(Dikutip dari: http://dakupoenya.wordpress.com)

Manusia dalam melakukan hubungan dan interaksi dengan lingkungannya, baik materil maupun sosial, semuanya tidak terlepas dari tindakan penyesuaian diri (adjustment). Tetapi apabila orang tersebut tidak dapat menyesuaikan diri, dikatakan kesehatan mentalnya terganggu atau diragukan. (Abdul Aziz El Quusiy, terjemahan Dzakia Drajat, “Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental”, 1974. hal 10)

Tidak mendapat kebahagiaan

Contoh penyesuaian diri yang wajar adalah seseorang menghindarkan dirinya dari situasi yang membahayakan diri. Sedangkan penyesuaian diri yang tidak wajar misalnya, seseorang yang takut terhadap binatang yang bias,a seperti kucing, kelinci dan sebangsanya. Dari dua contoh tersebut dapat diambil kesimpulan, orang yang bisa melakukan penyesuaian diri secara wajar dikatakan sehat mentalnya dan orang yang tidak bisa melakukan penyesuaian diri secara wajar menunjukkan penyimpangan dari kesehatan mentalnya.

(somptamp.blogspot.com)

Kesehatan jasmani adalah keserasian yang sempurna antara bermacam-macam fungsi jasmani disertai kemampuan menghadapi kesukaran biasa yang terdapat dalam lingkungan, di samping secara positif merasa gesit, kuat dan semangat. Kesehatan mental dalam kehidupan manusia merupakan masalah yang amat penting, karena menyangkut kualitas dan kebahagiaan manusia. Tanpa kesehatan yang baik, orang tidak akan mungkin mendapat kebahagiaan dan menjadi sumber daya manusia yang tinggi kualitasnya. (Yahya Jaya, “Kesehatan Mental”, 2002. hlm 68)

Kenapa hal itu bisa terjadi?  Jawabannya karena kesehatan mental menyangkut segala aspek kehidupan yang menyelimuti manusia, mulai dari kehidupan pribadi, keluarga, sosial, politik, agama, sampai pada bidang pekerjaaan dan profesi hidup manusia. Kehidupan mewah dan kemajuan ilmu pengetahuan teknologi, tidak akan menjamin kebahagian manusia. Karena yang bisa menjamin kebahagiaan manusia adalah kejiwaan, kesehatan dan keberagamaan yang dimiliki manusia. Tiga faktor tersebut sangat sejalan dalam mencapai kebahagiaan hidup manusia, karena yang harus dicapai tidak hanya kebahagiaan di dunia melainkan juga di akhirat kelak.

Identik dengan ibadah

Banyak teori yang dikemukan oleh ahli jiwa tentang kesehatan mental, misalnya teori psikoanalisis, behavioris dan humamisme. Sungguhpun demikian, teori tersebut memiliki batasan-batasan yang tidak menyentuh seluruh dimensi (aspek) dan aktivitas kehidupan manusia sebagai makhluk multidimensional dan multipotensial.

Manusia sebagai makhluk multidimensional, setidaknya memiliki dimensi jasmani, rohani, agama, akhlak, sosial, akal, dan seni (estetika). Sedangkan sebagai makhluk multipotensial, manusia memiliki banyak potensi yang dikaruniakan Allah SWT kepadanya. Poensi tersebut dalam ajaran Islam, tercermin pada kandungan Asmaul Husna.

(majalahkesehatan.com)

Agama adalah jalan utama menuju kesehatan mental, karena dalam agama terdapat kebutuhan-kebutuhan jiwa manusia. Kekuatan untuk mengendalikan manusia dalam memenuhi kebutuhaannya, sampai kepada kekuatan untuk menafikkan pemenuhan kebutuhan tersebut, diusahakan tidak membawa dampak psikologis yang negatif. (Yahya Jaya, “Kesehatan Mental”, 2002).

Menurut Hasan Langgulung, kesehatan mental dapat disimpulkan sebagai ‘akhlak yang mulia.’ Oleh sebab itu, kesehatan mental didefinisikan sebagai ‘keadaan jiwa yang menyebabkan merasa rela (ikhlas) dan tentram, ketika ia melakukan akhlak yang mulia.’

Didalam buku Yahya Jaya menjelaskan, kesehatan mental menurut islam identik dengan ibadah atau pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia, dalam rangka pengabdian kepada Allah dan agama-Nya untuk mendapatkan An-nafs Al-muthmainnah (jiwa yang tenang dan bahagia) dengan kesempurnaan iman dalam hidupnya.

Sedangkan dalam bukunya Abdul Mujib dan Yusuf Mudzkir “Kesehatan Menurut Islam” yang dkutip dari Musthafa fahmi, menemukan dua pola mendefenisikan kesehatan mental:

  1. Pola negatif (salaby), kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari neurosis (al-amhradh al-’ashabiyah) dan psikosis (al-amhradh al-dzihaniyah).
  2. Pola positif (ijabiy), kesehatan mental adalah kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial.

Berdasarkan ajaran

Islam sebagai suatu agama yang bertujuan membahagiakan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia, sudah barang tentu dalam ajaran-ajarannya memiliki konsep kesehatan mental. Begitu juga dengan kerasulan Nabi Muhammad salallahu alaih wasallam, bertujuan mendidik, memperbaiki, membersihkan serta mensucikan jiwa dan akhlak.

