Emha Ainun Nadjib

Oleh Emha Ainun Nadjib

Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid.

Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.

Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya,” berkata Pak Kiai kepada santri pertama, “apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?

Agama,” jawab santri pertama.

Berapa jumlahnya?

Satu.

Tidak dua atau tiga?

(noormacinta.blogspot.com)

Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan.

*******

Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, “Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?

Islam.

Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?

Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda.

Kenapa kau katakan demikian?

Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam.

Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?

Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia.

*******

Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. “Allah mengajari Adam nama benda-benda,” katanya, “bahasa apa yang digunakan?

Dijawab oleh santri ketiga, “Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebaga bahasa Al-Qur’an.

Bagaimana membuktikan hal itu?

Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh, sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam.

Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?

Pertama, dengan keyakinan iman. Kedua, dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah.

Maksudmu, Nak?

Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur’an. Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur’an lah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi.

*******

(radenfaletehan.wordpress.com)

Temanmu tadi mengatakan,” berkata Pak Kiai selanjutnya kepada santri keempat, “bahwa Allah hanya menurunkan satu agama. Bagaimana engkau menjelaskan hal itu?

Agama Islam dihadirkan sebagaimana bayi dilahirkan,” jawab santri keempat, “Tidak langsung dewasa, tua atau matang, melainkan melalui tahap-tahap atau proses pertumbuhan.

Apa jawabmu terhadap pertanyaan tentang adanya berbagai agama, selain Islam?”

Itu anggapan kebudayaan atau anggapan politik, bukan anggapan akidah.

Apakah itu berarti engkau tak mengakui eksistensi agama-agama lain?

Aku mengakui nilai-nilai yang termuat dalam yang disebut agama-agama itu –sebelum dimanipulasikan– sebab nilai-nilai itu adalah Islam jua adanya pada tahap tertentu, yakni sebelum disermpurnakan oleh Allah melalui Muhammad rasul pamungkasNya. Bahwa kemudian berita-berita Islam sebelum Muhammad itu dilembagakan menjadi sesuatu yang disebut agama –dengan, ternyata, berbagai penyesuaian, penambahan atau pengurangan– sebenarnya yang terjadi adalah pengorganisasian. Itu bukan agama Allah, melainkan rekayasa manusia.

*******

Pak Kiai menatapkan matanya tajam-tajam ke wajah santri kelima sambil bertanya, “Agama apakah yang dipeluk oleh orang-orang beriman sebelum Muhammad?

Islam, Kiai.

Apa agama Ibrahim?

Islam.

Apa agama Musa?

“Islam.

Dan agama Isa?

Islam.

Sudah bernama Islamkah ketika itu?

(sunangunungdjati.com)

Tidak mungkin, demikian kemauan Allah, ada nama atau kata selain Islam yang sanggup mewakili kandungan-kandungan nilai petunjuk Allah. Islam dan kandungannya tak bisa dipisahkan, sebagaimana api dengan panas atau es dengan dingin. Karena ia Islam, maka demikianlah kandungan nilainya. Karena demikian kandungan nilainya, maka Islam lah namanya. Itu berlaku baik tatkala pengetahuan manusia telah mengenal Islam atau belum.

*******

Maka apakah gerangan arti yang paling inti dari Islam?” Pak Kiai langsung menggeser pertanyaan kepada santri keenam.

Membebaskan,” jawab santri itu.

Pakailah kata yang lebih memuat kelembutan!

Menyelematkan, Kiai.

Siapa yang menyelamatkan, siapa yang diselamatkan, serta dari apa dan menuju apa proses penyelamatan atau pembebasan itu dilakukan?

Allah menyelamatkan manusia, diaparati oleh para khulafa’ atas bimbingan para awliya dan anbiya. Adapun sumber dan tujuannya ialah membebaskan manusia dari kemungkinan tak selamat kembali ke Allah. Manusia berasal dari Allah dan sepenuhnya milik Allah, sehingga Islam –sistem nilai hasil karya Allah yang dahsyat itu– dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari cengkeraman sesuatu yang bukan Allah.

Apa sebab agama anugerah Allah itu tak bernama Salam, misalnya?

Salam ialah keselamatan atau kebebasan. Itu kata benda. Sesuatu yang sudah jadi dan tertentu. Sedangkan Islam itu kata kerja. Berislam ialah beramal, berupaya, merekayasa segala sesuatu dalam kehidupan ini agar membawa manusia kepada keselamatan di sisi Allah.”  (bersambung)

(Dikutip dari: PmBNet Documentation)