(nurulilmiunas.wordpress.com)

Oleh Ustadz Muzdoffar

IDUL FITRI selalu hadir sebagai penutup ibadah puasa Ramadhan setiap tahun. Sudah barang tentu kita semua –bersama seluruh kaum muslimin– senantiasa menyambut dan merayakannya dengan rasa penuh kegembiraan, keceriaan, kebahagiaan dan kesukacitaan. Namun yang perlu menjadi pertanyaan adalah, sudah benarkah sikap dan cara kita selama ini dalam memaknai, menyambut dan merayakan Idul Fitri? Ini yang harus selalu menjadi bahan renungan dan muhasabah (introspeksi atau evaluasi diri) kita setiap saat, khususnya setiap kali kita berjumpa dengan Idul Fitri seperti hari ini.

Beragam Pemaknaan

Mari kita tengok sejenak beragam pemaknaan dan penyikapan, yang ada di masyarakat kita terhadap hari raya Idul Fitri ini. Di antara masyarakat ada yang memelesetkan idul fitri –yang juga biasa disebut hari Lebaran– menjadi hari bubaran dengan arti: bubar puasanya, bubar pula ke masjidnya, bubar baca Qur’annya, dan seterusnya dan seterusnya. Artinya bubar Ramadhannya berarti bubar pula ketaatannya (?).

(harianjogja.com)

Sementara itu banyak kalangan yang memaknai dan memahami hari raya Lebaran ini, hampir hanya sebagai hari yang identik dengan segala yang serba baru dan anyar; baju baru, celana baru, jilbab baru, dan lain-lain yang serba baru. Bahkan ada juga sebagian masyarakat kita yang tidak memahami hari raya Idul Fitri, melainkan sekadar sebagai ajang pesta kembang api dan ‘perang’ petasan! Meskipun yang disebutkan terakhir ini sudah sangat berkurang sekarang, jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.

Sebagaimana –berdasarkan fakta dan realita kebiasaan masyarakat kita– selama ini telah terbangun opini publik yang rasanya sangat sulit untuk diubah, yakni bahwa hari Idul Fitri itu sama dengan hari mudik dan pulang kampung massal untuk berkumpul dengan keluarga dan handai tolan. Tapi disini, tentu bukan mangan gak mangan ngumpul, tapi justru ngumpul-ngumpul untuk mangan-mangan, karena pada hari raya hampir bisa dipastikan di setiap rumah keluarga muslim tersedia makanan dan jajanan yang selalu banyak dan bermacam ragam. Di samping itu telah terbentuk pula kebiasaan yang sudah merata di masyarakat kita bahwa, hari Idul Fitri adalah hari salam salaman, hari maaf maafan, hari saling beranjangsana dan ber-silaturrahim antar keluarga, kerabat, handai tolan, tetangga dan sahabat.

Pengganti dari Allah

(ensiklopedi.mitrasites.com)

Itu adalah sekelumit gambaran tentang beragam pemaknaan, penyikapan dan fenomena seputar hari raya Idul Fitri di masyarakat kita. Tentu masih banyak lagi yang lainnya. Dan tentu saja bukan berarti itu semua salah. Sebagiannya adalah benar, baik, positif dan justru merupakan salah satu sunnah hasanah (kebiasaan baik) yang harus tetap dipertahankan, seperti kebiasaan silaturrahim itu misalnya. Namun jika yang kita pahami dan dapatkan dari Idul Fitri yang merupakan penutup dan sekaligus pelengkap ibadah Ramadhan, hanyalah yang seperti itu saja, tentu sangat tidak tepat.

Karena Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua hari raya dalam Islam yang ditetapkan langsung oleh Allah, sebagai pengganti hari-hari raya yang pernah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum Islam datang.

عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ:“مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ؟” قَالُوا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الْأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْر” (رواه أبو داود والنسائي وأحمد وابن حبّان).

