(miauideologis.wordpress.com)

Oleh Muh. Akbar Ilyas

Pengantar Redaksi: Beberapa hal terkait aspek hukum shaum, kadang masih menyisakan pertanyaan. Seperti soal kewajiban puasa saat tengah menderita sakit maupun dalam perjalanan, mengganti (qada) puasa Ramadhan di hari lain, membayar fidyah (penganti puasa dengan bersedekah), hak bercampur dengan pasangan di malam Ramadhan dan kedudukan waktu imsak (sekitar 10 menit sebelum masuk waktu Subuh) sebagai peringatan, bukan menjadi batas larangan makan-minum pada waktu sahur. Bila kemarin kita masih meragu tentang kepastian hukumnya, semoga melalui artikel ini dapat lebih jelas dan memastikan. Semoga bermanfaat.

d. Wa ‘alal ladzina yuthiqunahu fidyatun tha’amu miskin (Dan wajib bagi orang yang beratmenjalankannya membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin) (QS Al-Baqarah [2]: 184)

Penggalan ayat ini diperselisihkan maknanya oleh banyak ulama tafsir. Ada yang berpendapat bahwa pada mulanya Allah SWT memberi alternatif bagi orang yang wajib puasa, yakni berpuasa atau berbuka dengan membayar fidyah. Ada juga yang berpendapat bahwa ayat ini berbicara tentang para musafir dan orang sakit, maka ketika  itu  dia harus berbuka. Walau ada juga di antara mereka yang pada hakikatnya  mampu  berpuasa  tetapi  enggan karena kurang sehat dan  atau  dalam perjalanan, bagi mereka diperbolehkan untuk berbuka dengan syarat membayar fidyah.

(sumsel.tribunnews.com)

Pendapat-pendapat di atas tidak populer di kalangan mayoritas ulama. Mayoritas  memahami penggalan ayat ini berbicara tentang orang-orang tua atau orang yang  mempunyai pekerjaan yang sangat  berat, sehingga puasa sangat memberatkannya, sedang ia tidak mempunyai sumber rezeki lain kecuali pekerjaan itu. Maka dalam kondisi  semacam ini, mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dengan syarat membayar fidyah. Demikian  juga halnya terhadap orang yang sakit sehingga tidak dapat berpuasa, dan diduga tidak akan sembuh dari penyakitnya. Termasuk juga dalam pesan  penggalan  ayat  di atas adalah wanita-wanita hamil dan atau menyusui. Dalam hal ini terdapat rincian sebagai berikut:

Wanita yang hamil  dan  menyusui  wajib  membayar  fidyah  dan mengganti  puasanya  di  hari  lain,  seandainya  yang  mereka khawatirkan adalah janin atau anaknya  yang  sedang  menyusui. Tetapi  bila  yang mereka khawatirkan diri mereka, maka mereka berbuka dan hanya wajib menggantinya di hari lain, tanpa harus membayar fidyah.

Fidyah dimaksud adalah memberi makan fakir/miskin setiap hari selama ia tidak berpuasa. Ada yang berpendapat sebanyak setengah  sha’  (gantang) atau kurang lebih 3,125 gram gandum atau kurma (makanan pokok). Ada juga yang menyatakan satu mud yakni  sekitar  lima perenam liter dan  ada  lagi  yang mengembalikan penentuan jumlahnya pada kebiasaan yang  berlaku pada setiap masyarakat.

e. Uhilla lakum lailatash-shiyamir-rafatsu ila nisa’ikum (Dihalalkan kepada kamu pada malam Ramadhan bersebadan dengan istri-istrimu) (QS Al-Baqarah [2]:187)

(suaramerdeka.com)

Ayat ini membolehkan hubungan seks (bersebadan) di malam hari bulan Ramadhan, dan ini berarti bahwa di siang hari Ramadhan, hubungan seks tidak dibenarkan.  Termasuk  dalam pengertian hubungan seks  adalah ‘mengeluarkan sperma’ dengan cara apa pun. Karena itu, walaupun ayat ini tak  melarang  ciuman  atau pelukan antar suami-istri, namun para ulama mengingatkan bahwa hal tersebut bersifat makruh, khususnya bagi yang tidak  dapat menahan diri,  karena  dapat  mengakibatkan keluarnya sperma.

