Uki Bayu Sedjati

belum menjadi

1

mengapa menghitung tahun
sedangkan tahun menghimpun bulan
mengapa menunggu bulan
padahal hari-hari selalu berjalan
dari jam
dari menit
dari detik
pernah kau hitung berapa nafasmu ?

2

merasa tubuh bertumbuh
benarkah terkuasai penuh menyeluruh ?
merasa ada
kerna dielus mulus
kerna dicubit sakit
kerna otak, organ-organ, dalam jaringan urat
disebut jasmani
merasa tubuh berkembang
lantas cermin menjadi tumpuan
pernahkah tahu berapa lembar jumlah rambut sekujur badan?
tak usah dihitung, cukup beri alasan mengapa kecepatan tumbuh rambut di kepala beda dengan di alis, beda di hidung di kumis di janggut, beda di..
”mengapa?”  tak mudah menjawab
walau putaran siklikal lambat dan lembut
”bagaimana, kapan?” pertanyaan berulang dalam lingkaran
”apa?” tunjuknya pada tubuh,
benarkah terjawab di kaca padahal hanya pantulan
”di mana?” bertanya ke sekeliling, yang tampak mahluk juga
”siapa?”
jika jasmani sekedar wujud materi
tak ada peradaban, bahkan sejak Adam diturunkan

3

wujud terpantul di cermin jika ada cahaya
tanpa cahaya gelap semata. Cahaya? apa, di mana, mengapa, bagaimana..?
nur dalam diri bening terpelihara – murni bersenyawa dengan rohani
sinar semburat menjadikan wujud tampak, meski
tak ada kata yang sanggup menafsirnya
jika ada tanya ”siapa kamu?”
menunduklah karena malu, dan bersabarlah
sebaik-baik jawaban,”maaf, aku belum menjadi aku! Belum menjadi..”

(pamulang, 25 mei 2012)

tanya jawab

ada wasiat makam keramat di pesisir
ada juga maksiat, siapa mereka
(dalam merenung coba kukurung
rasa murung, penuh bingung : ngungun)
gelombang kotor melahap massa
hati kotor di kotapraja, siapa punya

(dalam gelap ada yang megap-megap
yang lelap, gagap, tertelan : lindap
)
hancur pasar orang-orang kesasar
pejabat dan penjahat blingsatan, mana dia
(sliweran kabar tersiar harapan pudar
yang gusar bisa nanar jadi onar: runyam
)

(Januari 2005)

sembilu

miskin papa melata di ini negeri
mata sayu mengiris qalbu
pemimpin-pemimpin melengos pergi
kecuali qalbunya disayat runcing bambu

dwiwarna

hujan mengguyur bendera
merahnya luntur mendarahi putihnya
selalu saja
kita balik saja putih di atas merah
supaya tak lagi dinodai darah
tapi,
putih masihkah suci?

O

awan
di alam raya
ada wujud tak teraba
manusia
di alam fana
wujud ada teraba
ruh
di alam baka
senyawa di dalamNya

Ahad

ketika menyebut tuhan
begitu banyak saingan
yang dipertuhankan
yang mempertuhankan
yang tak bertuhan
yang menuhankan diri
maka teruslah
lafaz seia sekata, hanya :
lailahailallah

debu di sajadahku

(alunan monggang bunyi satu-satu…..ning
nong
ning..)

menjelajah jejak masa kecil
:
yudonegaran, plengkung, bioskop Ratih
batubata berlumut di rengkahan tembok
julur-julur akar menggantung-gantung harapan
wringin kurung – sejoli – tak sampai
rerumputan kering
yogya berpasir matahari menyengat
di ujung kenangan kubah menjulang
kutujukan langkah
memintas alun-alun ke satu arah
sejuk, kaki mencelup air
wadag dan wajah di bening kolam bergerak-gerak
pilar-pilar yang pernah kusentuh warnanya kusam
berbaur warna-warni pakaian jamaah pelosok negeri
(terlena di beranda masjidMu,
mestikah ijin menjenguk mihrab, dan
masihkah sujud Kau terima
sedangkan debu di sajadah tak mampu kusapu)
sementara di pelataran
marbot tua tertatih-tatih setia menyapu
bayang-bayangnya sendiri
begitu banyak yang belum terjamah meski tiap hari ada dakwah
(alunan monggang satu-satu…..ning nong
ning..)
gema indah ditingkah pesta sekaten
ketipak kuda menggeret andong
jamaah menyulap lampu-lampu
musik menilap doa-doa
jadi remah di tembolok ingkung, jadi rebutan
jadi kerikil berhamburan
semangatku terbang mencari-cari
                        (alunan monggang satu-satu : ning nong ning..)
gung..

dalam qalbu
dalam sujud aku bukan apa bukan siapa aku tak ada
lebur menyatu
cuma :
debu

(Kauman, Yogya, 2004)

 Uki Bayu Sedjati, lahir di Yogya, kiprahnya diwarnai pendidikan sosial-politik, teater, sastra, sempat jadi wartawan,  juga di ranah audio-visual : iklan-company profile-dokumenter, biografi, di Jakarta sampai sekarang.