(yudiyustinuralamsyah.
blogspot.com)

Oleh Dewan Asatidz

Sekarang kita telah memasuki separuh lebih bulan Rajab, yang pada akhir bulan ini kita sebagai muslim telah diingatkan kembali peristiwa besar dalam sejarah umat Islam. Sebuah peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah hidup (siirah) Rasulullah saw, yaitu diperjalankannya beliau (isra) dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Jerusalem, lalu dilanjutkan dengan perjalanan vertikal (mi’raj) dari Qubbah As Sakhrah menuju ke Sidrat al Muntaha (akhir penggapaian). Peristiwa ini terjadi antara 16-12 bulan sebelum Rasulullah SAW diperintahkan melakukan hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Allah SWT mengisahkan peristiwa agung ini di QS. Al-Isra (dikenal juga dengan nama Surah Bani Israil) ayat pertama:

  سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Artinya; Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu (potongan) malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat“.

Lalu apa pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan Isra wal Mi’raj ini? Barangkali catatan ringan berikut dapat memotivasi kita, untuk lebih jauh dan sungguh-sungguh menangkap pelajaran yang seharusnya kita tangkap dari perjalanan agung tersebut:

Pertama: Konteks situasi terjadinya

(contohnaskah.com)

Kita kenal, Isra’ wal Mi’raj terjadi sekitar setahun sebelum Hijrah-nya Rasulullah saw ke Madinah (Yatsrib ketika itu). Ketika itu, Rasulullah saw dalam situasi yang sangat ‘sumpek’, seolah tiada celah harapan masa depan bagi agama ini. Selang beberapa masa sebelumnya, isteri tercinta Khadijah ra. dan paman yang menjadi dinding kasat dari penjuangan meninggal dunia. Sementara tekanan fisik maupun psikologis dari kafir Qurays terhadap perjuangan semakin berat. Rasulullah seolah kehilangan pegangan, kehilangan arah, dan kini pandangan itu berkunang-kunang tiada jelas.

Dalam sitausi seperti inilah, rupanya rahmah Allah meliputi segalanya, mengalahkan dan menundukkan segala sesuatunya. ‘warahamatii wasi’at kulla syari‘, demikian Allah deklarasikan dalam KitabNya. Beliau di suatu malam merintih kepedihan, mengenang kegetiran dan kepahitan langkah perjuangan, tiba-tiba diajak oleh Pemilik kesenangan dan kegetiran untuk ‘berjalan-jalan’ (saraa) menelusuri napak tilas ‘perjuangan’ para Nabi sebelumnya. Bahkan dibawa melihat langsung kebesaran singgasana Ilahiyah di Sidratul Muntaha. Sungguh sebuah ‘penyejuk’ yang menyiram keganasan kobaran api permusuhan kaum kafir. Dan kinilah masanya bagi Rasulullah saw untuk kembali ‘menenangkan’ jiwa, memantapkan tekad menyingsingkan lengan baju untuk melangkah menuju ke depan.

Artinya, bahwa kita adalah ‘rasul-rasul’ dari Rasulullah saw dalam melanjutkan perjuangan ini. Betapa terkadang, di tengah perjalanan kita temukan tantangan dan penentangan yang menyesakkan dada, bahkan mengaburkan pandangan objektif dalam melangkahkan kaki ke arah tujuan. Jikalau hal ini terjadi, maka tetaplah yakin, Allah akan meraih tangan kita, mengajak kita kepada ‘perjalanan’ yang menyejukkan. “Allahu Waliyyulladziina aamanu (Sungguh Allah itu adalah Wali-nya mereka yang betul-betul beriman)”. Wali yang bertanggung jawab memenuhi segala keperluan dan kebutuhan.

Perjalanan Suci
(bang-zaim.blogspot.com)

Kesumpekan dan kesempitan sebagai akibat dari penentangan dan rintangan mereka yang tidak senang dengan kebenaran, akan diselesaikan dengan cara dan metode yang hanya Allah Maha Tahu. Yang terpenting bagi seorang pejuang adalah maju tak gentar, sekali mendayung pantang mundur. Konsistensi memang harus menjadi karakter dasar bagi seorang pejuang di jalanNya. “Wa laa tawasuu min rahmatillah (Jangan sekali-kali berputus asa dari rahmat Allah)”.

Kedua: Pensucian Hati

Disebutkan sebelum dibawa Jibril, beliau dibaringkan lalu dibelah dadanya, kemudian hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Apakah hati Rasulullah kotor? Pernahkan Rasulullah saw berbuat dosa? Apakah Rasulullah punya penyakit dendam, dengki, iri hati, atau berbagai penyakit hati lainnya? Tidak, sungguh mati, tidak. Beliau hamba yang ma’shuum (terjaga dari berbuat dosa). Lalu apa signifikasi dari pensucian hatinya?

