Pelayanan bagi Pertumbuhan Manusia

(assaadahulujami.wordpress.com)

Oleh Imron Fauzi

Pendidikan Islam seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia  secara total, melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan, dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan Islam seharusnya pelayanan bagi pertumbuhan manusia  dalam segala aspeknya, yang meliputi aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik –baik secara individu– maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek tersebut kepada kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah, baik dalam level individu, komunitas, dan manusia secara luas.

  • Menyadarkan manusia agar tidak melakukan perbuatan yang menimbulkan bencana di muka bumi, seperti permusuhan dan peperangan

Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:

Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepadaNya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.[8]

(tanbihun.com)

Sebagai akibat dari jiwa yang sakit, sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka terjadilah berbagai perbuatan dan tindakan yang merusak masyarakat, seperti mengadu domba, memfitnah, saling menipu, menyerang, menjarah, menjajah, berperang, dan sebagainya. Alam dengan segala kekayaannya dapat menjadi rusak, jika berada di tangan orang-orang yang sakit jiwanya. Yakni, orang yang tamak, serakah, boros, berlebih-lebihan, dan sebagainya. Keadaan inilah yang berhasil diubah oleh Rasulullah saw.

  • Mengangkat harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi

Hal ini sejalan dengan firman Allah berikut ini:

Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.[9]

Ayat tersebut mengingatkan bahwa manusia diciptakan dalam struktur fisik dan psikis yang lengkap dan sempurna. Manusia memiliki pancaindra yang lengkap, serasi, dan proporsional letaknya. Manusia memiliki akal (kemampuan berpikir), hati nurani, kecerdasan, bakat, minat, perasaan sosial, dan sebagainya. Dengan kelengkapan jasmani dan rohani inilah, manusia dapat mengerjakan tugas-tugas yang berat, menciptakan kebudayaan dan peradaban, menguasai daratan, lautan dan udara, dan sebagainya. Semua ini terjadi, jika berbagai potensi manusia tersebut dibina dan dikembangkan melalui pendidikan.

Tujuan Pendidikan Islam Rasulullah Saw

Manusia yang berakhlak mulia harus menjadi sasaran proses pendidikan Islam, karena itulah juga sebagai tujuan utama pendidikan Islam Rasulullah saw. Berkenaan dengan akhlak mulia sebagai tujuan pendidikan dapat dilihat dari ayat dan hadits-hadits berikut ini, “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.[10]

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”[11] Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah saw berkata, “Sesungguhnya Allah mengutusku dengan tugas membina kesempurnaan akhlak dan kebaikan pekerjaan.”[12]

Abdullah bin Amr, berkata bahwa Rasulullah saw bukan seorang yang keji dan bukan pula bersikap keji. Beliau bersabda, “Sesungguhnya yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik akhlaknya.”[13]

Menyontek, awal kerusakan akhlak (gusfudz.wordpress.com)

Berdasarkan ayat dan hadits-hadits di atas, menunjukkan dengan tegas bahwa tujuan utama pendidikan Rasulullah saw adalah memperbaiki akhlak manusia. Beliau melaksanakan tujuan tersebut, dengan cara menghiasi dirinya dengan berbagai akhlak yang mulia dan menganjurkan agar umatnya senantiasa menerapkan akhlak tersebut dalam kehidupannya sehari-hari.

Bahkan secara tegas, beliau menyatakan bahwa kualitas iman seseorang itu dapat diukur dengan akhlak yang ditampilkannya.[14] Itu berarti bahwa semakin bagus kualitas iman seseorang akan semakin baik pula akhlaknya. Dengan kata lain,  akhlak seseorang yang jelek merupakan pertanda bahwa imannya tidak bagus.

Rasulullah saw adalah perwujudan riil “Al-Qur’an yang berjalan”. Diriwayatkan oleh Muslim, bahwa ketika Aisyah ditanya tentang akhlak Rasulullah maka beliau menjawab, “Akhlak Rasulullah adalah al Qur’an.” Untuk itulah, Rasulullah diperintahkan untuk membentuk Al-Qur’an. Al-Qur’an berjalan atau manusia-manusia rabbani, yaitu manusia-manusia yang memiliki akhlak mulia berdasarkan nilai-nilai rabbaniyyah (Ketuhanan).

