(wahdahsidrap.com)

Oleh Forum Pengkajian dan Pengamalan Islam FIK UI

Ketika seorang muslim telah merelakan dirinya untuk terjun dalam arena dakwah, maka ia telah membuat dua perjanjian, perjanjian dengan Allah untuk menegakkan syari’at Islam dan perjanjian dengan sebuah jama’ah. Berjanji, berarti ia mempunyai kewajiban untuk menepatinya, jika tidak memenuhi bisa digolongkan ke dalam golongan orang-orang munafik. Na’udzubillahi min dzalik.

(Baca juga: “Kiat Sukses Berdakwah”)

(ri32.wordpress.com)

Komitmen yang nyata tampak pada perilakunya dalam menunaikan kewajibannya, kinerja dan produktivitas. Komitmen yang kuat akan menguatkan sendi-sendi pergerakan dakwah, sehingga akan selalu aktif pergerakannya. Syi’ar keislaman akan begitu terasa di setiap kegiatan yang ada. Memang pada pelaksanaannya semua itu butuh pengorbanan, tenaga, waktu, juga materi. Semuanya tak akan terasa berat jika komitmen kita dilandasi oleh ikhlas kepada Allah semata. Lillahi ta’ala. Balasan dari-Nya akan didapat, dunia dan akhirat.

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Allah menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Muhammad: 7)

(maalimfitariq.wordpress.com)

Sifat komitmen seseorang seperti keimanan, kadang naik, kadang turun. Bisa dirasakan, biasanya komitmen dan semangat membara terjadi di awal-awal kita melakukan sebuah pekerjaan. Tapi di tengah perjalanan, atau mungkin belum sampai setengahnya, komitmen dan semangat membara tersebut mulai meredup. Entah mungkin karena terpaan ‘angin’ yang terlalu kencang, atau karena sedang kehabisan energi. Tapi memang kondisi seperti itu sadar atau tidak sadar sering terjadi pada kalangan aktivis dakwah.

(cherishideaanissaistanto.wordpress.com)

Fenomena lemahnya komitmen seorang aktivis dapat kita lihat melalui perilakunya yang kurang memperhatikan adab (perizinan, berpendapat, dll), tidak berusaha dengan sungguh-sungguh pada apa yang ia tuju tapi justru bersungguh-sungguh terhadap yang bukan seharusnya ia tuju, senang mencampuri urusan yang bukan haknya, tidak mau taat kecuali terhadap apa yang ia senangi, senang mencari-cari alasan ketika ada agenda-agenda bersama, serta lalai dalam memperbaiki diri. Jika lemahnya komitmen tidak segera diatasi, maka akan menggerogoti tubuh jama’ah tersebut dan tujuan dakwah dari jama’ah tidak bisa tercapai.

(khadakiba.blogspot.com)

Komitmen memang hal yang mendasar ketika kita menjalankan suatu amanah. Tentunya jika didasari niat dan keikhlasan kita hanya karena-Nya. Coba kita ingat-ingat lagi komitmen kita diawal, saat menerima sebuah amanah, saat semangat masih membara, saat menentukan prioritas, saat tujuan-tujuan itu masih melekat dalam pikiran kita, saat rencana-rencana terus dilontarkan.. Sudah sepantasnya komitmen kita dijaga dengan selalu memperbaiki kualitas keimanan, menyadari tugas manusia sebagai hamba-Nya, selalu berada dalam jama’ah, serta tidak mencampurkan hak dan batil. Selalu mengevaluasi diri dan perbaiki komitmen kita..

Hamasah..! Semoga Allah senantiasa menguatkan langkah-langkah kita yang berjuang di jalanNya, aamiin ya Rabb..

Judul Asli: “Penyakit Komitmen, Penyakit Penyebab Lemahnya Dakwah”

(Dikutip dari: http://www.fppi.web.id/2012/08/penyakit-komitmen.html)