(citizenimages.kompas.com)

Oleh Jalan Cahaya

Merdeka! Merdeka! Merdeka! Rasa haus karena puasa, tak jadi aral bagi anak-anak pemulung di belakang perumahan elit untuk meneriakkan pekik-pekik kemerdekaan. Mungkin semangat mereka untuk merayakan kemerdekaan tahun ini berlipat-lipat kali, karena tahun ini mereka serasa sama dengan banyak orang. Ya serasa, sama-sama tak makan siang dengan orang yang bisa dan biasa makan siang di bulan lain alias orang yang hidupnya lebih beruntung.

(kaskus.co.id)

Bangsa ini telah 67 tahun merdeka. Tetapi masih banyak orang yang mempertanyakan, apakah kita telah benar-benar merdeka? Bahkan ada yang berani berkesimpulan, kita memang telah merdeka tetapi belum benar-benar merdeka. Kesimpulan ini bisa benar. Tak usah jauh-jauh, lihat saja anak pemulung tadi. Walaupun hidup di alam kemerdekaan tetapi dia sebenarnya belum merdeka, tepatnya kemerdekaan pangan. Mereka belum mampu menikmati makan 3 kali sehari. Meraka hanya sanggup makan sekali sehari, itu pun kalau nasib lagi baik. Beda dengan kita –yang mungkin makan 3 atau 4 kali dalam sehari pun tak masalah– sepanjang perut masih muat menampung.

(ureport.news.viva.co.id)

Ramadhan ini boleh dikata bulan istimewa, karena bertepatan dengan kemerdekaan bangsa kita tercinta. Merdeka dari segala penindasan kaum penjajah. Ya, kita merdeka 17 Agustus sejak 67 tahun silam. Kalau dipikir-pikir, bulan puasa ini bagi umat Islam adalah bulan kemerdekaan juga. Merdeka dari gangguan iblis dan setan penjerumus manusia dalam kesesatan yang berujung kesengsaraan.  Bulan ini saat iblis dibelenggu oleh Allah SWT, agar tidak mengganggu manusia lagi. Jadi bagi kaum Muslim lengkaplah sudah kemerdekaan kita di bulan ini, baik dari jajahan maupun iblis.

(antarasumbar.com)

Sebagai bentuk syukur kita akan kemerdekaan ini, alangkah baiknya jika kita berbagi dengan orang-orang yang belum merdeka.  Berbagi kemerdekaan dengan berzakat. Zakat sederhananya adalah mengeluarkan sebagian harta dari orang yang mampu untuk diberikan kepada mereka yang berhak. Salah satunya untuk fakir miskin, seperti anak-anak pemulung tadi.

Dengan adanya zakat, maka orang yang belum merdeka di alam kemerdekaan dapat menjadi benar-benar merdeka. Di dalamnya kita akan tercatat sebagai pahlawan kemerdekaan, yang memerdekakan orang yang belum merdeka secara pangan di tengah alam kemerdekaan. Sungguh, kita tidak berbeda dengan pahlawan-pahlawan yang dulu membuat bangsa ini merdeka dari penjajah. Bukankah kita sama-sama memerdekakan orang?

(feriawan.wordpress.com)

Bayangkan, menurut data potensi zakat kita lebih dari 200 triliun. Jika potensi ini terbagi dengan baik, akan melahirkan orang merdeka baru. Bahkan jika dikelola dengan baik, lambat laun mampu membayar utang-utang negara kita. Tetapi membayar utang negara adalah domain pemerintah atau mereka ‘di atas’ sana (baca: Penguasa).

Yang terpenting bagi rakyat jelata seperti kita adalah, bagaimana memerdekakan sesama dengan mengeluarkan zakat bagi mereka. Tak usah jauh-jauh, mari kita mulai di sekeliling kita. Jangan sampai rumah bagai istana dengan segenap kemerdekaan yang kita nikmati di dalamnya, tetapi dikelilingi orang-orang yang tak merdeka. Semoga jangan sampai mereka masuk ke dalam rumah, merampas sebagian kemerdekaan yang dimiliki para penghuninya yang sibuk bermegah diri.

Jika seandainya setiap orang berusaha memerdekakan satu orang saja dari zakatnya, niscaya fakir miskin di Indonesia –yang menurut data BPS berjumlah sekitar 30%– akan lenyap. Secara matematik, orang yang mampu (mengeluarkan zakat) di Indonesia jumlahnya lebih banyak (sekitar 70%).

(portaltigaimage.com)

Alangkah indahnya, jika berita-berita di TV tak lagi menyiarkan peristiwa tewasnya orang miskin penerima zakat akibat berdesakan ketika menunggu pembagian bantuan.

Alangkah indahnya bangsa ini, jika tak lagi terdengar adanya kejahatan untuk alasan perut. Tak ada lagi perempuan yang menjual diri karena kebutuhan hidup.

Semua ini sebenarnya dapat diatasi dengan zakat. Jika itu terjadi, maka pertanyaan para pengadil di Yaumil Akhir tak lagi menyisakan penyesalan. Bahkan mungkin saja kita akan masuk syurga, lewat jalur bebas tes. Insya Allah. Untuk itu, mari berzakat dan memerdekakan!

Judul Asli: “Zakat untuk Memerdekakan di Bulan Kemerdekaan”

(Dikutip dari: http://jalancahaya.blogdetik.com/2011/08/22/zakat-untuk-memerdekakan-di-bulan-kemerdekaan/)