Rasulullah adalah sosok uswah, pribadi yang hadir di tengah-tengah umat tidak saja sebagai muballigh (penyampai), melainkan sosok pribadi unggulan yang harus menjadi percontohan bagi semua yang mengaku pengikutnya. “Laqad kaana lakum fi Rasulillahi uswah hasanah“.

Memang betul, sebelum melakukan perjalanannya, haruslah dibersihkan hatinya. Sungguh, kita semua sedang dalam perjalanan. Perjalanan “suci” yang seharusnya dibangun dalam suasa “ke-fitrah-an”. Berjalan dariNya dan juga menuju kepadaNya. Dalam perjalanan ini, diperlukan lentera, cahaya, atau petunjuk agar selamat menempuhnya. Dan hati yang intinya sebagai nurani, itulah lentera perjalanan hidup.

Cahaya ini berpusat pada hati seseorang yang ternyata juga dilengkapi oleh gesekan-gesekan ‘karat’ kehidupan (fa alhamaha fujuuraha). Semakin kuat gesekan karat, semakin jauh pula dari warna yang sesungguhnya (taqawaaha). Dan oleh karenanya, di setiap saat dan kesempatan diperlukan pembersihan, diperlukan air zamzam untuk membasuh kotoran-kotoran hati yang melekat. Hanya dengan itu, hati akan bersinar tajam menerangi kegelapan hidup. Dan sungguh hati inilah yang kemudian ‘penentu’ baik atau tidaknya sang pemilik hati.

ألا إن في الجسد مضغة، إذا صلحت صلحت سير عمله، وإذا فسدت فسدت سير عمله.

Luka hati ternoda
(islamdaniman.blogspot.com)

Disebutkan hati manusia awalnya putih bersih, ibarat kertas putih tanpa noda sedikit pun. Namun karena kelemahan manusia saat setiap kali melakukan dosa, setiap kali pula terjatuh noda hitam yang pada gilirannya kelak menjadikan hati hitam pekat. Kalaulah saja manusia yang hatinya hitam pekat tersebut tidak sadar dan bahkan terus menambah dosa dan noda, akhirnya Allah yang akan membalik hati tersebut. Hati yang terbalik inilah, yang kemudian hanya bisa disadarkan oleh api neraka. “Khatamallahu ‘alaa quluubihim“.

Di Al-Qur’an sendiri, Allah berfirman,

” قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Artinya: “Sungguh beruntung siapa yang mensucikannya, dan sungguh buntunglah siapa yang mengotorinya“. Maka sungguh perjalanan ini hanya akan bisa menuju Ilahi dengan senantiasa membersihkan jiwa dan hati kita, sebagaimana yang telah dilakukan Rasulullah sebelum perjalanan sucinya tersebut.

Ketiga: Memilih Susu – Menolak Khamar

Ketika ditawari dua pilihan minuman, dengan sigap Rasulullah mengambil gelas yang berisikan susu. Minuman halal dan penuh manfaat bagi kesehatan. Minuman yang berkalsium tinggi, menguatkan tulang belulang. Rasulullah menolak khamar, minuman yang menginjak-injak akal, menurunkan tingkat intelektualitas ke dasar yang paling rendah. Sungguh memang pilihan yang tepat, karena pilihan ini adalah pilihan fitri.

Dengan bekal jiwa yang telah dibersihkan tadi, Rasulullah memang melanjutkan perjalanannya. Karena memang hanya ada dua alternatif di hadapan kita, kebaikan dan keburukan. Kebaikan akan selalu identik dengan manfaat, sementara keburukan akan selalu identik dengan mudharat. Seseorang yang hatinya suci, bersih dari kuman dosa dan noda kezaliman, akan sensitif untuk selalu menerima yang benar dan menolak yang salah. Bahkan hati yang bersih tadi akan merasakan ‘ketidaksenangan’ terhadap setiap kemungkaran. Lebih jauh lagi, pemiliknya akan memerangi setiap kemungkaran dengan segala daya yang dimilikinya.

Hanya satu pilihan
(asbab-hidayah.blogspot.com)

Dalam hidup ini seringkali kita dihadapkan kepada pilihan yang samar. Fitrah menjadi acuan, lentera, pedoman dalam mengayuh bahtera kehidupan menuju tujuan akhir kita (akhirat). Dan oleh karenanya, jika kita dalam melakukan pilihan dalam hidup ini ternyata seringkali terperangkap kepada pilihan yang salah, buruk lagi merugikan, maka yakinlah hal itu disebabkan tumpulnya fitrah insaniyah kita. Agaknya dalam situasi seperti ini, diperlukan asahan untuk mempertajam kembali fitrah Ilahiyah yang bersemayam dalam diri setiap insan.

