(bhinneka.com)

Oleh Ana Mardiana

Dua hari menjelang Ramadhan tahun lalu, aku menerima sms. Begini bunyinya: “Welcome to Ramadhan Great Sale.  Jangan lewatkan,  Obral Pahala besar-besaran, Diskon dosa s/d 99 % + doorprize Lailatul Qadr Buruan! Hanya 30 hari!”

Sebelum membalasnya, aku teringat perkataan seorang teman tentang kalimat ini, Ramadhan is the Great Sale. Tentunya, bayangan kita menangkap moment Great Sale adalah pesta discount, yang biasanya diadakan seperti saat ulang tahun kota Jakarta lalu. Digelar di mal-mal tertentu, yang biasa menyelenggarakan great sale seperti di Sarinah atau Blok M Mall.

Dan saat itu, harga dibanting habis. Discount-nya juga besar-besaran, bahkan sampai 80%. Dan, saat itu juga semua orang tertarik untuk berbondong-bondong belanja. Demikian pula dengan Ramadhan.

Di kelompok manakah?

Namun, rutinitas keseharian yang kita jalani setiap harinya tanpa tersadar menyeret kita ke arus perubahan waktu. Tak sadar kita bertemu dengan bulan berkah yang suci bulan Ramadhan. Di bulan ini, ada 3 kelompok sikap yang menyambutnya, Pertama, orang yang menyambut dengan suka cita dan gembira karena mengetahui nilai kemuliaan di bulan ini, maka ia mengisinya tidak hanya berpuasa tetapi ditunjang dengan amal ibadah yang lain. Kedua, orang yang menyambutnya dengan sikap biasa-biasa saja dan tetap berpuasa. Ketiga, orang yang menyambutnya dengan sikap menyesalm bahkan menganggap bulan ini adalah bulan pengekangan hawa nafsu yang dianggap merugikan.

(theyulianzone.com)

Atas sikap yang pertama, si penyambut tidak akan menyia-nyiakan kehadiran Ramadhan. Ia dianggapnya tamu jauh yang kehadirannya sangat sulit ditemui. Ia pun belum merasa yakin tamu tersebut datang mengunjunginya di tahun-tahun yang akan datang. Inilah analogi yang ia gunakan. Karenanya ia tidak ingin menyia-nyiakan setiap malam-malamnya. Ia mengerti betul hadits tentang keistimewaan Ramadhan. Bahwa 10 malam pertama adalah rahmat, 10 malam kedua adalah ampunan dan 10 malam yang ketiga adalah terbebas dari api neraka.

Sementara pada kelompok kedua, ia tetap berpuasa. Ia tetap melaksanakan shalat sebagaimana hari-hari di luar Ramadhan. Namun, ia tidak menemukan keistimewaan di dalam bulan ini. Sepulang dari aktivitas pekerjaan, ia seperti biasanya menonton teve sambil menunggu waktu berbuka, kemudian mandi, shalat maghrib, makan malam kemudian dilanjutkan dengan nonton teve atau istirahat karena lelah setelah seharian bekerja. Tidak ada yang istimewa.

Mereka yang berada di kelompok ketiga, kadang berpuasa kadang juga tidak. Aktivitas sehari-harinya lebih banyak digunakan dengan tidur, karena menganggap bulan puasa sebagai bulan istirahat. Pun ia tidak berpuasa.

Dari analogi ketiga kelompok di atas tentunya kita dapat mengelompokkan diri masing-masing. Berada di dalam kelompok manakah diri kita? Alangkah bahagianya jika kita berada dalam kelompok pertama, yang benar-benar mengistimewakan kehadiran bulan Ramadhan.

