(adhistacinta.blogspot.com)

Oleh  Ade Chandra*

Bulan Rajab yang di dalamnya ada momentum Isra’ Mi’raj, merupakan pintu menuju bulan-bulan mulia lainnya. Yaitu, bulan Sya’ban dan Ramadhan. Mulailah sejak saat ini kita berdoa, agar kita tetap hidup dan masih dapat melaksanakan sebanyak-banyaknya ibadah dibulan utama seperti bulan Ramadhan. Bersiap agar perbekalan kita untuk pulang kembali pada Allah SWT benar-benar cukup, untuk menyelamatkan hidup kita dunia dan akhirat. Maka, kiranya perlu kita gali secara mendalam hikmah luar biasa momentum Isra’ Mi’raj yang dirangkai dalam sembilan kata yaitu: (1) Islam, (2) Shalat, (3) Riadhus Shalihin, (4) Al-Qur’an, (5) Masjid, (6) Ihsan, (7) Rahmah, (8) Amal,  dan (9) Jannah.

1. Kenapa Kita Islam?

Dalam hidup ini, tidak ada ajaran apapun didunia ini yang luar biasa menyampaikan dengan jelas dan terang tentang Islam. Islam adalah ajaran yang dibangun dengan pondasi dua kalimah syahadat yang mengakui sepenuh hati bahwa tiada yang berhak untuk disembah kecuali hanya Allah semata dan untuk itu kita mengakui bahwa Muhammad adalah Rasul Allah yang dengan keteladanannya kita memiliki contoh nyata dalam seluruh aspek kehidupan untuk meraih keselamatan hidup didunia dan akhirat.

Hai orang-orang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 205)

(chaliim.wordpress.com)

Islam adalah ibadah dan negara, perdamaian dan akhlak, politik dan ekonomi, kilatan pedang dan Al-Qur’an. Tidak ada yang tidak diatur dalam Islam. Keseluruhan ajaran islam bersifat integral dan saling berkaitan satu dan lainnya. Islam juga merupakan ajaran yang hanya diakui oleh Allah SWT. Selainnya tidak diterima dan tidak pernah ada paksaan untuk mengikutinya.

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali Imran : 19). “Barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85). “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat…” (QS. Al Baqarah : 256).

2.Ada apa dengan Shalat?

Di seluruh dunia, tidak ada ajaran yang luar biasa mengingatkan penganutnya untuk tetap konsisten dalam kebaikan seperti Islam. Seperti rangkaian aktivitas luar biasa sebelum kita melakukan Shalat, yaitu: wudhu, adzan dan iqamah. Dengan aktivitas wudhu yang benar, maka seluruh anggota tubuh kita dibersihkan dari dosa-dosa kecil. Tubuh juga menjadi segar dan tetap fit. Selain itu badan, pakaian juga mesti bersih dari barang-barang yang haram maupun syubhat, dari najis dan kotoran. Karena kita akan berkomunikasi dengan sang Pemilik Alam semesta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Selain itu, kita diingatkan dengan adzan sebelum shalat. Adzan menguatkan kalimah syahadat, sehingga disunnahkan kita mengulang apa yang disuarakan muadzin atau bilal saat adzan, agar kita juga mendapatkan kebaikan yang sama dengan muadzin. Untuk seorang muslim, dua kalimah syahadat kita ulang sebanyak:

(sinarilahdunia.wordpress.com)

Adzan – (2 x 5 waktu shalat) = 10
Shalat Wajib = Subuh (1) + Dzuhur (2) + Ashar (2) + Maghrib (2) + Isya (2) = 9
Iqamah = (1 x 5 waktu shalat) = 5
Total = 24 x dalam sehari semalam (24 jam)

Semakin banyak kita melaksanakan sholat sunat lainnya, maka semakin banyak penguatan kalimah syahadat yang kita lakukan. Dengan demikian, fondasi Islam kita akan semakin kokoh. Sebaliknya, semakin sedikit kita ucapkan, maka kalimah syahadat akan semakin melemah. Bahkan bisa jadi akan hilang. Na’udzubillahi min dzalik.

Selain itu, sebelum shalat dilakukan iqamah. Apa kandungan hikmah luar biasanya? Ingatlah bahwa saat kita dilahirkan, kita di-adzan-kan d itelinga kanan dan di-iqamah-kan di telinga kiri. Kemudian, saat kita meninggal, kita juga akan dishalatkan. Nah, rangkaian hidup kita sebenarnya hanyalah sepanjang waktu antara adzan dan shalat, yaitu iqamah. Sungguh sangat singkat!

Wajar kiranya shalat menjadi pembeda antara Muslim dan non-Muslim. Shalat juga merupakan kunci syurga. Selain itu, shalat juga merupakan ibadah utama. “…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-badah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Ankabut : 45).

3.Mengapa Riadhus Shalihin?

Riadhus shalihin adalah riwayat hidup orang-orang yang shalih yang telah mendahului kita dan telah membuktikan bagaimana kontribusi mereka pada Islam, dakwah dan kebaikan pada umat manusia di dunia ini. Riadhus shalihin yang utama, tentunya adalah riwayat kehidupan Rasulullah Muhammad SAW yang kita kenal sebagai As-Sunnah. Yang merupakan panduan mengarungi kehidupan, agar dapat mencapai prestasi-prestasi kehidupan demi kehidupan kekal nan abadi di akhirat kelak.

(archieslow.wordpress.com)

Peran apapun yang ingin kita lakukan, contohlah Rasulullah SAW karena ia merupakan manusia teladan sepanjang zaman. Terutama peran luar biasa beliau  dalam mengajak manusia ke jalan Allah, menyeru manusia pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21)

Katakanlah, “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS. Yusuf : 108). Sadar atau tidak, kita merupakan umat terbaik bagi manusia ini. Dengan syarat, kita mau menjadi da’i dengan meniti jalan dakwah yang menyeru manusia kepada kebaikan dan mencegah mereka dari kemungkaran serta benar-benar beriman kepada Allah. Apapun profesi, keahlian dan pendidikan kita.

Dakwah harus bersih dan suci. Kebersihannya benar-benar mulia, hingga melampaui ambisi pribadi, menganggap kecil keuntungan materi, meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan sementara. Ia melaju di jalan Allah swt untuk para da’i. Tidak meminta sesuatu pun dari manusia, tidak mengharap harta, tidak menuntut balasan, tidak menginginkan popularitas, tidak menghendaki imbalan serta ucapan terima kasih. Sungguh, pahala amal kami hanyalah dari Allah SWT yang telah menciptakan. (bersambung)

*) Mahasiswa Master of Management International Islamic University Malaysia (IIUM)

Disampaikan Pada ‘Celebration of Isra’ Mi’raj’ Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia (PMRM) cabang IIUM sekaligus silaturrahim dengan PMRM Pusat dan PPI-IIUM, Ahad, 3 Agustus 2008

Judul Asli: “9 Hikmah Luar Biasa Momentum Isra’ Miraj”

(Dikutip dari: http://pks-malaysia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=50:9-hikmah-luar-biasa-momentum-isra-miraj-&catid=36:artikel-islam)