(nurulilmiunas.wordpress.com)

Oleh Ustadz Muzdoffar

IDUL FITRI selalu hadir sebagai penutup ibadah puasa Ramadhan setiap tahun. Sudah barang tentu kita semua –bersama seluruh kaum muslimin– senantiasa menyambut dan merayakannya dengan rasa penuh kegembiraan, keceriaan, kebahagiaan dan kesukacitaan. Namun yang perlu menjadi pertanyaan adalah, sudah benarkah sikap dan cara kita selama ini dalam memaknai, menyambut dan merayakan Idul Fitri? Ini yang harus selalu menjadi bahan renungan dan muhasabah (introspeksi atau evaluasi diri) kita setiap saat, khususnya setiap kali kita berjumpa dengan Idul Fitri seperti hari ini.

  1. Hikmah Kefitrahan

Biasa juga dikatakan bahwa dengan hadirnya Idul Fitri berarti kita kaum muslimin kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian. Dan itu benar. Karena jika benar-benar dioptimalkan, maka Ramadhan dengan segala amaliah istimewanya adalah salah satu momentum terbaik bagi peleburan dosa dan penghapusan noda yang mengotori hati dan jiwa kita serta membebani diri kita selama ini.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ” (متّفق علَيْه).

(fitrahislami.wordpress.com)

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala (dan ridha Allah), maka niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ” (متَّفق علَيْه).

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa melakukan qiyamullail pada bulan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala (dan ridha Allah), maka niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ” (متَّفق علَيْه).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan qiyamullail pada (malam) lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dari-Nya) maka niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu..“ (HR. Muttafaq ‘alaih).

Nah, setelah kebersihan diri, kesucian jiwa dan kefitran hati itu kita dapatkan kembali, sehingga kita menjadi bagai bayi suci yang baru dilahirkan ibunya. Atau, ibarat lembar kertas putih nan bersih. Marilah pada hari raya Fitri ini kita tuluskan niat, bulatkan tekad dan kuatkan semangat untuk menjaga kebersihan, kesucian dan kefitrahan itu seterusnya dalam hidup kita. Sebisa mungkin jangan lagi kembali kepada dosa-dosa yang akan membuat noda-noda baru, semoga Allah SWT selalu memberikan kekuatan, taufiq dan hidayahNya kepada kita semua. Aamiin.

  1. Hikmah Kepedulian

(wartaselatan.com)

Islam adalah agama peduli. Oleh karena itu, umatnya pun adalah umat peduli. Sifat serta karakter kepedulian itu, begitu tampak nyata dan terbukti secara menyolok selama bulan mulia yang baru saja berlalu. Semangat berbagi dan spirit memberi melalui sunnah berinfak dan bersedekah serta kewajiban berzakat, begitu indah menghiasi hari-hari penuh peduli sepanjang bulan Ramadhan. Itu semua, tidak lain dalam rangka meniru dan mencontoh keteladanan terbaik dari Baginda Rasul tercinta shallallahu ‘alaihi wasallam.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ (متَّفق علَيْه).

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah manusia yang paling dermawan, lebih-lebih pada bulan Ramadlan ketika malaikat Jibril ‘alaihis salam menemuinya setiap malam untuk bertadarus Al Qur’an dengan beliau. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jauh lebih dermawan dengan kebajikan, daripada angin yang bertiup.  (HR. Muttafaq ‘alaih).

Dan kewajiban kita sekarang di hari fitri ini, adalah menjaga ke-istiqamah-an dengan melanjutkan semangat berbagi dan karakter memberi sebagai bukti taqwa pada pasca Ramadhan dan hari-hari kehidupan selanjutnya. Karena bukankan kita berbagi dengan saudara-saudara kita yang membutuhkan? Bukankah kita memberi untuk mereka yang menunggu uluran tangan? Bukankah kita berinfak, bersedekah dan berzakat, di samping melaksanakan sunnah dan menunaikan kewajiban, adalah untuk menutup kebutuhan umat dan memenuhi ke-maslahat-an Islam?

(sosbud.kompasiana.com)

Jika pasca Ramadhan kita berhenti berbagi dan memberi, apakah berarti semua yang membutuhkan kepedulian kita itu hanya ada di bulan Ramadhan, dan langsung hilang tanpa sisa begitu bulan suci berakhir? Tentu saja tidak! Maka mari kita jaga dan pertahankan hikmah kepedulian ini, sebagai bukti taqwa dan sekaligus wujud syukur yang telah kita raih melalui seluruh amaliah Ramadhan yang baru saja berlalu.

  1. Hikmah Kebersamaan dan Persatuan

Selama Ramadhan, suasana dan nuansa kebersamaan serta persatuan umat begitu kental, begitu terasa dan begitu indah. Mengawali puasa bersama-sama (seharusnya dan sewajibnya), ber-tarawih bersama (selain jamaah shalat lima waktu juga lebih banyak selama Ramadhan), ber-tadarus bersama, berbuka bersama, ber-i’tikaf bersama, berzakat fitrah bersama, dan ber-Idul Fitri bersama (semestinya!).