Keempat: Imam Shalat Berjama’ah

Shalat adalah bentuk peribadatan tertinggi seorang Muslim, sekaligus merupakan simpol ketaatan totalitas kepada Yang Maha Pencipta. Pada shalat lah terkumpul berbagai hikmah dan makna. Shalat menjadi simbol ketaatan total dan kebaikan universal bagi seorang Muslim, yang senantiasa menjadi tujuan hidupnya.

Maka ketika Rasulullah memimpin shalat berjama’ah, dan tidak tanggung-tanggung ma’mum-nya adalah para anbiyaa (Nabi-nabi), maka sungguh hal itu merupakan pengakuan kepemimpinan dari seluruh kaum yang ada. Memang jauh sebelumnya, Musa yang menjadi pemimpin umat yang besar pada masanya. Bahkan Ibrahim, eyangnya banyak Nabi dan Rasul, menerima menjadi ma’mum Rasulullah saw. Beliau menerima dengan rela hati, karena sadar Rasulullah memang memiliki kelebihan leadership, walau secara senioritas beliaulah yang seharusnya menjadi imam.

Kempimpinan dalam shalat berjama’ah, sesungguhnya juga simbol kepemimpinan dalam segala skala kehidupan manusia. Allah menggambarkan, sekaligus mengaitkan, antara kepemimpinan shalat dan kebajikan secara menyeluruh. “Wahai orang-orang yang beriman, ruku’lah, sujudlah dan sembahlah Tuhanmu serta berbuat baiklah secara bersama-sama. Nisacaya dengan itu, kamu akan meraih keberuntungan“. Dalam situasi seperti inilah, seorang Muhammad telah membuktikan bahwa dirinya adalah pemimpin bagi seluruh pemimpin umat lainnya.

Kibarkan panji, jadilah pemimpin sejati
(waynebimo.wordpress.com)

Baghaimana dengan kita sebagai pengikut Nabi Muhammad dalam masalah ini? Masalahnya, umat Islam saat ini tidak memiliki kriteria tersebut. Kriteria imaamah atau kepemimpinan yang disebutkan dalam Al-Qur’an masih menjadi ‘tanda tanya’ besar pada kalangan umat saat ini. “Dan demikian kami jadikan di antara mereka pemimpin yang mengetahui urusan Kami, memiliki kesabaran dan ketangguhan jiwa, dan adalah mereka yakin terhadap ayat-ayat Kami“.

Kita umat Islam, yang seharusnya menjadi pemimpin umat lainnya, ternyata memang menjadi salah satu pemimpin. Sayang, kepemimpinan dunia Islam saat ini terbalik. Bukan dalam shalat berjama’ah, bukan dalam kebaikan dan kemajuan dalam kehidupan manusia, namun lebih banyak pada hal yang bersifat negatif.

Kelima: Kembali ke Bumi dengan Shalat

Perjalanan singkat yang penuh hikmah tersebut segera berakhir, dan dengan segera pula beliau kembali menuju alam kekiniannya. Rasulullah sungguh sadar, betapa pun nikmatnya berhadapan langsung dengan Yang Maha Kuasa di suatu tempat yang agung nan suci, betapa nikmat menyaksikan dan mengelilingi syurga, tapi kenyataannya beliau memiliki tanggung jawab duniawi. Untuk itu, semua kesenangan dan kenikmatan yang dirasakan malam itu harus ditinggalkan, untuk kembali ke dunia tempat beliau melanjutkan amanah perjuangan yang masih harus diembannya.

Inilah sikap seorang Muslim. Kita dituntut untuk turun ke bumi ini, dengan membawa bekal shalat yang kokoh. Shalat berintikan dzikir, dan karenanya dengan bekal dzikir inilah kita melanjutkan ayunan langkah kaki menelusuri lorong-lorong kehidupan menuju kepada ridhaNya. “Wadzkurullaha katsiira (Dan ingatlah kepada Allah banyak-banyak),’ pesan Allah kepada kita di saat kita bertebaran mencari fadhal-Nya di permukaan bumi ini. Persis seperti Rasulullah saw membawa bekal shalat 5 waktu, berjalan kembali menuju bumi setelah melakukan serangkaian perjalanan suci ke atas (Mi’raj).

(Dikutip dari: http://www.pesantrenvirtual.com/)