Rasulullah saw telah memperlihatkan akhlak yang mulia sepanjang hidupnya. Muhammad Athiyah al Abrasyi mengemukakan bahwa Nabi Muhammad saw adalah yang paling baik tingkah lakunya, pemuda yang paling bersih, manusia yang paling zuhud dalam hidupnya, hakim yang paling adil dalam memutuskan perkara, prajurit yang paling berani dalam membela kebenaran, ikutan yang terbaik bagi orang-orang saleh dan para pendidik. Pribadi beliau merupakan presentasi akhlak yang sesuai dengan Al-Qur’an.

Mukhtar Yahya berpendapat bahwa tujuan pendidikan Islam adalah memberikan pemahaman ajaran-ajaran Islam pada peserta didik dan membentuk keluhuran budi pekerti sebagaimana tujuan Rasulullah saw selaku pengemban perintah menyempurnakan akhlak manusia, untuk memenuhi kebutuhan kerja.

Bila tujuan utama Rasulullah saw adalah  menyempurnakan kemuliaan akhlak, maka proses pendidikan  seyogianya diarahkan menuju terbentuknya pribadi dan umat yang berakhlak mulia. Hal ini sesuai dengan penegasan Allah bahwa Nabi Muhammad Saw adalah teladan utama bagi umat manusia.[15] Untuk mencapai hal itu, akhlak mulia harus ditegaskan dalam formulasi tujuan pendidikan.

(gambar.mitrasites.com)

Islam sebagai agama yang seimbang, mengajarkan bahwa setiap usaha yang dilakukan manusia tidak hanya melibatkan peran manusia semata, melainkan juga melibatkan peran Tuhan. Nabi Muhammad saw menggambarkan proses pendidikan seperti sebuah kegiatan bertani.

Jika seorang petani ingin mendapatkan hasil pertanian yang baik, maka ia harus menyiapkan lahan yang subur dan gembur, udara dan cuaca yang tepat, air dan pupuk yang cukup, bibit yang unggul, cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan tanaman yang benar dan intensif, waktu dan masa tanam yang tepat dan cukup. Namun meski berbagai usaha tersebut telah dilakukan, tetapi belum dapat menjamin seratus persen bahwa hasil pertanian tersebut akan berhasil dengan baik.

Tanah yang subur dan gembur serta bibit yang unggul dapat digambarkan seperti bakat dan potensi peserta didik yang bersifat internal. Adapun cara menanam yang benar, pemeliharaan dan perawatan yang tepat dan intensif dan pemberian pupuk yang cukup, dapat digambarkan seperti usaha dan program pendidikan yang dilakukan oleh sekolah dan guru. Adapun keberhasilan pertanian menggambarkan peranan Tuhan. Dengan demikian, maka pendidikan Islam menganut paham teo-anthropo centris, yaitu memusatkan pada perpaduan antara kehendak Tuhan dan usaha manusia.

Dengan demikian, pendidikan Islam seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia  secara total, melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan, dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan Islam seharusnya pelayanan bagi pertumbuhan manusia  dalam segala aspeknya, yang meliputi aspek spiritual, intelektual, imajinasi, fisik, ilmiah, linguistik –baik secara individu– maupun secara kolektif dan memotivasi semua aspek tersebut kepada kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah, baik dalam level individu, komunitas, dan manusia secara luas. (tammat)

============================================================================================

[8] QS. Al A’raf (7): 56
[9]
QS. Al Isra’ (17): 70
[10]
QS. Al Qalam (68): 4
[11]
HR. al Baihaqi. Sunan al Baihaqi. Juz 2, 472, dalam al Maktabah al Syamilah
[12]
HR. Al Thabrani. al Mu’jam al Awsath, Juz 7, 74, dalam al Maktabah al Syamilah
[13]
Shahih al Bukhari, Juz 4, no. 2444 dan Shahih Muslim, Juz 4, no. 1810
[14]
Sesuai dengan maksud hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad (lihat Abu Daud, Juz 13: 412; Turmizi, Juz 5: 5; dan Ahmad, Juz 16: 138)
[15]
Lihat juga QS. Al Ahzab (33): 21

=============================================================================================

Judul Naskah Asli: “Visi, Misi dan Tujuan Pendidikan Rasulullah saw”

(Dikutip dari: http://mahluktermulia.wordpress.com/2011/08/04/552/)

Iklan