Hal itu karena memang ibadah dan amaliah Ramadhan serta ‘Idul Fitri, bersifat jama’iyah, kolektif, dan serba bersama-sama. Tidak bisa dan tidak boleh sendiri-sendiri.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ” قَالَ أَبُو عِيسَى وَفَسَّرَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ هَذَا الْحَدِيثَ فَقَالَ: إِنَّمَا مَعْنَى هَذَا أَنَّ الصَّوْمَ وَالْفِطْرَ مَعَ الْجَمَاعَةِ وَعُظْمِ النَّاسِ (رواه التّرمذيّ وأبو داود وابن ماجة، وصحّحه أحمد شاكر والألبانيّ).

Dari Abu Hurairah bahwasanya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Berpuasa itu adalah pada hari dimana kalian semua berpuasa (secara bersama-sama), dan ber-Idul Fitri itu adalah pada hari dimana kalian semua ber-Idul Fitri (secara bersama-sama), demikian juga dengan Idul Adlha, yaitu pada hari dimana kalian semuanya beriedul adha (secara bersama-sama).” (HR Tirmidzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah; dishahihkan oleh Ahmad Syakir dan Al-Albani. Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi berkata, “Sebagian ulama menafsirkan hadits ini bahwa maksudnya, sesungguhnya shaum dan Idul Fitri (dan juga Idul Adha –pen.) itu (harus) bersama jama’ah dan mayoritas umat manusia, khususnya umat Islam.”).

(kabar24.com)

Oleh karena itu kita semua patut bergembira dan bersyukur setiap kali bisa memulai puasa Ramadhan secara serempak dan bersama-sama, tanpa ada perbedaan dan perselisihan yang berarti (kecuali dari beberapa kelompok kecil umat yang tetap ‘istiqamah’ dengan pilihan ‘madzhab’ uniknya masing-masing). Begitu pula dalam berbahagia menyambut dan merayakan ‘Idul Fitri atau ‘Idul Adha saat terjadi secara serempak, nuansa kebersamaan dan persatuan terasa begitu indah. Suasana kegembiraan dan rasa kebahagian pun tampak demikian total dan seakan sempurna, itulah memang esensi dan hakekat makna berhari raya dan ber-Idul Fitri.

Meskipun sebenarnya masih ada saja yang mengganjal dan terasa kurang plong. Karena terjadinya kebersamaan dan kesamaan dalam penetapan awal Ramadhan dan atau ‘Idul Fitri serta ‘Idul Adha –khusus di negeri ini sampai sekarang masih bersifat by accident (baca: disebabkan ketepatan dan kebetulan, saat penganut madzhab hisab maupun rukyah menetapkan keputusan yang sama), dan belum bersifat by design (baca: oleh kesepakatan antar seluruh atau mayoritas kaum muslimin bersama Pemerintah, berdasarkan pola dan kaidah penyatuan tertentu). Padahal kondisi terakhir inilah yang wajib terjadi dan selama ini masih selalu sangat kita harap-harap, tunggu-tunggu dan angan-angankan.

Karena sebelum tercapainya sebuah pola kesepakatan tertentu berdasarkan fikih toleransi dan kompromi, di samping tentu keluasan wawasan, kelapangan dada, kedewasaan sikap dan semangat penyatuan,  maka perbedaan dan perselisihan –-di tataran penerapan-– masih selalu saja sangat mungkin terjadi sewaktu-waktu, ketika hilal berada pada posisi yang ‘tidak aman’. Sehingga terjadinya perbedaan dan perselisihan itupun akan selalu terulang lagi dan lagi. Akibatnya perselisihan yang belum mampu ditoleransikan dan dikompromikan itu ibadah-ibadah yang semestinya menjadi syi’ar ukhuwah, kebersamaan dan persatuan kaum muslimin tersebut, justru bisa berubah menjadi simbol ananiyah (egoisme), ‘ashabiyah (fanatisme) dan perpecahan antar kelompok-kelompok umat.

(cokiehti.wordpress.com)

Marilah hikmah kebersamaan dan persatuan yang menjadi salah satu ruh ibadah Ramadhan dan esensi Idul Fitri ini kita jaga, pertahankan dan tingkatkan terus, sehingga benar-benar menjadi karakter tetap diri kita sebagai kaum mukminin yang senantiasa bersaudara secara harmonis dan mesra. ”Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujuraat: 10).

Dan tentu kita semua tahu dan sadar bahwa persaudaraan, kebersamaan serta persatuan menjadi bagian terpenting dari pilar kekuatan dan kekokohan ummat Islam, yang wajib terus menjadi idealita dan cita-cita setiap kita untuk direalisir dan diwujudkan. Itulah lima (5) hikmah penting dari amaliah ibadah Ramadhan dan keindahan Idul Fitri, yang seharusnya kita nikmati dan dapatkan. Semoga kita semua selalu bisa meraup bagian terbaik dan terbanyak dari hikmah-hikmah besar itu, dan selanjutnya terus mampu mempertahankan dan meningkatkannya. Aamiin yaa Rabbal ‘aalamiin. (tammat)

Judul Asli: “5 Hikmah Idul Fitri”

(Dikutip dari: http://ustadzmudzoffar.wordpress.com/2012/06/28/5-hikmah-idul-fitri/)