Di dalam Al-Qur’an –sebagai dasar dan sumber ajaran Islam– banyak ditemui ayat-ayat yang berhubungan dengan ketenangan dan kebahagiaan jiwa sebagai hal yang prinsipil dalam kesehatan mental. Ayat-ayat tersebut adalah:

لَقَدْ مَنَّ اللّهُ عَلَى الْمُؤمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولاً مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبْلُ لَفِي ضَلالٍ مُّبِينٍ

Artinya: “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman, ketika Allah mengutus di antara mereka  seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (keadaan  nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. 3: 164).

Dalam hadits Rasulullah dijelaskan juga yaitu:

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus oleh Allah adalah bertugas untuk menyempurnakan kemulian Akhlak manusia.”

(supriyanto2koma.wordpress.com)

Dengan kejelasan ayat Al-Qur’an dan hadits di atas dapat ditegaskan, kesehatan mental (shihiyat al nafs) dalam arti yang luas adalah tujuan dari risalah Nabi Muhammad saw diangkat jadi Rasul Allah SWT. Karena asas, ciri, karakteristik dan sifat dari orang yang bermental yang sehat, terkandung dalam misi dan tujuan risalahnya. Juga dalam hal ini al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk, obat, rahmat dan mu’jizat (pengajaran) bagi kehidupan jiwa manusia dalam menuju kebahagian dan peningkatan kualitasnya, sebagaimana ditegaskan dalam ayat berikut:

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang  ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. Ali Imran: 104).

Ayat di atas menjelaskan, Allah menjanjikan kemenangan kepada orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah kapada yang munkar. Keimanan, katqwaan, amal saleh, berbuat yang makruf, dan menjauhi perbuatan keji dan munkar, adalah faktor yang penting dalam usaha pembinaan kesehatan mental.

Juga pada ayat lain yang artinya: “Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin, supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Fath: 4).

Ayat di atas menerangkan bahwasanya Allah mensifati diri-Nya sebagai Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Bijaksana yang dapat memberikan ketenangan jiwa ke dalam hati orang yang beriman.

Dan pada ayat lainnya yang artinya: “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu´min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (Q.S. Al-Isra: 9).

Disambung ayat lain yang berarti: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (Q.S. Al-Isra: 82).

Juga pada ayat berikut yang artinya: “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit- penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yunus: 57).

Berdasarkan penjelasan keterangan ayat-ayat Al-Qur’an di atas dapat dikatakan, semua misi dan tujuan dari ajaran Al-Qur’an yang berintikan kepada aqidah, ibadah, syariat, akhlak dan mu’ammalat bertujuan dan berperan bagi pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas dan berbahagia.

Islam memiliki konsep tersendiri dan khas tentang kesehatan mental. Pandangan islam tentang kesehatan jiwa berdasarkan atas prinsip keagamaan dan pemikiran falsafat yang terdapat dalam ajaran-ajaran Islam.

Ibadah yang amat luas

(setyantocahyo.wordpress.com)

Berdasarkan pemikiran tersebut, setidak-tidaknya ada enam prinsip keagamaan dan pemikiran filsafat yang mendasari konsep dan pemahaman Islam tentang kesehatan jiwa. Dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Prinsip dan filsafat tentang maksud dan tujuan manusia dan alam jagad dijadikan oleh Allah SWT. Di antara maksud dan tujuan manusia dijadikan Allah adalah untuk beribadah dan menjadi khalifah di bumi.
  2. Prinsip dan filsafat tentang keadaan sifat Allah dan hubungannya dengan sifat manusia. Dalam keyakinan Islam, Allah SWT memiliki sifat dan nama-nama yang agung, yakni Asmaul Husna yang berjumlah 99 nama atau sifat.
  3. Prinsip dan filsafat tentang keadaan amanah dan fungsi manusia dijadikan Allah SWT sebagai khalifah di bumi. Sebagai khalifah Allah membekali manusia dengan dua kualitas (kemampuan), ibadah dan siyadah (imtak dan ipteks) agar manusia berhasil dalam mengelola bumi.
  4. Prinsip dan filsafat tentang perjanjian (mistaq) antara manusia dan Allah SWT, sewaktu manusia masih berada dalam kandungan ibunya masing-masing. Allah menjadikan manusia dalam bentuk kejadian yang sebaik-baiknya, dan kemudian menyempurnakan kejadian dengan meniupkan ruh ke dalam tubuhnya (basyar), sehingga membuat para malaikat menaruh hormat yang tinggi kepada manusia.
  5. Prinsip dan filsafat tentang manusia dan pendidikannya. Manusia dalam pandangan islam adalah makhluk multidimensional dan multipotensial.
  6. Prinsip dan filsafat tentang hakikat manusia Dalam pandangan Islam, hakikat dari manusia itu adalah jiwanya, karena jiwa berasal dari Tuhan dan menjadi sumber kehidupan.

Dari pandangan di atas, dapat dikemukakan pengertian kesehatan jiwa/mental dalam Islam sebagai berikut: Kesehatan jiwa menurut Islam tidak lain adalah ibadah yang amat luas atau pengembangan dimensi dan potensi yang dimiliki manusia, dalam rangka pengabdian kepada Allah yang diikuti dengan perasaan amanah, tanggungjawab serta kepatuhan dan ketaatan kepada Allah dan ajaran agama-Nya, sehingga dengan demikian terwujud nafsu muthma’innah atau jiwa sakinah. (Yahya Jaya, “Kesehatan Mental”, 2002).

Judul Naskah Asli: “Kesehatan Mental Menurut Islam”