Menegakkan Shalatul-Lail

(sman1-pleret.sch.id)

Terkadang sebagian muslimah yang sudah mengetahui keistimewaannya pun, sulit mengatur hari-harinya bersama Ramadhan. Aktivitas pekerjaan yang menyita pikiran dan tenaga membuatnya lelah dan kalah untuk mengisi malam-malam Ramadhan dengan amalan ruhiyah. Ketika Ramadhan sudah diambang pintu, ia bertekad untuk menyambutnya dengan suka cita. Ia bertekad akan mengisinya dengan amalan ruhiyah. Namun, setelah berlalu satu malam, dua malam dan seterusnya hingga Ramadhan berakhir, ia tidak berhasil.

Pekerjaan dan penat menjadi alasan nomor satu, yang membuatnya tertidur lelap. Ini adalah fenomena yang tidak bisa dipungkiri menjangkiti hampir setiap diri para muslimah. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita berusaha menyambut tamu istimewa Ramadhan dengan spesial? Sudahkah kita memaknainya dengan kondisi ruhiyah yang khusyu’ berserah diri? Memohon ampun atas dosa dan khilaf di sebelas bulan yang telah terlewati? Karena di bulan inilah kesempatan dosa-dosa diampuni, jika kita tidak yakin di bulan yang lain diampuni.

Menambah keimanan dengan mendekatkan diri kepada-Nya dengan ber-munajat, ber-tahajjud atau ber-tarawih di malam-malamnya tentunya akan terasa perbedaannya. Karena pada malam-malam itu malaikat turun, mengiringi hamba-hamba yang menegakkan shalat.

Oleh sebab itu, sebisa mungkin untuk tidak terlalu sering mengonsumsi televisi di bulan Ramadhan. Jika kita melakukannya, akan terseret oleh sihir cerita picisan sinetron yang tidak berkualitas. Alangkah lebih baik melakukan shalat tarawih atau bahkan tidur untuk mempersiapkan tenaga menegakkan shalatul- lail (shalat tahajjud di tengah malam).

(dragus.cn)

Berpacu melakukan kebaikan.

Ramadhan adalah bulan latihan untuk menempa diri. Bulan tidak makan dan tidak minum untuk perbaikan metabolisme tubuh. Bulan yang ‘memaksa’ kita untuk melakukan aktivitas terbaik, dengan istirahatnya tubuh dari makan dan minum. Bulan saat kita mengaktifkan sel-sel tubuh yang lain, yaitu potensi otak dan hati. Bulan yang menungkinkan kita mendapatkan pahala besar, yang pada bulan-bulan sebelumnya belum tentu memperolehnya. Bulan yang bila melakukan shalat sunnah saja kita mendapat pahala sama besarnya dengan shalat wajib. Bulan dilipatgandakannya pahala. Tidakkah kita bersyukur dengan adanya Ramadhan? Subhanallah, Allah begitu sayang pada kita. Ia menurunkan rahmat-Nya melalui Ramadhan. Bulan yang memberikan kesempatan kita untuk meraih pahala, rahmat, hidayah dan ampunan-Nya.

Ramadhan bulan mulia, bulan suci yang kita analogikan sebagai tamu. Bagaimanakah biasanya kita mempersiapkan tamu agung yang akan berkunjung ke rumah kita? Ibarat seorang pejabat tingkat tinggi dari negara lain yang berkunjung ke Indonesia, maka sejumlah persiapan diadakan dari jauh-jauh hari. Mulai dari persiapan penyambutan oleh sekompi pasukan angkatan darat maupun udara, persiapan acara untuk sang tamu, hingga acara penutupan. Semuanya harus dipersiapkan dengan baik agar tidak meninggalkan kesan buruk di mata sang tamu.

Jika kita ingin diberi dengan suatu hadiah yang mulia, marilah kita muliakan sang tamu dengan suatu yang mulia. Istimewakanlah tamu itu, niscaya kita tidak akan menyesal di kemudian hari. Apalagi jika ternyata tanpa kita sadari dan duga, kita tidak akan bertemu lagi di Ramadhan berikutnya. Ramadhan adalah tamu agung, yang Allah telah memuliakannya di banding bulan-bulan lain. Ayat dan hadits tentang beberapa kemuliaan Ramadhan, tentu sudah sering kita baca dan dengar melalui kajian internet dan ceramah-ceramah agama. Salah satunya adalah hadis berikut:

(wanitamustanir.com)

Dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa pada suatu hari, ketika Ramadhan telah tiba Rasulullah saw  bersabda, “Ramadhan telah datang kepada kalian, bulan yang penuh berkah, pada bulan itu Allah swt memberikan naunganNya kepada kalian. Dia turunkan RahmatNya, Dia hapuskan kesalahan-kesalahan, dan Dia kabulkan do’a. pada bulan itu Allah swt akan melihat kalian berpacu melakukan kebaikan. Para malaikat berbangga dengan kalian, dan perlihatkanlah kebaikan diri kalian kepada Allah. Sesungguhnya orang yang celaka adalah orang yang pada bulan itu tidak mendapat Rahmat Allah swt”. (HR. Ath-Thabarani).

Amalan demi kemuliaan

Maka, siapa yang tak ingin menyiakan bulan penuh rahmat itu? Amalan-amalan yang bisa dilakukan bisa berupa amalan yang bersifat fikriyah (pikiran/wawasan), jasadiyah (fisik), maupun ruhiyah (mental). Untuk persiapan fikiran, kita bisa menggali ilmu dengan membaca buku-buku tentang keutamaan Ramadhan dan buku lainnya yang memperluas wawasan. Seperti buku-buku sejarah nabi, mukjizat Al-Qur’an, dan juga buku tentang fikih yang membahas tentang tata cara shalat dan puasa sunnah, dan lain-lain. Bagi seorang muslim, fikih itu sangat penting dipelajari. Karena, pepatah mengatakan, “Amal tanpa ilmu akan sia-sia.” Dan ilmunya amal adalah Fikih.

Begitu pula ‘amalan’ untuk jasadiah/fisik, bisa dilakukan dengan banyak mengonsumsi makanan bergizi seperti buah dan sayur. Tujuannya untuk membantu mengeluarkan sisa-sisa pembuangan berupa kotoran dan racun dari dalam tubuh. Atau bisa juga ditambah dengan suplemen atau berbekam yang membantu proses detoksifikasi. Sehingga ketika puasa Ramadhan dilakukan, kondisi tubuh benar-benar dalam keadaan sehat sempurna sehingga terhindar dari lemas, lelah apalagi sakit.

(tulipsputeh.blogspot.com)

Sedangkan untuk amalan ruhiyah/mental bisa dengan berpuasa sunnah di bulan-bulan sebelumnya. Atau bagi yang belum melunasi hutang-hutangnya di bulan Ramadhan, terlebih dahu berkesempatan untuk melunasinya. Karena alangkah baiknya kita mendahulukan amalan wajib dengan melunasi hutang di bulan Ramadhan, baru setelahnya melakukan amalan sunnah.

Selain mendapat keutamaan dan pahala dengan banyak melakukan puasa di bulan-bulan sebelumnya, secara tak langsung kita akan terbiasa dan tak canggung lagi untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Artinya, fisik kita sudah ‘welcome’ untuk berpuasa ketika Ramadhan tiba. Bagi yang sering mengalami kelelahan fisik atau lemas ketika puasa di bulan Ramadhan –apalagi ditambah pekerjaan di kantor yang menguras tenaga dan pikiran– bisa jadi karena tidak membiasakan diri dengan puasa sunnah sebelum Ramadhan.

Dengan ketiga amalan di atas, insya Allah kita bisa menyambut dan ‘memperlakukan’ Ramadhan –sang tamu– dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita bisa meraih banyak kemuliaan (Lailatul Qadr) dari Ramadhan. Dan yang paling penting, seperti yang Allah maksudkan untuk orang-orang berpuasa, adalah agar kita bertakwa (QS 2; 183).

Judul Asli: Agar Ramadhan Tahun Ini Berharga” (dengan editing seperlunya demi penyesuaian)

(Dikutip dari: http://www.akhirzaman.info/islam/puasa/1420-agar-ramadhan-tahun-ini-berharga.html)