(pustakasekolah.com)

Oleh DR. Rosihon Anwar*

Al-Qur’an bukan kitab konvensional, tetapi firman Allah yang membutuhkan metodologi tertentu untuk memahaminya.  Tidak semua orang diizinkan memahami Al-Qur’an sendiri.

Tanggal 17 Ramadhan biasanya dijadikan momentum oleh umat Islam, untuk memperingati turunnya Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an). Peringatan itu biasanya diselenggarakan dengan berbagai jenis kegiatan, mulai dari Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), kajian seputar Al-Qur’an, dan umumnya tablig akbar.


Sepertinya, hampir setiap tahun model peringatannya sama dan relatif monoton. Biasanya kegiatan tadarusan yang biasa digelar selepas melaksanakan Shalat Tarawih pun sebatas pada membaca Al-Qur’an, jarang diteruskan pada upaya memahami kandungannya, sesuatu yang tak kalah penting dari membacanya.  Padahal, kata tadarusan kalau dilihat dari maknanya tak hanya membaca, tetapi juga menghayati ayat yang dibaca. Begitulah sebagian sahabat memaknai perintah membaca Al-Qur’an.

(almakkiyat.wordpress.com)

Agar peringatan Nuzulul Qur’an memiliki vitalitas makna dan semangat baru, memang tampaknya harus ada pembacaan baru terhadapnya. Nuzulul Qur’an diharapkan menjadi tolok ukur, sejauhmana Al-Qur’an dijadikan solusi untuk menyelesaikan problem bangsa.

Semangat Peradaban

Ada pertanyaan mendasar tentang relasi Al-Qur’an dengan problem bangsa. Pertanyaan ini sudah terlalu sering dikemukakan, tetapi masih relevan untuk dikaji kembali. Pertanyaan itu berbunyi, ”Bukankah Al-Qur’an itu, sebagaimana sabda Nabi, dapat menyelesaikan problem kemanusiaan. Tetapi mengapa di Indonesia yang mayoritas Muslim, problem bangsa bukannya semakin berkurang, malahan bertambah kompleks?”

Pertanyaan ini sederhana, tetapi sesungguhnya memerlukan analisis mendalam dengan menggunakan berbagai perspektif. Hal ini dikarenakan, setidaknya berkaitan dengan metodologi memahami Al-Qur’an dan bagaimana kemudian pemahaman itu direalisasikan. Dua ranah itu sangat berkaitan erat. Merealisasikan pemahaman yang keliru terhadap Al-Qur’an akan mendatangkan dampak negatif, sama buruknya dengan keengganan merealisasikan pemahaman Al-Qur’an yang benar.

(binainsanlilamal.blogspot.com)

Terhadap pertanyaan di atas, kita memang membaca dalam sejarah bagaimana semangat Al-Qur’an mampu membangkitkan semangat umat Islam secara individu dan kolektif. Tak terbantahkan fakta bahwa semangat Al-Qur’an merupakan faktor kuat kokohnya peradaban Islam selama tujuh abad lamanya.

Fakta sejarah ini membuktikan benarnya sabda Nabi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai problem solving (al-makhraj) dari berbagai problem (fitnah) kemanusiaan. Persoalannya sekarang, bagaimana kita memahami Al-Qur’an secara metodologis. Lalu, bagaimana pemahaman itu dilaksanakan secara konsisten. Kedua hal di atas diharapkan, menjadi perantara bagi penyelesaian persoalan bangsa melalui Al-Qur’an.

Perlu Metodologi

Memahami Al-Qur’an memang tidaklah sederhana. Al-Qur’an bukanlah kitab konvensional, tetapi firman Allah yang membutuhkan metodologi tertentu untuk memahaminya. Itu pula alasannya kita mewarisi banyak aturan yang terkadang ketat dari para ulama, tentang metodologi memahami Al-Qur’an.

(anwarsy.wordpress.com)

Dari sinilah, kemudian kita mengenal perangkat terjamah, tafsir, dan takwil. Bahkan, seorang ulama abad ke-10, Imam al-Syutuhi, menetapkan 15 persyaratan bagi siapa saja yang hendak menafsirkan Al-Qur’an. Ini menunjukkan, betapa penafsiran Al-Qur’an membutuhkan perangkat metodologis.

Kita memang agak khawatir dengan berbagai kecenderungan sementara orang belakangan ini, yang menafsirkan Al-Qur’an tanpa dibekali perangkat yang memadai. Dampaknya sangat fatal, banyak hasil penafsiran yang keliru dan terkadang menyesatkan. Kita mewarisi sejarah kelam berupa pertikaian, bahkan pertumpahan darah antarsesama umat Islam. Memang banyak faktor yang melatarinya, terutama faktor politik. Tetapi, pemahaman yang keliru terhadap Al-Qur;an pun merupakan salah satu pemicunya.

