(leviyamani.blogspot.com)

Oleh Siti Tatmainul Qulub
(Ketua Komunitas Falak Perempuan Indonesia (KFPI) Pusat)

Bila kita biasa mengenal hari-hari besar seperti hari raya Idul Adha, hari raya Idul Fitri, dan hari-hari besar lain, ada satu hari lagi yang perlu dirayakan umat Islam yaitu hari kiblat dunia atau dikenal dengan hari “Rashdul Kiblat” (Yaumu Rashdul Kiblat). Hari Rashdul Kiblat adalah hari ketika posisi matahari tepat berada di atas Ka’bah.

Hari-hari besar biasanya diperingati setiap satu tahun sekali, berbeda dengan hari Rashdul Kiblat yang datang dua kali dalam satu tahun. Yaitu pada tanggal 27/28 Mei pukul 16.18 WIB dan tanggal 15/16 Juli pukul 16.28 WIB. Pada dua waktu tersebut, setiap bayangan benda yang tegak lurus di atas permukaan bumi yang mendapat sinar matahari akan menghadap ke arah Ka’bah.

Hari besar ini banyak ditunggu-tunggu masyarakat yang ingin mengecek kembali arah kiblat masjid dan mushala mereka. Selain tergolong murah dan mudah, metode ini termasuk metode tradisional yang keakuratannya dapat dipertanggungjawabkan. Bila dibandingkan dengan kompas, rubu’ mujayyab dan berbagai metode penentuan arah kiblat yang lain, metode rashdul kiblat jauh lebih akurat. Hasilnya dapat disejajarkan dengan hasil penentuan arah kiblat dengan alat canggih seperti theodolit.

(pppmajalengka.wordpress.com)

Harus Dikoreksi

Bila melihat pada zaman Nabi dahulu, penentuan arah kiblat memang tidak menjadi permasalahan. Karena umat Islam masih berada di sekitar Makkah saja, sehingga mudah untuk menghadap ke Ka’bah. Namun untuk zaman sekarang, umat Islam telah tersebar ke seluruh penjuru dunia, sehingga menentukan arah kiblat bagi orang yang jauh dari Ka’bah menjadi hal yang penting untuk dibahas. Terlebih mengingat menghadap ke arah kiblat, merupakan salah satu syarat sahnya shalat.

Di Indonesia, masih banyak ditemukan arah kiblat masjid dan mushala yang belum tepat. Salah satu faktor yang menyebabkan tidak tepatnya arah kiblat adalah teori perhitungan dan metode pengukuran arah kiblat yang digunakan tidak akurat. Banyak masjid kuno yang arah kiblatnya ditemukan tidak tepat, karena pada saat itu metode pengukuran yang digunakan masih sederhana, seperti hanya menggunakan kompas atau kira-kira saja. Kompas tidak dapat digunakan sebagai penunjuk arah kiblat, karena arah utara yang ditunjukkan bukan arah utara sejati, namun arah utara magnetik. Di samping itu kompas terganggu oleh medan magnet di sekitarnya, sehingga harus dikoreksi dengan deklinasi magnetik.

Saat ini, ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sangat maju. Menghadap ke bangunan Ka’bah, bukan lagi menjadi hal yang sulit dilakukan. Banyak metode dan alat yang dapat digunakan untuk menentukan arah menuju Ka’bah yang akurat, seperti menggunakan alat theodolit dan GPS, software-software arah kiblat seperti Qibla locator, Qibla direction, Google earth, dan sebagainya. Teknologi kini telah mampu menjadi sarana penyempurna dalam pelaksanaan ibadah, sehingga keyakinan dan kemantapan dalam beribadah dapat terbangun.

Namun sayangnya, tidak banyak yang ahli dalam pengukuran arah kiblat dengan metode-metode di atas, sehingga pengukuran dan pengecekan arah kiblat tidak banyak dilakukan langsung oleh masyarakat. Namun tidak perlu khawatir, dengan adanya hari rashdul kiblat, masyarakat dapat mengecek arah kiblat masjid dan mushallanya masing-masing agar dapat tepat menghadap ke arah Ka’bah.

Perhitungan arah kiblat (voa-islam.com)

Cara Pengukuran Kiblat

Metode rashdul kiblat pada dasarnya adalah menentukan posisi matahari ketika berada di atas Ka’bah. Ketika itu, deklinasi matahari sama atau mendekati lintang Ka’bah, sehingga pada saat itu seluruh bayangan benda yang tegak lurus di permukaan bumi akan menghadap ke arah Ka’bah. Posisi matahari yang seperti ini biasa disebut dengan istiwa’ a’dzom. Sebenarnya rashdul kiblat juga dapat dihitung setiap harinya dengan mengetahui deklinasi matahari. Hanya saja, rashdul kiblat harian ini memperkirakan ketika posisi matahari berada di jalur yang menghubungkan antara tempat tersebut dan Ka’bah, sehingga jam rashdul kiblat harian berubah setiap harinya.

Untuk dapat mengaplikasikan rashdul kiblat dalam pengukuran masjid atau mushalla, kita hanya cukup mempersiapkan sebuah tongkat yang lurus yang diberdirikan di sisi masjid atau mushalla yang terkena sinar matahari pada tanggal 27/28 Mei. Ketika jam telah menunjukkan waktu yang tepat dengan jam rashdul kiblat yaitu pukul 16.18 WIB, pukul 17.18 WITA dan pukul 18.18 WIT, tandai bayangan tongkat. Bayangan tersebut adalah arah kiblat.

Yang perlu diperhatikan ketika menggunakan tongkat, tempat berdiri tongkat harus benar-benar datar, dapat diukur dengan waterpass. Selain itu, jam yang digunakan juga harus akurat, dapat menggunakan GPS atau mencocokkan dengan jam RRI atau TVRI. Selain menggunakan tongkat, dapat pula dengan menggantungkan benang di atas tembok yang diberi beban di bawahnya (bandul).

Dengan cara yang mudah ini, kita dapat menentukan dan mengecek kembali arah kiblat masjid dan mushalla kita untuk menyempurnakan ibadah. Bila kita mampu berusaha untuk mendapatkan arah kiblat yang tepat, mengapa tidak kita gunakan demi keyakinan dan kemantapan ibadah kita bersama. Mari kita peringati hari besar penentuan arah kiblat ini dengan meluruskan kiblat kita. (Tri Hatma Ningsih)

(Dikutip dari: Surya Cetak)