Maskun Iskandar

Kok, Memengaruhi?
Enakan Mempengaruhi!


Oleh
Maskun Iskandar

Mengapa memengaruhi bukan mempengaruhi?
Mengapa mematahkan bukan mempatahkan? Memutuskan bukan memputuskan.
Akan tetapi, mengapa memperhatikan bukan memerhatikan? Mengapa mempunyai bukan memunyai?
Apa beda mencuci dan menyuci?
Mengapa menyontek, bukan mencontek?

 Tanya:

Aku seneng tulisan tentang cara menulis kolom yang kutunggu-tunggu, akhirnya muncul juga. Terima kasih, Pak!

Cuma ada yang ganjel: kok, judulnya Memengaruhi Opini Publik. Bukan apa-apa, memengaruhi itu gak enak aja kedengarannya. Enakan mempengaruhi!

Indah
Jakarta

Jawab:

Terima kasih Indah atas surat Anda.

Seri Mengasah Bakat Menulis ke-18 dan 19 memang berjudul “Memengaruhi Opini Publik Melalui Kolom”. Mengapa saya menggunakan kata “memengaruhi”, bukan “mempengaruhi”? Begini masalahnya:

Dulu, ketika kita sekolah, guru mengatakan bahwa kata dasar yang berhuruf pertama “k”, “p”, “t”, dan “s” luluh, apabila  diberi awalan “me”.  Contoh:

  • putus => memutuskan,
  • patah => mematahkan,

Mengikuti aturan itu, maka

  • pengaruh  => memengaruhi,
  • konsumsi => mengonsumsi
  • komunikasi => mengomunikasikan
  • tinju => meninju
  • terjemah => menerjemahkan
  • tabrak  => menabrak
  • sisir => menyisir

Yang kadang dipertukarkan adalah kata turunan menyuci dan mencuci. Manakah yang benar:

=>Siti Nurbaya menyuci baju di sungai.

ataukah

=>Siti Nurbaya mencuci baju di sungai.

Dari kata suci menjadi menyuci. Artinya bersih (dari najis), bebas dari dosa. Dengan demikian, tidak cocok dengan kalimat, “Siti Nurbaya menyuci baju di sungai”.

Dari kata cuci menjadi mencuci. Artinya membersihkan sesuatu dengan air. Dengan demkikian, yang benar: Siti Nurbaya mencuci baju di sungai.

Mencontek atau menyontek

Yang juga sering dipertukarkan adalah menyontek dan mencontek. Menurut Anda, manakah yang benar:

=>Para peserta ujian dilarang mencontek.

atau

=>Para peserta ujian dilarang menyontek.

Bila Anda memilih mencontek, itu berarti kata dasar yang Anda pilih adalah contek. Jika menyontek, berarti kata dasarnya sontek. Manakah kata dasar yang benar?

Lihatlah kamus. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia—jangan kaget—kata dasar itu sontek, bukan contek.

http://www.google.co.id/imgres?q=contekan&um=1&hl=id&sa=N&biw=1024&bih=581&tbm=isch&tbnid=Fnyfe687O1IcbM:&imgrefurl=http://www.waw

=>Mengapa memperhatikan bukan memerhatikan?
=>Mengapa memercayakan, bukan mempercayakan?

Dulu, bahkan sampai sekarang, ada yang menulis memperhatikan dan ada pula yang menulis memerhatikan. Pasalnya, dalam kamus ada dua kata dasar “hati” dan “perhati”.  Dari kata “hati” turunlah kata hati-hati, sehati, kehati-hatian, dan seterusnya. Dari kata “hati” pula turun kata “memperhatikan”. Dari kata “perhati” turunlah kata perhatikan, teperhatikan, dan lain-lain. Selain itu juga muncul kata “memerhatikan”.

Mengapa memperhatikan? Kata dasar hati. Diberi imbuhan per dan kan. Jadi, perhatikan. Awalan per tidak luluh apabila diberi awalan me. Misalnya, main diberi imbuhan per dan kan menjadi permainkan. Jika diberi lagi awalan me menjadi mempermainkan bukan memermainkan.  Peroleh è memperoleh; peristri è memperistri; persulit è mempersulit; perbaiki è memperbaiki. Demikian juga  me +  per + hati +kan menjadi  memperhatikan.

Lalu, dari mana datangnya memerhatikan. La, itu tadi dari kata perhati. Per di sini tidak dianggap sebagai awalan karena perhati merupakan kata bentukan dari kata hati. Dengan demikian, p luluh sewaktu diberi awalan me, sehingga menjadi  memerhatikan.

Kata memperhatikan dan memerhatikan lama menjadi perdebatan ramai di kalangan pencinta bahasa. Yang satu mempertahankan hati sebagai kata dasar, yang lain perhati. Setelah lama dirundingkan, akhirnya kata perhati dicabut sebagai kata dasar pada Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi keempat tahun 2008. Di kamus edisi terakhir itu perhati dimasukkan sebagai turunan dari hati yang diberi awalan per. Awalan per tidak luluh jika diberi awalan me, sehingga yang benar itu memperhatikan bukan memerhatikan.

Nah, sekarang bagaimana dengan memercayakan dan memercayakan. Mengapa memercayakan bukan mempercayakan?

Asal kata memercayakan adalah percaya. Per di sini bukan awalan, sehingga bila diberi awalan me menjadi luluh. Ini sama dengan kata dasar serupa itu: perinci, perintah, perlu, persekot, perkosa, dan percik.  Perinci menjadi memerinci; perintah è memerintah; perlu è memerlukan, persekot è memersekoti; perkosa è memerkosa, dan percik è memerciki. Contoh lain: memidana memadukan, memahami, memajang mengepak, memakai, memaksa, memaku, memanah, memancarkan. Demikian pula halnya dengan percaya menjadi memercayai. 

Ada yang berpendapat bahwa kata “percaya”, “perkosa”, “perdata”, “persekot” dan semacamnya berasal dari kata asing. Istilah asing, katanya, tidak luluh bila diberi awalan “me”, sehingga menjadi “mempercayai”, “memperkosa”, “memperdatakan”, “mempersekoti”.

“Pikir” itu sudah mengindonesia

Menurut saya, alangkah sukar jika kita harus membedakan berdasarkan kata asli dan asing. Ada banyak sekali kata asing yang sudah mengindonesia dan kadang-kadang kita tidak merasakan keasingannya. Umpamanya kata “paham” dan “pikir” sudah sangat mengindonesia, sehingga penulisannya pun bukan “faham” atau “fikir”, melainkan “paham” dan “pikir”. Coba, apakah kata “pihak” asli Indonesia atau impor? Begitu pula halnya dengan kata “punya”.

http://www.google.co.id/imgres?q=pikir&start=149&um=1&hl=id&biw=1024&bih=653&tbm=isch&tbnid=WTUIv3KYtQSXFM:&imgrefurl=http://kisahkis

Berkenaan dengan kata “punya”, pernah suatu surat kabar mengampanyekan bentukan memunyai, bukan mempunyai.  “Memang enggak enak kedengarannya, tapi masalahnya bukan enak gak enak.  Kalau kaidah sudah menentukan bahwa ‘p’ harus luluh, mengapa kita tidak konsekuen menaatinya?” kata pimpinan koran tersebut.

Berbulan-bulan kata “memunyai” beredar di surat kabar itu. Lalu, diadakanlah diskusi di kalangan pencinta bahasa. Diskusi  tersebut menyimpulkan bahwa “punya” berasal dari kata dasar “empu”. “Empu” artinya hulu atau kepala, misalnya, empu atau ibu jari.  Dari kata “empu” turunlah kata “empuan” yang kemudian menjadi perempuan, “engku” atau “tengku” (istri raja), “empunya” (tuannya atau pemiliknya).

Terlihat bahwa “punya” itu berasal dari “empunya” dan dari sinilah turun kata  “mempunyai”. Jadi, berdasarkan asalnya itu “empunya”,  “p” tidak luluh, sehingga bukan memunyai, melainkan mempunyai.    Akan tetapi, di kamus kata “punya” tetap diperlakukan sebagai kata dasar, di samping empunya.

Bagaimana halnya dengan kata dasar yang berkonsonan rangkap? Huruf mati seperti itu umumnya berasal dari bahasa asing. Misalnya: proklamasi, produksi, proses, transfer, transkrip, klasifikasi, klakson, kristal, kritik, khayal, khawatir,  khitan, khianat, syarat, syukur, syahadat, stabil,  stok. Apabila diberi awalan me kata-kata tersebut tidak luluh. Misalnya, memproklamasikan (bukan memroklamasikan),   memproduksi, memproses, mentransfer, mentranskrip, mengklasifikasi, mengklakson, mengkristal, mengkritik, mengkhayal, mengkhawatirkan,  mengkhitan, mengkhianati, mensyaratkan, mensyukuri, mensyahadatkan, menstabilkan,  menstok.

Jadi, begitulah. Masalahnya bukan soal enak atau tak enak kedengarannya, melainkan demikianlah peraturannya.