(adhistacinta.blogspot.com)

Oleh  Ade Chandra*

Bulan Rajab yang di dalamnya ada momentum Isra’ Mi’raj, merupakan pintu menuju bulan-bulan mulia lainnya. Yaitu, bulan Sya’ban dan Ramadhan. Mulailah sejak saat ini kita berdoa, agar kita tetap hidup dan masih dapat melaksanakan sebanyak-banyaknya ibadah dibulan utama seperti bulan Ramadhan. Bersiap agar perbekalan kita untuk pulang kembali pada Allah SWT benar-benar cukup, untuk menyelamatkan hidup kita dunia dan akhirat. Maka, kiranya perlu kita gali secara mendalam hikmah luar biasa momentum Isra’ Mi’raj yang dirangkai dalam sembilan kata yaitu: (1) Islam, (2) Shalat, (3) Riadhus Shalihin, (4) Al-Qur’an, (5) Masjid, (6) Ihsan, (7) Rahmah, (8) Amal,  dan (9) Jannah.

4.Kenapa harus Al Qur’an?

Karena Al Qur’an merupakan sumber hukum terbaik yang ada di dunia. Selain itu, Allah juga sampaikan dengan jelas dalam Al Qur’an secara langsung. Dalam surat Al Baqarah: 2-20 sekaligus terdapat pembagian manusia:

a. Manusia Bertaqwa (4 ayat), yakni:
(2) Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(3) (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
(4) dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.
(5) Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

2. Manusia Kafir (2 ayat), yakni:

(answering.wordpress.com)

(6) Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman.
(7) Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

3. Manusia Munafiq (13 ayat), yakni:
(8) Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian”, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.
(9) Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.
(10) Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.
(11) Dan apabila dikatakan kepada mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.”
(12) Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.
(13) Apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman”, mereka menjawab: “Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.
(14) Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada syaitan-syaitan mereka, mereka mengatakan: “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok”.
(15) Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.
(16) Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk.
(17) Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
(18) Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar).
(19) atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.
(20) Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

5. Ada apa dengan Masjid?

(meriwardana.blogspot.com)

Kita mungkin sudah ratusan kali masuk keluar masjid. Namun, banyak yang menjadikan kunjungan ke masjid hanya rutinitas belaka. Tanpa makna dan arti apa-apa. Hanya sekedar menjalankan kewajiban. Ketahuilah, bahwa masjid memiliki nilai luar biasa, di antaranya:
a. Rumah Allah, sehingga siapa yang masuk kedalamnya akan dijamu oleh-Nya.
b. Pusat kebaikan, sehingga orang-orang yang memasukinya akan merasa tentram dan tenang.
c. Pusat peradaban, buktinya bisa kita lihat hingga sekarang.
d. Pusat pertemuan, dalam waktu-waktu sholat, pernikahan, bahkan juga ibadah haji.
e. Pusat ukhuwah dan persatuan

6. Pentingnya Ihsan

Saat ini, kita sangat susah mendapatkan orang-orang yang bisa dipercaya. Apalagi kalau berkaitan dengan uang dan organisasi (kecil, menengah, maupun besar). Apalagi yang berada di level pimpinan. Tentu, minimal sekali menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.

Salah satu solusi untuk permasalahan kepemimpinan yang demikian komplek saat sekarang ini adalah mencari orang-orang yang ihsan. Apa itu ihsan? Malaikat Jibril menrangkan kepada Rasulullah SAW bahwa ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah, seolah-olah engkau dilihat olehNya, walaupun engkau tidak bisa melihatNya.

Sederhananya, ihsan adalah seorang manusia yang merasa diawasi oleh Allah SWT dalam setiap niat dan aktivitas apapun yang dikerjakannya, sehingga tidak akan pernah ia berlaku curang, sombong, apalagi berlaku dzalim.

7. Tumbuhkan sifat Rahmah

Seorang da’i atau pun seorang Muslim perlu menumbuhkan sifat Rahmah atau kasih sayang karena sesama muslim pada hakikatnya adalah bersaudara. Karena satu keturunan dari Nabi Adam dan Siti Hawa. Kasih sayang yang luar biasa seperti ungkapan berikut ini:

Kami lebih cintai umat dari pada diri kami sendiri. Sungguh, jiwa-jiwa kami senang gugur sebagai penebus kehormatan mereka, jika memang tebusan itu yang diperlukan. Atau melayang untuk membayar kejayaan, kemuliaan agama, dan cita-cita mereka, jika memang mencukupi.
Sungguh, kami benar-benar sedih melihat apa yang menimpa umat ini, sementara kita hanya sanggup menyerah pada kehinaan, ridha pada kerendahan, dan pasrah pada keputusasaan.
Sungguh, kami berbuat dijalan Allah untuk kemaslahatan seluruh manusia, lebih banyak dari apa yang kami lakukan untuk kepentingan diri kami.

(rumahkusorgaku.net)

Kami milik kalian saudara-saudara tercinta, bukan orang lain. Sesaat pun kami tak akan pernah menjadi musuh.
Sikap ini karena kasih sayang yang telah mencengkeram hati kami, menguasai perasaan kami, menghilangkan kantuk kami, dan mengalir air mata kami.

8. Segeralah Beramal

Melakukan amal-amal kebaikan harus segera dilakukan, karena kita tidak tahu kapan kita akan kembali pada Allah SWT. Alangkah ruginya kita, bila saat dipanggil Allah SWT kita tidak memiliki amalan kebaikan yang banyak. Boleh jadi, sengsara dan azab yang akan kita dapatkan. Bila kita pernah melakukan dosa dan kesalahan, maka bersegera pula untuk bertobat.

9. Raih Jannah tertinggi

Karena kita semua tentu ingin menjadi dan mendapatkan yang terbaik. Bukankah sah-sah saja kita berkeinginan untuk meraih syurga tertinggi, sehingga bertemu para Nabi dan Rasul serta orang-orang terbaik yang pernah hidup dahulu kala maupun di masa yang akan datang? Semoga kita semua termasuk orang-orang yang dipilih Allah SWT untuk menjadi penghuni syurga tertinggi, Syurga Firdaus. Aamiin ya Rabb.. (tammat)

*) Mahasiswa Master of Management International Islamic University Malaysia (IIUM)

Disampaikan Pada ‘Celebration of Isra’ Mi’raj’ Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia (PMRM) cabang IIUM sekaligus silaturrahim dengan PMRM Pusat dan PPI-IIUM, Ahad, 3 Agustus 2008

Judul Asli: “9 Hikmah Luar Biasa Momentum Isra’ Miraj”

(Dikutip dari: http://pks-malaysia.org/index.php?option=com_content&view=article&id=50:9-hikmah-luar-biasa-momentum-isra-miraj-&catid=36:artikel-islam)