(dinendras.wordpress.com)

Oleh Muhammad Abduh Tuasikal

Lailatul Qadar adalah malam yang penuh berkah. Barangsiapa yang terluput dari Lailatul Qadar, maka dia telah terluput dari seluruh kebaikan. Sungguh merugi seseorang yang luput dari malam tersebut. Seharusnya setiap muslim mengecamkan baik-baik sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Di bulan Ramadhan ini terdapat lailatul qadar yang lebih baik dari 1000 bulan. Barangsiapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Bukan Hanya dengan Shalat

Oleh karena itu, sudah sepantasnya seorang muslim lebih giat beribadah dengan dasar iman dan tamak akan pahala melimpah di sisi Allah. Seharusnya dia dapat mencontoh Nabinya yang giat ibadah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. ‘Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR.Muslim no. 1175).

(blog.its.ac.id)

Seharusnya setiap muslim dapat memperbanyak ibadahnya ketika itu, menjauhi istri-istrinya dari ber-jima’ dan membangunkan keluarga untuk melakukan ketaatan pada malam tersebut. ‘Aisyah mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari no. 2024 dan Muslim no. 1174).

Sufyan Ats Tsauri mengatakan, “Aku sangat senang jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan untuk bertahajud di malam hari dan giat ibadah pada malam-malam tersebut.” Sufyan pun mengajak keluarga dan anak-anaknya untuk melaksanakan shalat jika mereka mampu. (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331).

Adapun yang dimaksudkan dengan menghidupkan malam Lailatul Qadar adalah menghidupkan mayoritas malam dengan ibadah dan bukan seluruh malam. Pendapat ini dipilih oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Menghidupkan malam Lailatul Qadar pun bukan hanya dengan shalat, bisa pula dengan dzikir dan tilawah Al-Qur’an (Lihat ‘Aunul Ma’bud, 3/313, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah). Namun amalan shalat lebih utama dari amalan lainnya di malam Lailatul Qadar berdasarkan hadits, “Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari no. 1901).

Bagaimana Untuk Wanita Haidh?

(duniaerida.blogspot.com)

Juwaibir pernah mengatakan bahwa dia pernah bertanya pada Adh-Dhohak, “Bagaimana pendapatmu dengan wanita nifas, haidh, musafir dan orang yang tidur (namun hatinya dalam keadaan berdzikir), apakah mereka bisa mendapatkan bagian dari Lailatul Qadar?” Adh-Dhohak pun menjawab, “Iya, mereka tetap bisa mendapatkan bagian. Siapa saja yang Allah terima amalannya, dia akan mendapatkan bagian malam tersebut.” (Latho-if Al Ma’arif, hal. 331).

Dari riwayat ini menunjukkan bahwa wanita haidh, nifas dan musafir tetap bisa mendapatkan bagian Lailatul Qadar. Namun karena wanita haidh dan nifas tidak boleh melaksanakan shalat ketika kondisi seperti itu, maka dia boleh melakukan amalan ketaatan lainnya. Yang dapat wanita haidh lakukan ketika itu adalah: (1) Membaca Al-Qur’an tanpa menyentuh mushaf, (2) Ber-dzikir dengan memperbanyak bacaan tasbih (subhanallah), tahlil (laa ilaha illallah), tahmid (alhamdulillah) dan dzikir lainnya, (3) Memperbanyak istighfar, dan (4) Memperbanyak do’a. (Lihat pembahasan di “Al Islam Su-al wa Jawab” pada link http://www.islam-qa.com/ar/ref/26753)

Ber-i’tikaf

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa ber-i’tikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sampai Allah mewafatkan beliau. Inilah penuturan ‘Aisyah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.” (HR. Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172).

(halaqohdakwah.wordpress.com)

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika ingin ber-i’tikaf. Pertama, i’tikaf harus dilakukan di masjid dan boleh di masjid mana saja. I’tikaf di-syari’at-kan dilaksanakan di masjid berdasarkan firman Allah Ta’ala (yang artinya), “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” (QS. Al Baqarah: 187). Demikian juga dikarenakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu juga istri-istri beliau, melakukannya di masjid dan tidak pernah di rumah sama sekali.

Menurut mayoritas ulama, i’tikaf di-syari’at-kan di semua masjid karena keumuman firman Allah di atas (yang artinya) “Sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.” Adapun hadits marfu’ dari Hudzaifah yang mengatakan, ”Tidak ada i’tikaf kecuali pada tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha”. Perlu diketahui, hadits ini masih dipersilisihkan statusnya, apakah marfu’ (sabda Nabi) atau mauquf (perkataan sahabat).

Kedua, wanita juga boleh ber-i’tikaf, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan istri beliau untuk ber-i’tikaf. Namun wanita yang boleh ber-i’tikaf di sini harus memenuhi dua syarat: (1) Diizinkan oleh suami dan (2) Tidak menimbulkan fitnah (masalah bagi laki-laki).

Ketiga, yang membatalkan i’tikaf adalah: (1) Keluar masjid tanpa alasan syar’i atau tanpa ada kebutuhan mubah yang mendesak (misalnya untuk mencari makan atau mandi junub, yang hanya bisa dilakukan di luar masjid), (2) Jima’ (bersetubuh) dengan istri berdasarkan Surat Al Baqarah: 187 di atas.

(nationalgeographic.co.id)

Keempat, hal-hal yang dibolehkan ketika ber-i’tikaf di antaranya: (1) Keluar masjid disebabkan ada hajat, seperti keluar untuk makan, minum, dan hajat lain yang tidak bisa dilakukan di dalam masjid, (2) Melakukan hal-hal mubah seperti bercakap-cakap dengan orang lain, (3) Istri mengunjungi suami yang ber-i’tikaf dan berdua-duaan dengannya, (4) Mandi dan ber-wudhu di masjid, dan (5) Membawa kasur untuk tidur di masjid.

Kelima, jika ingin ber-i’tikaf selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan, maka seorang yang ber-i’tikaf mulai memasuki masjid setelah shalat Shubuh pada hari ke-21 (sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan keluar setelah shalat Shubuh pada hari ‘Idul Fitri menuju lapangan.

Keenam, hendaknya ketika ber-i’tikaf, sibukkanlah diri dengan melakukan ketaatan seperti berdo’a, dzikir, ber-shalawat pada Nabi. mengkaji Al-Qur’an dan mengkaji hadits. Dan di-makruh-kan menyibukkan diri dengan perkataan dan perbuatan yang tidak bermanfaat. (Pembahasan i’tikaf ini disarikan dari Shahih Fiqih Sunnah, 2/150-158).

Semoga Allah memudahkan kita menghidupkan hari-hari terakhir di bulan Ramadhan dengan amalan ketaatan. Hanya Allah lah yang memberi taufiq. [Direview oleh D.S. Tabrani]

Judul Asli: “Keutamaan Lailaltul Qadar”

(Dikutip dari: http://www.kabarislam.com/puasa/keutamaan-lailatul-qadar)