Azhmy F Mahyddin

Oleh Azhmy F Mahyddin

Selaku seorang Guru SMA, Tresnowati mengadakan kuis –sebagai penyegar pikiran– ke para siswanya di kelas. Tema yang diambilnya adalah ‘Arti Demokrasi,’ dan siswa boleh menjawab dengan pernyataan singkat maupun karangan bebas. Waktu yang diberikan hanya 20 menit, dan setelah itu sisa dari satu jam pelajaran digunakan untuk mendiskusikannya.

Ternyata, hampir sebagian besar siswa mengaitkan dengan aneka isu yang kini tengah menghangat di media massa. Terbanyak adalah pendapat siswa yang mengaitkan dengan suasana perekonomian, mungkin lantaran Tres mengajar bidang ekonomi. Misalnya ada yang mengatakan, demokrasi ekonomi yang sehat adalah apabila pelaku ekonomi pribumi –terutama petani produsen maupun pengusaha menengah bawah hingga pemilik warung kelontong dan kaki lima– diberi kesempatan, akses dan perlindungan yang lebih besar oleh pemerintah untuk menjalankan usahanya dibanding para penanam modal asing maupun pengusaha besar pribumi yang didukung modal asing.

Mereka menjelaskan alasannya, betapa perekonomian kita sesungguhnya sangat terpuruk. Berbeda dengan angka-angka dalam laporan tentang indeks laju pertumbuhan yang membahagiakan, karena dinyatakan masih meningkat. Betapa kasihannya para petani selaku produsen, karena beras, gula, bahkan hingga garam yang dijual di pasaran merupakan barang impor dari negeri tetangga. Betapa kasihannya para penjual di pasar tradisional, warung rumahan, apalagi kaki lima, karena mereka terus didesak minimarket hingga hypermarket yang menjual aneka kebutuhan secara one stop shopping.

Apakah perlu ada politik dumping, seperti Jepang, untuk menyelematkannya? Begitu penutup pada jawaban salah satu siswa.

*******

Tidak sedikit pula siswa yang mengaitkannya dengan masalah politik. Demokrasi adalah apabila suara rakyat didengar, diperhatikan dan dilaksanakan dalam berbagai kebijakan yang memihak rakyat secara langsung, tanpa perlu diwakilkan oleh para anggota Dewan Terhormat. Karena terbukti dalam banyak kasus, suara yang diwakilkan bukan kepentingan rakyat, melainkan berasal dari segelintir orang dan kelompok yang memiliki kepentingan tertentu. Reformasi, kata mereka, kini sudah kehilangan nurani.

Betapa carut marutnya kondisi negeri ini, malah seorang siswa mengutip pendapat pengacara terkemuka, Adnan Buyung Nasution, dari sebuah media massa Jakarta. “Kalau ditanya soal keadaan bangsa, harus saya katakan saat ini kita gundah gulana. Mau dibawa kemana bangsa ini kalau terus begini. Setiap orang mengatakan makin lama makin parah,” ujar Buyung dari atas mimbar, saat memberikan sambutan pada peluncuran bukunya berjudul ‘Nasihat untuk SBY’, di Hotel Pullman, Jakarta, Jumat (25/5/2012).

Ah, apakah ini juga merupakan kekhawatiran masa depan para siswaku? Tres pun jadi ikut merenung.

*******

Yang tak kalah menarik, terdapat beberapa siswa yang membahas ‘Arti Demokrasi’ dengan dihubungkan pada rencana konser Lady Gaga di Indonesia. Penolakan pemberian izin konser oleh Kapolda Metro Jaya, ditafsirkan bermacam-macam. Ada segelintir orang yang menduga akibat tekanan beberapa ormas Islam, padahal Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia dan sebagian besar masyarakat Indonesia dari berbagai agama, suku dan wilayah juga tidak menyetujui kedatangan Lady Gaga. Sebab di hati kecil setiap manusia, masih terdapat nilai-nilai moral yang hakiki. Demikian diungkapkan salah seorang siswa, dengan sangat menyentuh hati.

Kelompok yang menyetujui dan menginginkan kehadiran Lady Gaga, kemudian mengusulkan adanya diskusi atas nama demokrasi. Demokrasi dalam pengertian seperti apa yang dimaksudkan? Bukankah kepentingan individu selalu dibatasi oleh kepentingan individu lain? Apalagi bila terdapat kepentingan yang lebih besar, moral anak-anak bangsa selaku generasi penerus. Haruskan budi pekerti anak-anak bangsa dikorbankan terus-menerus, bila kemudian konser diizinkan karena ulah mereka yang berpandangan sempit?

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam Al-Qur’an, “Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka (sebenarnya) tidak menyesatkan, melainkan untuk dirinya sendiri dan mereka tidak menyadarinya. Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu mengetahui (kebenarannya)? Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang bathil dan menyembunyikan (kebenaran), padahal kamu mengetahui?[QS. Ali Imran: 69-71].

Syukurlah, akhirnya Lady Gaga dengan resmi membatalkan konsernya di Jakarta, seperti dilansir AFP, Kamis (24/5/2012).