Lalu Mara Satria Wangsa

Oleh Lalu Mara Satria Wangsa

Tidak tepat bila dikatakan para cendekiawan muslim di awal-awal perkembangan Islam banyak terlahir di belahan Timur. Sejarah mencatat, tidak sedikit pemikir muslim yang lahir di belahan dunia sebelah Barat. Spanyol salah satunya. Di negeri inilah, yang dulu bernama Andalusia, sempat berdiri kerajaan Islam yang megah dan melahirkan banyak ilmuan. Ibnu Ruysd dan Ibnu Khaldun diantaranya. Kini, di dunia Barat, Ibnu Rusyd yang dikenal sebagai Averos diberi gelar sebagai Guru Kedua setelah Aristoteles dan Ibnu Khaldun dicatat sebagai sosiolog pertama, sebelum August Comte.

Begitu juga di belahan dunia lain. Di salah satu kawasan yang sempat berada dalam dominasi Uni Soviet, ada satu daerah yang sangat terkenal melahirkan ulama muslim. Kini, kawasan yang dimaksud bernama Uzbekistan, dan masuk kawasan Asia Tengah. Republik Uzbekistan ini berbatasan dengan Kazakhstan di sebelah barat dan utara, Kirgizstan dan Tajikistan di timur, serta Afganistan dan Turkmenistan di selatan.

Di depan gerbang makam

Di salah satu daerah di Uzbekistan yang bernama Bukhara, pernah hidup ulama nomor satu di bidang hadits. Bagi kelompok Sunni, ulama ini sering disebut sebagai Amirul Mukminin dalam bidang hadits. “Jami al-Shahih” sebagai karya monumentalnya, menjadi kitab rujukan pertama dalam hadits dan dinilai sebagai kumpulan hadits dengan kualitas paling shahih.

Ulama yang dimaksud adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi. Karena berasal dari Bukhara, ulama yang lahir pada13 Syawal 194 H bertepatan dengan 21 Juli 810 M dikenal sebagai Imam Bukhari.

Dulu, Uzbekistan berada dalam kawasan Turkistan dan menjadi tempat strategis karena menjadi bagian dari Jalur Sutera dari Asia ke Eropa melalui China. Turkistan ini berada dalam kawasan kekuasaan Islam. Namun pada awal abad ke16, China dan Soviet merangsek dan menjajah Turkistan. China memperoleh Turkistan Timur, dan mengganti namanya menjadi Xin Jiang. Sementara Soviet berhasil meraih dan mencaplok Turkistan Barat. Setelah Uni Soviet menjadi negara adidaya, nama Turkistan Barat dimusnahkan dari peta dunia, dan Soviet memecahnya menjadi kawasan Uzbekistan, Turkmenistan, Tadzhikistan, Kazakestan, dan Kirgistan

Berdinding batu bata

Alhamdulillah, dalam satu kesempatan, tepatnya Ramadhan 1996 (6 – 10 Februari), saya mengunjungi Uzbekistan dalam rangka tugas. Seusai acara pertemuan dengan Presiden pertama Uzbekistan, Islam Karimov, saya dan rombongan wartawan mengunjungi Makam Imam Bukhari –didampingi staf Kedubes Indonesia di Taskent– di kawasan Samarkand (Uzbekistan). Di masjid ini, saya juga sempat shalat Jumat bersama beberapa teman wartawan. Sementara Al-Qur’an yang saya beli di sana pun ditandatangani oleh Mufti setempat.

Inilah bangunan makam, yang terpisah dari masjid

Untuk menempuh perjalanan ke Masjid Imam Bukhari dari ibu kota Uzbekistan, Taskent, bisa dilalui melalui udara menuju Samarkand, dan saat itu kami menggunakan pesawat Antonov buatan Rusia. Perjalanan dengan pesawat komersial, bila tak salah ingat menempuh waktu sekitar satu jam. Dari Samarkand kami menggunakan bus menuju Masjid, kira-kira 30 menit. Pada bangunan terpisah di sebelah masjid itulah terletak makam Imam Bukhari, yang berada dalam ruangan berdinding batu bata dan mampu menampung sekitar 10 orang. Makamnya sendiri berada di tengah ruang, dengan berselimutkan kain hitam yang bertulisan Arab warna kuning.

Syarat Bung Karno

Bagi masyarakat Samarkand, Indonesia memiliki kesan khusus. Berdasarkan penuturan, atau katakanlah “sejarah tutur” warga Samarkand, dua pemimpin Indonesia sangat berperan dalam pembangunan masjid dan makam Imam Bukhari ini. Presiden Soekarno, Presiden pertama RI, disebut-sebut sebagai orang yang berperan penting dalam penemuan makam Bukhari.

Pada tahun 1961, pemimpin tertinggi Partai Komunis Soviet sekaligus penguasa tertinggi Uni Soviet, Nikita Sergeyevich Khrushchev, mengundang Bung Karno ke Moskow. Bung Karno mau datang, tetapi mengajukan syarat, agar Khrushchev menemukan makam Imam Bukhari. Khrushchev menyuruh pasukan elitnya untuk menemukan makam dimaksud, namun sayang tak juga didapat. Khrushchev pun memberitahu makam yang dicari tidak ada, tetapi Bung Karno tetap teguh dan mengancam. Bila makam tak ditemukan, ia tak jadi datang ke Moskow.

Khrushchev yang butuh dukungan Indonesia untuk melawan AS menjadi bingung, sekali lagi ia memerintah pasukannya mengumpulkan informasi dari orang-orang tua Muslim di sekitar Samarkand. Dan akhirnya makam Imam Bukhari ditemukan dalam keadaan tidak terawat. Khrushchev memerintahkan agar makam dibersihkan dan dipugar secantik mungkin. Setelah terlihat indah, Khrushchev menghubungi Bung Karno. Bung Karno pun pada akhirnya datang ke Moskow dan tiba di Samarkand pada 12 Juni 1961.

Membangun perpustakaan

Ruang Makam, disini orang Indonesia diistimewakan

Kebesaran nama mantan Presiden Indonesia pertama tak pernah lenyap dimakan zaman, baik di negeri sendiri ataupun di luar negeri, terutama di daerah Eropa Timur. Di bekas negara pecahan Uni Soviet, Uzbekistan, nama Ir Soekarno sangat dihormati. Jika orang Indonesia (muslim) datang berkunjung ke Uzbekistan dan menyempatkan diri mengunjungi Makam Imam Bukhari, akan diberi keistimewaan. Orang-orang Indonesia akan diizinkan masuk ke bagian dasar bangunan, yang merupakan tempat jasad Imam Bukhari disemayamkan.

Makam Imam Bukhari tertutup untuk umum, tetapi bila orang indonesia yang datang pintu makam akan dibukakan. Ini dikarenakan Ir Soekarno yang melakukan pemugaran dan merenovasi tempat itu, sehingga semua orang Indonesia diberi keistimewaan.

Presiden Soeharto lain lagi. Kedatangan Pak Harto pada 1992 disambut gembira warga Samarkand. Berdasarkan penuturan staf KBRI di Tashkent, Pak Harto dan Ibu Tien-lah yang membantu pembangunan perpustakaan di kompleks makam dan masjid Imam Bukhari tersebut.

Judul Naskah Asli: “Ziarah ke Makam Ulama Hadist Nomer Wahid, Imam Bukhari”

Lalu Mara Satria Wangsa adalah Alumni Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta