Pembaca Budiman,
Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional,
mulai 2 Mei 2012, pada tiap hari Rabu selama bulan Mei 2012
Redaksi akan menurunkan tulisan serial tentang pendidikan.
Selamat mengikuti…

=============================================================================================

DR Amie Primarni

Proses Optimalisasi Diri yang Tidak Bebas Nilai

Oleh DR. Amie Primarni

Berangkat dari paradigma pendidikan holistik, perbedaan yang mendasar dari pendidikan holistik dalam perspektif Barat dan dalam perspektif Islami adalah landasan filosofis dan nilai agama di dalamnya. Pada perspektif Barat, pendidikan holistik melandasi dan mengacu pada filsafat humanisme dengan manusia menjadi sentral. Sementara dalam perspektif Islami, pendidikan Holistik melandasi dan mengacu pada Tauhid, dimana Allah subhanahu wa Ta’ala menjadi sentral.

Dimulai dari Spiritual

Dalam pendidikan Holistik Islami, ditemukan empat aspek penting yang menjadikan pendidikan mampu mengembangkan manusia sesuai tujuan pendidikan Islami. Dalam pendidikan Islami manusia terdiri atas empat elemen, intelektual, emosi, inderawi-fisik, dan spiritual.  Tiap-tiap elemen ini memiliki sisi-sisi yang harus dikembangkan.

Daya Emosi adalah perpaduan keseimbangan kesadaran diri dan kesadaran sosial, yang bertumpu pada kecerdasan spiritual. Puncak Daya Emosi adalah Spiritualitas

Daya Pikir, adalah kemampuan optimum dari berfikir linear, asosiatif dan integral. Puncak dari berfikir intelektual adalah berfikir integral atau holistik.

Daya Fisik atau kematangan fisik, dapat optimum, jika memperhatikan asupan makanan yang bergizi, thoyib, dan halal. Puncak dari kebaikan perkembangan fisik adalah kehalalan.

Jika ke empat elemen ini menyatu dalam sebuah limas, akan diperoleh segitiga yang menyatukan ketinggian setiap elemen. Daya Spiritual akan menyatu dengan daya pikir integral dan menyatu dengan daya fisik optimum.

Sebagai ilustrasi kondisi ini dapat dikatakan, mata secara fisik dapat menginderai yang serba nyata, dan dengan daya spiritualitas dapat merasakan yang tak terinderai. Telinga dapat mendengar secara fisik, dan dengan daya spiritualitas dapat merasakan yang tak terinderai. Jika demikian bangunan elemen manusia, maka pendidikan Islam haruslah memiliki kerangka yang mampu membangun tubuh dan jiwa manusia agar dapat tegak berdiri seperti di atas.

Jika elemen spiritual merupakan tujuan akhir pengembangan optimum manusia, maka bangunan kerangka pendidikan Islami harus dimulai dari elemen spiritual. Dengan demikian, bangunan kerangka pendidikan Islami harus dimulai dengan  limas terbalik, hal ini disebabkan spiritual merupakan fondasi awal yang harus dibangun sebelum elemen lain ditambahkan..

Maka Pemikiran Syed Naquib Al-attas dimulai dari pemikiran, proses pendidikan harus dimulai dari individu-individu. Hal ini berkaitan dengan pertanggunganjawab individu di hadapan Allah SWT. Kebodohan atau ketersesatan manusia berkembang dari kekeliruan cara pandang manusia terhadap diri manusia itu sendiri, yang membuatnya menjauh dari hakikat kebenaran.

Naquib Al-Attas mengingatkan, untuk mengecek ulang cara dan corak pandang manusia yang telah salah dalam mempersepsi manusia itu sendiri, sehingga akan terjadi perusakan diri manusia oleh manusia sendiri. Naquib membebaskan manusia dari mitos, dan mitologi yang mempengaruhi pemikiran. Bagi Naquib, membebaskan adalah mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju pencerahan, dari yang mati kepada yang hidup. Sebab manusia terdiri atas jiwa, raga dan ruh.

Menemukan Kebenaran Final

Penemuan-penemuan di atas, dapat digunakan untuk mengkaji lebih jauh tentang kesadaran Barat terhadap dunia pendidikan. Antara lain sebagai berikut :

  1. Pendidikan bukanlah proses robotisasi otak – akal rasional semata
  2. Pendidikan bukanlah mekanisme copy paste – sehingga hilang kreativitas
  3. Kebenaran ilmiah tidak mutlak – tetapi belum mengetahui dengan cara apa kebenaran dapat ditempuh.
  4. Pendidikan tidak dirasakan memanusiawikan manusia. Pendidikan bagaikan menghasilkan manusia-manusia cerdas yang kering, dan kaku serta bersifat materilistis.
  5. Keberhasilan hanya diukur dari material.