Mungkin ada baiknya kita mengikuti saran dari para ulama, untuk merujuk kepada kitab-kitab tafsir standar dalam memahami Al-Qur’an. Tidak langsung memahami sendiri Al-Quran tanpa dibekali persyaratan standar, seperti memahami bahasa Arab, memahami hadits, dan memahami Ushul Fiqih.

Masuk akal, kalau tidak semua orang diizinkan memahami Al-Qur’an sendiri. Sebaiknya kita serahkan saja kepada ahlinya. Kita tinggal mendengar dan membacanya, lalu melaksanakannya. Apakah lalu di luar ahlinya, tidak berhak untuk menafsirkan Al-Qur’an? Tentu saja semua orang berhak melakukannya asal memiliki persyaratannya, mulai dari perangkat bahasa sampai perangkat metodologi.

Salah satu aksi membumikan Al-Qur’an (hizbut-tahrir.or.id)

Al-Qur’an ditulis dengan bahasa Arab, sedangkan setiap kosa kata Arab memiliki psiko-lingustik sendiri yang tidak dapat ditangkap, kecuali oleh mereka yang benar-benar paham bahasa Arab. Contoh sederhana, kita sering mendengar uraian larangan berbuat fitnah (dalam bahasa Indonesia) dengan dalil ayat wal-fitnatu asyaddu minal qatli. (QS Albaqarah [2]:191).

Sering dipahami kata al-fitnah (dalam bahasa Arab) pada ayat itu dengan fitnah dalam bahasa Indonesia, padahal maknanya tidaklah serupa. Dalam kitab-kitab tafsir standar, seperti Tafsir al-Thabari dan Tafsir al-Jalalain, fitnah yang dimaksud adalah kemusrikan. Ada banyak contoh lain model kekeliruan seperti ini yang berkembang di masyarakat.

Termasuk ke dalam metodologi pemahaman Al-Qur’an adalah bagaimana dengan cerdas mengangkat isu-isu kekinian yang memerlukan penyelesaian dari Al-Qur’an dengan segera, seperti masalah pengangguran, kerusakan lingkungan, korupsi, narkoba, relasi buruh-majikan, dan relasi pemerintah-rakyat.

Ini pekerjaan rumah bagi ahli tafsir di Indonesia. Perlu ada perubahan paradigma pemahaman Al-Qur’an. Kalau para ulama dahulu memahami Al-Qur’an tanpa banyak menyentuh problem kemanusiaan, bahkan terkadang tidak menyentuh sama sekali, ada baiknya sekarang justru memahami Al-Qur’an diawali dengan melihat problem kemanusiaan (bottom-up).

Living Al-Qur’an

(globalmuslim.web.id)

Hal paling penting dari semua proses interaksi umat Islam dengan Al-Qur’an adalah bagaimana Al-Qur’an dipribumikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Artinya, Al-Qur’an bukan lagi merupakan sesuatu yang asing, tetapi merupakan bagian kehidupan kita. Seharusnya mereka memang menjadi living Al-Qur’an, Al-Qur’an yang berjalan.

Sebaik apa pun metode yang dipergunakan dalam memahami Al-Qur’an tidak akan bermanfaat, tanpa diiringi dengan aktualisasi hasil pemahaman kita. Namun, ternyata mengaktualisasikan pemahaman Al-Qur’an pun tidaklah mudah. Dibutuhkan perangkat-perangkat tertentu di samping modal keimanan yang kuat, di antaranya diperlukan rumusan operasional bagaimana pemahaman itu dilaksanakan.

Meminjam istilah Kuntowijoyo, ayat-ayat Al-Qur’an merupakan grand theory. Dibutuhkan teori perantara (middle theory) untuk melaksanakannya. Di tataran perantara inilah, sebenarnya kita membutuhkan bantuan para pakar di berbagai bidang. Zakat dapat mengangkat perekonomian merupakan grand theory, tetapi bagaimana zakat berdaya untuk mendongkrak ekonomi merupakan kajian di antaranya pakar ekonomi.

Shalat dapat menangkis kerusakan moral (tanha ani-l fahsyai wa-l munkar) merupakan grand theory, tetapi bagaimana teknisnya memerlukan pemikiran-pemikiran yang tidak saja berdimensi fikih, tetapi juga berdimensi sosiologi, antropologi, ekonomi, dan sebagainya. Di sini perlunya para ulama dan para pakar di berbagai disiplin ilmu untuk duduk bersama, merumuskan grand theory dan middle theory yang dimaksud.

*) Penulis adalah Dosen Kajian Studi Al-Qur’an di Pascasarjana dan Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

(Dikutip dari: http://klikislammoderen.blogspot.com/2008/09/nuzulul-quran-dan-problem-bangsa.html)