(bloggers.com)

Oleh Muhammad Ade Irfan

Bulan Agustus kali ini menjadi sangat istimewa, karena bertepatan dengan bulan Ramadhan. Persis ketika PPKI tahun 1945 menyiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia, juga terjadi bulan Ramadhan (Djoened Poesponegoro, Marwati, 1984). Bulan dimana bangsa Indonesia yang mayoritas muslim harus berpuasa dan keberkahan Ramadhan telah menghantarkan tokoh–tokoh bangsa Indonesia saat itu berani mengambil resiko untuk memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia, tanpa harus menunggu perpindahan kekuasaan dari Jepang.

Sementara terungkap bahwa tanggal 17 Agustus 1945, dipilih oleh Soekarno – Hatta, karena tanggal tersebut mempunyai ‘daya mistik’ (Hardi, Lasmidjah, 1984), di antaranya angka 17 adalah jumlah rakaat dalam shalat. Tanggal 17 Agustus 1945 jatuh di hari Jum’at, sebagai hari yang dimuliakan kaum muslim. Di samping kewajiban shalat berjamaah yang memiliki kelebihan dibanding shalat jamaah rawatib lainnya, juga merupakan hari yang munajat doa lebih bersegera dikabulkan Allah SWT.

(ammarempuz.wordpress.com)

Tentu saja kali ini ada makna lain, sehingga Allah SWT kembali mempertemukan peringatan Kemerdekaan Agustus 2012 dengan Ramadhan 1433 H. Sebab pertemuan dua bulan sarat makna ini sangat jarang terjadi, semoga menjadi momentum untuk dapat memberikan arti dan manfaat lebih kepada umat muslim Indonesia khususnya.

Kemerdekaan bangsa Indonesia ditandai dengan pembacaan proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno & Hatta, merupakan peristiwa penting yang tidak bisa diubah lagi oleh masyarakat Indonesia maupun dunia internasional. Kemerdekaan Indonesia telah diperjuangkan dengan segala bentuk pengorbanan, harta bahkan nyawa siap dipertaruhkan untuk merebut kemerdekaan. Harga mati yang didapat melalui jerih payah, kegigihan, dan kerja keras bangsa Indonesia ini, sama dengan pertaruhan hidup mati sebuah bangsa. Salah besar apabila ada anggapan bahwa kemerdekaan Indonesia hanyalah pemberian kekuasaan administratif oleh Jepang atau Sekutu (Soebardjo, Ahmad, 1978).

Begitu pula shaum Ramadhan, menurut Abul ‘Ala al-Maududi merupakan sebuah perjuangan dan kegigihan seorang hamba untuk memenuhi keinginan utama menjadi orang bertakwa. Artinya hamba tersebut tidak hanya sebagai muslim, tetapi seorang mukmin yang akan meningkat menjadi muttaqien (tingkat tertinggi). Sementara Ibnul Qayyum Al-Jauzi mengartikan, shaum Ramadhan sebagai bentuk pencucian jiwa (tazkiyatun nafs) sebelum dapat menapakkan kakinya menuju tingkat atau derajat lebih tinggi, sebuah bentuk hijrah dari kotor menuju bersih.

 “…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujuurat [49], 13)

(sayyidabalqis.wordpress.com)

Kemerdekaan adalah hasil perjuangan dari para pahlawan, maka Ramadhan juga mempunyai arti sebuah perjuangan. Berjuang saat itu melawan tentara Jepang, Sekutu maupun penghianat bangsa untuk mendapatkan kemerdekaan. Tanpa perjuangan tidak akan ada kemerdekaan, dengan slogan ‘merdeka atau mati’. Berjuang untuk hidup menjadi lebih baik, maka Ramadhan merupakan perjuangan seorang mukmin menuju muttaqien melewati ujian puasa.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah [2] : 183)

Kemerdekaan harus diupayakan dengan kegigihan, tanpa upaya ini dapat dipastikan tidak ada kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia terkenal dengan kegigihan, tanpa menyerah dan siap berkorban. Maka Ramadhan juga berarti kegigihan, berlapar-lapar, kehausan, dan menahan nafsu sejak Shubuh sampai Maghrib, yang tidak akan bisa terlewati tanpa kegigihan seorang muslim. Tentu akan sangat berat bagi mereka yang tidak memiliki keimanan, hanya dengan kegigihan lah hal tersebut bisa dilakukan.

Kemerdekaan adalah bentuk hijrah bangsa Indonesia, dari bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka yang bisa menentukan nasibnya sendiri. Maka Ramadhan juga berarti hijrah, dari derajat yang rendah (muslim dan mukmin) menjadi tingkat takwa yang lebih tinggi (muttaqien). Kemerdekaan adalah perubahan nasib bagi bangsa Indonesia, laksana hijrah menuju lebih baik. Tidak menjadi bangsa jajahan, tapi secara gemilang menuju Indonesia lebih maju. Ramadhan mengubah manusia yang kotor dengan dosa, menjadi manusia gemilang dengan ketakwaan iman.

‘Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut [29], 2).

(tangnkr.wordpress.com)

Kemerdekaan mempunyai hubungan erat dengan Ramadhan, maka bersyukurlah masyarakat muslim Indonesia mendapat hari istimewa di bulan yang juga istimewa. Hubungan keduanya sangat diperlukan untuk membentuk karakter istimewa, yang menandakan terjadinya kemanfaatan bagi pribadi-pribadi, agama, dan bangsa. Kegigihan menjalankan shaum sepenuhnya tanpa putus, sebagai bentuk hijrah jiwa–jiwa kotor menuju jiwa–jiwa fitri. Hal ini sesuai asal-muasal manusia, yang diciptakan untuk mencapai derajat takwa sebagai golden goal.

“Hai orang-orang yang beriman (kepada para Rasul), bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian dan menjadikan untukmu cahaya, yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hadid [57], 28). Wallahu a’lam bish-shawab

(Dikutip dari: http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&view=article&id=1286:ramadhan-dan-kemerdekaan)