(rimanews.com)

Sampai sejauh ini, Barat belum memiliki kesepakatan tentang konsep pendidikan yang terintegrasi. Sebab bagi mereka pendidikan hanyalah masalah transfer pengetahuan belaka. Problem yang disebabkan kegagalan pendidikan hanya diselesaikan oleh sistem ekonomi negara, dengan memberi bantuan subsidi bagi para lulusan sarjana yang tidak atau belum tertampung di bursa-bursa kerja.

Orientasi belajar –bekerja bukan belajar – berkarya, menjadi salah satu indikasi bahwasanya output pendidikan masih terbatas kemampuannya untuk memberi keleluasan siswa dalam memilih yang diminati atau disukainya. Artinya, seharusnya pendidikan mampu memberi bekal yang cukup pada siswa untuk memiliki banyak kemampuan pilihan, apakah bekerja atau menjadi entrepreuner.

Barat[1] menyadari manusia adalah mahluk yang sekaligus bersifat fisis, biologis, psikologis, kultural, sosial dan historis. Kesatuan kodrat manusia yang kompleks ini terpecah-pecah akibat pendidikan yang terkotak-kotak ke dalam berbagai disiplin ilmu. Oleh karenanya, kini kita tidak dapat lagi belajar apa artinya menjadi manusia. Manusialah penghubung antara kesatuan dan keberagaman dari semua hal.  Perbedaannya dalam pandangan Islam adalah menempatkan Allah SWT sebagai penyatu, sehingga kebenaran dapat ditemukan dan bersifat final, benar dan baik menurut Allah SWT.

Salah satu permasalahan pokok yang terlalu sering disalahpahami adalah bagaimana mengembangkan cara belajar yang mampu menangkap masalah-masalah bersifat umum dan mendasar, seraya menyisipkan pengetahuan yang bersifat parsial ke dalamnya. Dominannya belajar yang terbagi-bagi ke dalam berbagai disiplin ilmu, sering membuat kita tidak mampu menghubungkan bagian-bagian dengan keseluruhan. Belajar semacam ini, seharusnya diganti dengan belajar yang dapat memahami materi ajar sesuai konteks, kompleksitas, dan totalitasnya.

Menghasilkan Manusia yang Baik

Makna dan tujuan pendidikan adalah dua unsur saling berkaitan, yang telah menarik perhatian para filosof dan pendidik sejak dulu. Adanya perbedaan konseptualisasi dan penjelasan kedua unsur ini, disebabkan adanya perbedaan dalam memahami hakikat, peranan, dan tujuan hidup manusia di dunia. Yang ternyata sangat berkaitan dengan serentetan pertanyaan, mengenai hakikat ilmu pengetahuan dan realitas mutlak. Oleh karena itu tidaklah mengherankan, jika kita menjumpai perbedaan pendapat di kalangan filosof dan pendidik –terutama yang ada di Barat– mengenai tujuan dan kurikulum pendidikan.

(sditnurulislamsda.wordpress.com)

Sementara itu, sesungguhnya Islam secara keseluruhan telah memiliki cara dalam menumbuhkembangkan manusia mencapai titik optimumnya. Yang dalam proses optimalisasi itu, Islam meletakkan fondasi kuat keimanan untuk menjaga Ilmu.

Perintah belajar –seiring dengan proses pendidikan dalam konteks Islam– tidak lain adalah proses optimalisasi diri manusia dalam menemukan keyakinan tentang Allah swt. Oleh sebab itu pendidikan dalam Islam tidak bebas nilai.

Pendidikan Islam bersifat menyeluruh, berkesinambungan, memiliki fondasi, kerangka, tujuan dan evaluasi yang telah jelas kriterianya. Pendidikan Islam berorientasi pada individu manusia –yang dengan demikian, manusia tidak akan pernah merasa kehilangan eksistensi– meskipun dunia berubah sangat cepat, dan tidak sesuai dengan yang dikehendaki.

Ada perbedaan mendasar antara mendidik manusia menjadi manusia yang baik sesuai dengan tujuan pendidikan[2], ”The purpose of seeking knowledge and of education in Islam is to produce a good man and not a good citizen (Tujuan pencarian ilmu dan pendidikan di dalam Islam adalah untuk menghasilkan seorang manusia yang baik dan bukan menjadi warganegara yang baik).”

Wan Mohd Nor Wan Daud,[3] dalam “The Educational Philosophy and Practice of Syed M Naquib Al-Attas, An Exposition of The Concept of Islamization” menyatakan. ” there are two teoritical position concerning the purpose of education, with various degrees of variation between them. The first is called the society-centred position whereby education is conceived primarly as a vehicle to produce good citizen, whether for various kinds of democracies, oligarchies  or monarchies; while the other, the child or person-centred position, primarly stresses the needs, capacities and interests of the student. The perennial school or cultural transmission school associated with Plato and with many mediaval western scholars as well as a few modern ones such as William T, Robert Hutchins and Adler in the United States is included in the society or state-centred position. Similarly the more modern social-reconstructionist school associated with George S. Count of the United States, Paulo Friere of Brazil and Jurgen Habermas of Germany, as well as the feminist who stress the principle of liberation, can also be included ultimately as society-centred positions, though at a different point in the spectrum. Certainly most national systems of education in the world today are state centred. The person-centred position has been espoused by most of the dominant religions of the world. Certain ancient and still influential moral systems such as that of  Kung Fu tze for example, does place great stress on personal development, but only as a basis for societal and national development. Modern secular roots of person-centred education can be traced to the romantica philosophy of Jean-Jacques Rousseau, the psychology of Abraham Maslow, and the pedagogy of A.S. Neill. Even though the two positions are nor mutually exclusive, whether in theory or in practice, yet they cannot coexist with one another, at least in modern secular educations systems.”

Tauhid sebagai Titik Sentral

(facebook.com)

Manusia dalam perspektif Islam  dianugrahi empat elemen, spiritual, intelektual, emosi dan fisik-inderawi yang dapat optimum jika ke empat elemennya dikembangkan dengan baik. Paduan iman, ilmu dan amal, sesungguhnya merupakan penyederhanaan konsep pendidikan Islam yang holistik.Bahwa pada akhirnya konsep pendidikan holistik yang mengembangkan ke empat elemen manusia, seharusnya mampu mengembangkan kapasitas  iman, ilmu dan amal setiap manusia.

Dalam konsep pendidikan holistik Islam, peran Tauhid[4] menjadi titik sentral, sebagai penyatu –-oleh sebab itu paradigma Tauhid[5] adalah meng-Esa-kan Allah subhanahu wa Ta’ala-– dari semua elemen manusia. Untuk menyatukan elemen-elemen atau unsur dibutuhkan pemersatu, yang dalam konteks ini Islam menyadari betul bahwa pemersatu seluruh elemen adalah Allah subhanahu wa Ta’ala. (Bersambung)

============================================================================================

Daftar Pustaka

[1] Edgar Morin  Tujuh Materi Penting, bagi Dunia Pendidikan, Kanisius, hal 15.

[2] Syed N. M. Naquib Al-Attas, The Concept of Education In Islam, A framework for an Islamic Philosophy of Education, Kuala Lumpur, 1999, ISTAC. Hal ix

[3] Wan Mohd Nor Wan Daud, The Educational Philosophy and Practice of Syed M Naquib Al-attas, An Exposition of The Concept of Islamization ,1998, ISTAC.

[4] Tauhid Islam bukan sebatar pernyataan dengan lisan, dan bukan juga sebatas konsep filosofis mengenai hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Ia adalah kekuataun revolusi yang dengan segala potensinya akan membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesuatu yang lain. Pengakuan hanya terhadap keesaan dan ketuhanan Allah swt semata, aka menjadikan keimanan kepada Allah swt sebagai spirit yang mengalir dan kekuatan yang mengarahkan segala perbuatan manusia, sehingga segala kreasi dan inovasi manusia yang baik dalam bidang apapun merupakan shalat yang khusyu’ di mihrab kosmos terhadap Tuhan yang menciptakan dan menjaganya.  Tauhid Islam pada dasarnya mempunyai kandungan falsafah yang istimewa karena ia menghubungkan antara manusia dengan Sang Pencipta dan juga dengan makhluk lainnya. Manusia diciptakan oleh Allah swt dan mereka adalah wakil-Nya yang ditugaskan untuk membangun alam sesuai dengan tujuan-tujuan syari’at – kontrak dan perjanjian sebagai wakil. DR. Muhammad Imarah, Manhaj Islami, hal 8-9.

[5] Muhammad Imarah, Manhaj Islami, AlGhuraba, Jakarta, 2008, hal 8

============================================================================================

DR. Amie Primarni adalah Pemerhati Pendidikan yang bekerja sebagai Dosen dan Konsultan Pendidikan