Dari Anas dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tiba di Madinah, sedangkan penduduknya memiliki dua hari khusus yang mereka rayakan dengan permainan, maka beliau bersabda: ‘Apakah maksud dari dua hari ini?’ mereka menjawab: “Kami biasa merayakan keduanya dengan permainan semasa masih Jahiliyah.’ Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari kedua hari tersebut, yaitu hari (raya) kurban (Iedul Adha) dan hari raya Iedul fithri.” (HR. Abu Dawud, An-Nasaa-i, Ahmad dan Ibnu Hibban).

Syi’ar Allah

(unpad.ac.id)

Dan kedua hari raya Islam tersebut dikaitkan dan digandengkan dengan dua rukun utama ajaran Islam, puasa Ramadhan dan  haji ke Baitullah di Tanah Suci Mekkah. Maka Idul Fitri dengan demikian – sebagaimana Idul Adha – merupakan salah satu d iantara hari-hari dan syi’ar-syi’ar Allah yang harus kita sambut dan rayakan dengan sikap penuh rasa ibadah, pemuliaan dan pengagungan – dalam batas-batas koridor syar’i – sebagai bukti ketaqwaan hati kita. Allah Ta’ala berfirman,

”Begitulah, dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu termasuk (bukti) ketaqwaan hati” (QS Al-Hajj : 32).

Nah, sebagai salah satu syi’ar Allah yang istimewa, tentu saja Idul fitri memiliki muatan makna dan kandungan hikmah yang banyak dan istimewa pula. Yang sangat kita butuhkan sebagai bekal utama, dalam perjalanan hidup kita selanjutnya pasca Ramadhan. Dan dalam kesempatan ini, saya ingin mengajak seluruh kaum muslimin dan muslimat untuk men-tadabbur-i dan merenungkan tentang beberapa hikmah besar di balik momentum syi’ar hari raya Idul Fitri ini.

  1. Hikmah Kegembiraan dan Kesyukuran

Hikmah pertama yang sangat menonjol dari momen Idul Fitri adalah hikmah kegembiraan dan kesyukuran. Ya, semua kita bergembira dan bersuka ria, saat menyambut Idul Fitri seperti sekarang ini. Dan memang dibenarkan, bahkan disunnahkan kita bergembira, berbahagia dan bersuka cita pada hari ini. Karena makna dari kata ‘ied itu sendiri adalah hari raya, hari perayaan, hari yang dirayakan. Dan perayaan tentu identik dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah menegaskan itu dalam hadits shahihnya.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: (إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي) لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ” (متّفق عليه).

(kakakrafli.wordpress.com)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Setiap amal anak Adam dilipatgandakan pahalanya. Satu macam kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah ‘azza wajalla berfirman: ‘Selain puasa, karena puasa itu adalah untukKu dan Aku lah yang langsung akan memberinya pahala. Sebab, ia telah meninggalkan nafsu syahwat dan nafsu makannya karenaKu.’ Dan bagi orang yang berpuasa ada dua momen kegembiraan: kebahagiaan ketika ia berbuka (baca: berhari raya fitri), dan kegembiraan lain ketika ia bertemu dengan Rabb-Nya. Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada aroma kesturi.” (HR. Muttafaq ’alaih).

Tapi yang perlu menjadi perenungan, introspeksi dan pertanyaan kita adalah, kegembiraan seperti apakah yang harus kita miliki dan tunjukkan pada hari raya Fitri seperti saat ini? Dan jawabannya, kegembiraan yang harus kita miliki dan rasakan haruslah merupakan kegembiraan syukur kepada Allah yang telah mengkaruniakan taufiq kepada kita untuk bisa mengoptimalkan pengistimewaan Ramadhan dengan amal-amal yang serba istimewa, dalam rangka menggapai taqwa yang istimewa. Dan bukan kegembiraan lainnya, misalnya yang muncul karena merasa telah lepas dari Ramadhan yang disikapi sebagai bulan beban yang serba memberatkan, mengekang dan membelenggu!

Itulah kebembiraan kita sebagai orang beriman: gembira karena ketaatan, kebaikan dan kesalehan. Dan bukan gembira karena sebaliknya, kemaksiatan, keburukan dan kejahatan. Seperti yang terjadi di zaman modern seperti sekarang ini, dimana banyak orang yang justru gembira dan bangga dengan kemaksiatan dan penyimpangannya. Dalam sebuah riwayat hadits disebutkan bahwa,

“مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ، وَ سَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ، فَهُوَ مُؤْمِنٌ” (رواه الطّبراني).