Menurut istri Nabi, Aisyah ra, Rasulullah saw pernah  mencium istrinya saat berpuasa.  Nah, bagi yang mencium atau apa pun selain berhubungan seks, kemudian ternyata  ‘basah’,  maka puasanya  batal;  ia harus menggantinya pada hari lain. Tetapi mayoritas ulama tidak mewajibkan  yang  bersangkutan  membayar kaffarat (denda) kecuali  jika  ia melakukan hubungan seks (di siang hari), dan kaffarat-nya dalam hal ini  berdasarkan  hadits Nabi adalah berpuasa dua  bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka ia harus memerdekakan hamba. Jika tidak mampu juga,  maka ia harus memberi makan enam puluh orang miskin.

Bagi yang melakukan hubungan seks di malam hari, tidak harus mandi sebelum terbitnya fajar.  Ia hanya berkewajiban mandi sebelum  terbitnya matahari  –paling tidak dalam batas waktu yang memungkinkan ia shalat Subuh dalam keadaan suci pada waktunya. Demikian pendapat mayoritas ulama.

f. Wakulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumul khaith al-abyadhu minal khaithil aswadi minal fajr (Makan dan minumlah sampai terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar).

Ayat ini membolehkan seseorang untuk  makan  dan  minum  (juga melakukan hubungan seks) sampai terbitnya fajar.

(virouz007.wordpress.com)

Pada zaman Nabi, beberapa saat sebelum fajar Bilal mengumandangkan adzan, namun beliau mengingatkan bahwa bukan itu yang dimaksud dengan fajar yang mengakibatkan larangan di atas. Imsak yang diadakan hanya sebagai  peringatan  dan persiapan untuk tidak lagi melakukan aktivitas yang terlarang. Namun bila dilakukan, dari segi hukum masih dapat dipertanggungjawabkan selama fajar (waktu subuh belum masuk). Perlu dingatkan, hendaknya kita jangan terlalu mengandalkan adzan, karena boleh jadi muadzin mengumandangkan adzannya setelah berlalu beberapa saat dari waktu Subuh. Karena itu, sangat beralasan untuk  menghentikan aktivitas tersebut saat imsak.

g. Tsumma atimmush shiyama ilal lail (Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam).

Penggalan ayat ini datang setelah ada  izin  untuk  makan  dan minum sampai dengan datangnya fajar.

Puasa  dimulai  dengan  terbitnya  fajar,  dan berakhir dengan datangnya malam. Persoalan yang juga diperbincangkan oleh para ulama  adalah  pengertian  malam. Ada yang memahami kata malam dengan tenggelamnya matahari, walaupun masih ada mega merah, dan  ada  juga yang memahami malam dengan hilangnya mega merah dan menyebarnya  kegelapan.

Pendapat  pertama  didukung  oleh banyak  hadits  Rasulullah saw, sedang pendapat kedua dikuatkan oleh pengertian kebahasaan dari lail yang diterjemahkan ‘malam’. Kata  lail  berarti ‘sesuatu yang gelap’ karenanya rambut yang berwarna hitam pun dinamai lail. Pendapat pertama sejalan juga dengan anjuran Nabi  saw.  Untuk mempercepat  berbuka  puasa dan memperlambat sahur, pendapat kedua sejalan dengan  sikap  kehatian-hatian  karena  khawatir Maghrib sebenarnya belum masuk.

Demikian  sedikit  dari  banyak  aspek hukum, yang dicakup oleh ayat-ayat yang berbicara tentang puasa Ramadhan.

(Dikutip dari: http://muhakbarilyas.blogspot.com/2012/07/aspek-hukum-puasa-ramadhan.html)