pendidik dalam mendidik anak-anak kita. Atau saya khawatir para pendidik tidak punya cukup bekal untuk menjadi seorang pendidik –tanpa bermaksud mengecilkan–  namun masih terdapat mereka yang tidak tahu bagaimana sejatinya menjadi seorang pendidik.

Profesi pendidik, kini menjadi status untuk mencari nafkah semata, tanpa diiringi pengembangan ilmu yang dalam dan kepribadian yang baik. Syarat menjadi pendidik hanya dilihat dari aspek pengetahuan, dan tidak melihat aspek akhlak religiusitas. Wallahu a’lam bisawab.

============================================================================================

Daftar Pustaka

Al-Attas, Syed M Naquib, Islam and The Philosophy of Science, ISTAC, Kuala  Lumpur, 1989.
Al-Attas, Syed M Naquib,
The Concept of Education in Islam, ISTAC, Kuala Lumpur, 1999
Capra, Fritjof,  The Turning Point, Titik Balik Peradaban, Sains, Masyarakat, dan Kebangkitan Kebudayaan, Jejak, Bandung, 2007
Capra, Fritjof, The Hidden Connection : Strategi Sistemik Melawan Kapitalisme Baru, Jalasutra, Bandung, 2007.
Hasan , Aliah B Purwakania, Psikologi Perkembangan Islam,PT. Radja Grasindo Perkasa, 2006
Hude, Darwis M, Emosi, penjelajahan Religio-Psikologis tentang Emosi Manusia di dalam Al-Qur’an, Erlangga, 2006
Kartanegara, Mulyadhi, Integrasi Ilmu,
Sebuah Rekonstruksi Holistik, Arasy Mizan, 2005
Kartanegara, Mulyadhi,
Menembus Batas Waktu, Panorama Filsafat Islam, Mizan, 2002
Mahzar, Armahedi,
Integralisme sebuah Rekonstruksi Filsafat Islam, Penerbit Pustaka. 1983.
Mahzar, Armahedi, Islam Masa Depan,
Penerbit Pustaka, 1993.
Miller, J.
Ed. Holistic Learning and Spirituality in Education,State University of New York Press. (2005),
Nata, Abuddin,
Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam (seri kajian Filsafat Pendidikan Islam), (PT. Rajawali Press. 
Nata, Abuddin,
Tafsir Ayat-ayat Pendidikan, Jakarta, Rajawali Pers, 2009.ja Grafindo Persada, Jakarta, Cet. I, Juli 2000).
Pasiaq, Taufik
, Revolusi IQ/EQ/SQ antara neurosains dan Al-Qur’an, Mizan 2002
Tabrani, Primadi
, Kreativitas dan Humanitas, Jalasutra, Jogya, 2006
Tafsir, Ahmad
, Filsafat Pendidikan Islami, Rosda, Bandung, 2006.
Tafsir, Ahmad,
Ilmu Pendidikan dalam perspektif Islam, Rosda, 2005 edisi enam.

============================================================================================

DR. Amie Primarni adalah Pemerhati Pendidikan yang bekerja sebagai Dosen dan Konsultan Pendidikan