(arumsekartaji.wordpress.com)

Oleh Marjohan*

Satu keistimewaan Ramadhan, ia disebut sebagai Syahrul Jihad. Maksudnya? Bulan perjuangan. Yaitu perjuangan mengendalikan syetan/iblis serta perjuangan mengendalikan atau mengontrol hawa nafsu. Mengacu doktrin/ajaran Islam yang bertumpu pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, hawa nafsu bukanlah dibunuh, bukan dipasung dan bukan pula dimatikan. Sebab bila hawa nafsu dimatikan, maka manusia akan mati sebelum mati. Manusia tidak akan punya semangat hidup, gairah hidup, nikmat hidup dan cita-cita hidup.

Makanya, Islam mengajarkan hawa nafsu dikendalikan, diatur dan dikontrol agar berada dalam batas-batas kewajaran dan tetap dalam bingkai aturan Ilahiyah dan insaniyah. Bila hawa nafsu melompat pagar yang bernama norma atau aturan, alamat manusia akan berkayuh dalam lumpur kenistaan dan keseng­saraan. Firman Allah, “Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan. Karena sesungguhnya hawa nafsu itu selalu menyeret manusia ke kubangan kejahatan. Kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha pengampun lagi penya­yang.” (QS. Yusuf: 53 ).

Ayat ini menyuruh kita agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu. Soalnya bila dikaitkan dengan perilaku sebagian cucu Adam, betapa masih banyaknya ikhwan atau du­sanak kita yang tersungkur serta jatuh terjerembab. Sebab-musababnya, lanta­ran selalu dan terlalu mem­perturutkan hawa nafsu tanpa tapal batas. Menurut DR. Muhammad Natsir, tokoh dan ulama terpandang dari Minangkabau, paling tidak ada tiga nafsu yang  paling banyak membawa petaka  manusia di muka bumi. Yaitu hubbu mal (cinta harta), hubbu arri­ya­sah (cinta tahta) dan hubbu asy-sya­hwat (cinta wanita).

(syedroslanjaafar.blogspot.com)

Kalau dikaji lebih menukik dan lebih mendalam, ‘trio ta’  (harta, tahta, dan wanita) tadi tidak cuma me­nyengsarakan si pelakunya. Tapi, berakibat fatal terhadap orang banyak. Bagaimana mau membantah, hanya lantaran kerakusan segelintir petani berdasi mengunduli hutan semau gue dan seenak perut, hampir ratusan jiwa penduduk di pelbagai pojok tanah air  menemui ajalnya dilanda banjir besar dan longsor amat menge­rikan. Belum lagi kerugian material yang tidak terhitung jumlahnya.

Pertanyaanya, mengapa bencana demi bencana datang silih berganti? Apakah malapetaka yang sedang kita idapkan kini merupakan ujian, cobaan, peringatan. Atau mungkin sudah sam­pai pada kutukan Allah? Andai baru menjamah kawasan ujian atau cobaan marilah kita resapkan kembali Firman Allah, “Apakah manusia itu mengira bahwa, ia mengatakan kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji?( QS. Al Ankabut: 2 ).

Kemudian, kita fahami juga Firman Allah dalam surat Al Baqarah ayat 155,Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah khabar gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un (Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan kepada Allah-lah kami kembali).”

(taufik79.wordpress.com)

Lalu, bagaimana kalau musibah air, dan air mata ini sudah menyentuh jenjang peringatan dan laknat Allah? Perhatikan sinyalemen Allah dalam Al-Qur’an, “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, disebabkan oleh ulah atau perbuatan tanganmu sendiri. Tapi, Allah masih memaafkan sebagian kesalahanmu.” (QS. Asy-Syura: 30).

Nah, agar petaka demi petaka dalam berbagai bentuk dan versi tidak terus menerus mena­kutkan kita, jalan atau washilah terbaik yang mesti ditempuh, mari kita  mengendalikan hawa nafsu yang ang­ka­ra murka itu dengan akal sehat, dan fikiran bening. Masih belum mempan, kita pergunakan hati nurani sebagai mizan atau timbangan. Kalau belum bisa secara drastis, mari kita  melatih diri secara gradual, berdisiplin dan penuh percaya diri.

Dan pada hakikatnya, secara sub­stansial Ramadan yang sedang kita jalani, dan akan bersua dengan kita tiap tahun (insya Allah –kalau umur pan­jang) justru merupakan bulan latihan dan bulan pendidikan. Latihan pengen­dalian diri, dan pendidikan menggenjot kualitas diri. Arabiahnya berbunyi, “Ramadhan Syahrul al-madrasatun mutanayyizah.”

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial-Keagamaan

(Dikutip dari:  http://padangekspres.co.id/?news=nberita&id=2148)