”Barangsiapa bersenang hati dengan amal kebaikannya, dan bersedih hati dengan keburukan yang diperbuatnya, maka berarti dia orang beriman” (HSR Ath-Thabrani).

Begitu pula kegembiraan orang beriman adalah kegembiraan, karena syukur atas berbagai kenikmatan Allah yang tak terhitung. Seperti firmanNya {yang artinya):

“Dan jika kamu mau menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya” (QS. Ibrahim [14]: 34; QS. An-Nahl [16]: 18).

Dan nikmat yang paling utama, tentulah nikmat hidayah, nikmat keimanan, nikmat keislaman dan nikmat ketaatan.

  1. Hikmah Ketauhidan, Keimanan dan Ketaqwaan

(bektipatria.wordpress.com)

Dalam menyambut ‘Iedul Fitri, disunnahkan bagi kita untuk banyak mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid sebagai bentuk penegasan dan pembaharuan deklarasi iman dan tauhid. Itu berarti bahwa identitas iman dan tauhid harus selalu kita perbaharui dan kita tunjukkan, termasuk dalam momen-momen kegembiraan dan perayaan, dimana biasanya justru kebanyakan orang lalai dari ber-dzikir dan mengingat Allah.

“… dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa Ramadhan), dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas hidayah-Nya yang diberikan kepadamu, dan supaya kamu (lebih) bersyukur” (QS. Al-Baqarah: 185).

Seperti juga yang diperintahkan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, saat memperoleh karunia kenikmatan puncak yang telah diidam-idamkan selama bertahun-tahun oleh beliau dan para sahabat, berupa kemenangan dakwah Islam yang gilang-gemilang, penaklukkan kota Mekkah dan berbondong-bondongnya masyarakat Jazirah Arab dalam memeluk Islam. Dalam rangka mensyukuri dan merayakan kemenangan puncak itu, beliau justru diperintahkan untuk ber-tasbih, ber-tahmid dan ber-istighfar.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan (penaklukan Mekkah).Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka (sebagai bentuk syukur) bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan beristighfarlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat” (QS. An-Nashr: 1-3).

(gatotwid.wordpress.com)

Nah jika kita tetap banyak ber-takbir, ber-tasbih, ber-tahmid dan ber-tahlil serta ber-dzikir mengagungkan Allah, pada momen kemenangan, keberhasilan, kegembiraan dan perayaan – yang biasanya melalaikan – maka harapannya, pada momen-momen dan kesempatan-kesempatan lain, insyaa-Allah akan lebih mudah lagi bagi kita untuk bisa menjaga dan melakukan itu semua.

Maka ma’asyiral muslimin, setelah ditempa dan di-tarbiyah di bulan keimanan, dan dengan bekal taqwa lebih istimewa yang telah kita raih darinya, marilah dalam perjalanan hidup selanjutnya kita jaga, buktikan dan tunjukkan selalu identitas keimanan, keislaman, ke-taqwa-an dan kedekatan dengan Allah ‘Azza wa Jalla. Karena itulah bukti, kita telah berhasil dan sakses dalam menjalani ibadah puasa beserta seluruh rangkaian amal ibadah yang menyertainya selama bulan Ramadhan. Bukankah tujuan dan goal utama dari ibadah Ramadhan adalah untuk mendapatkan ijazah taqwa?

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu (lebih) bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183). Oleh karena itu, selepas Ramadhan ini, dan pada momen Idul Fitri ini, kita harus terlahir kembali menjadi pribadi-pribadi muslim dan muslimah baru yang lebih murni tauhid-nya, lebih indah imannya, dan lebih istimewa taqwa-nya, bagi kehidupan yang lebih islami dan lebih baik, dalam diri pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. (Bersambung, insya Allah)

Judul Asli: “5 Hikmah Idul Fitri”

(Dikutip dari: http://ustadzmudzoffar.wordpress.com/2012/06/28/5-hikmah-idul-fitri/)