(trekearth.com)

Oleh Abdul Azis (Sang Pembelajar)

Ada sebuah kisah populer yang disampaikan Abdullah bin Dinar. Suatu hari ia berjalan dengan Khalifah Umar bin Khathab dari Madinah menuju Makkah. Di tengah perjalanan mereka berjumpa dengan seorang anak gembala, yang sedang turun dari tempat penggembalaan dengan membawa kambing yang banyak. Khalifah ingin menguji sikap amanah si anak gembala. Antara keduanya terjadi percakapan. “Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu?,” ujar Khalifah. “Tuan, aku ini hanya seorang budak,” jawab anak gembala. “Katakan saja pada tuanmu, anak kambing itu telah dimakan serigala,” uji Khalifah. Dengan tegas anak gembala itu berkata, “Faainallah?” (Kalau begitu di manakah Allah?).

Pendek memang jawabannya: faainallah. Namun bagi Khalifah Umar, pertanyaan retoris itu sudah cukup mengguncang jiwa. Kata faainallah sudah cukup memancing ingatan terhadap firman Allah, ”Dan Dia (Allah) beserta kamu di mana pun kamu berada, dan melihat apa yang kamu perbuat.” (QS Al-Hadiid [57]: 4).

(tokuban78.wordpress.com)

Juga dalam QS Al-Mujadalah [58] ayat 7, ‘‘Tidakkah engkau sadari bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidaklah ada pembicaraan (rahasia) antara tiga orang, melainkan Dia yang keempat, dan tidak lima orang melainkan Dia yang keenam, tidak kurang dan tidak lebih daripada itu, melainkan Dia beserta mereka, di mana pun mereka berada.”

Anak gembala itu seakan berkata, “Memang, majikan saya yang memiliki ternak ini bisa saya tipu, ia tidak melihat apa yang saya lakukan di sini, tapi bagaimana saya akan menipu Allah! Bukankah Allah melihat semua yang saya lakukan. Dia mengetahui apa yang terbersit dalam hati manusia, sekecil apa pun.”

Khalifah Umar menangis haru. Ia pun mengajak anak gembala itu menjumpai majikannya untuk dimerdekakan. Setelah dimerdekakan, Umar berkata, “Kalimat ini (faainallah) telah memerdekakanmu di dunia ini. Semoga ia pun akan memerdekakanmu di akhirat kelak.”

Ihsan, Tanda Suksesnya Ramadhan

(coypindu.blogspot.com)

Dalam pandangan Islam, sikap anak gembala tadi disebut ihsan. Yaitu, selalu merasa dilihat Allah SWT di mana pun berada. Seandainya semua orang seperti gembala tadi, tidak perlu ada petugas keamanan, polisi, intel, atau tempat penitipan sepatu di sekitar kita. Bahkan, masalah korupsi yang sedang menggerogoti bangsa kita pun akan segera teratasi.

Ihsan adalah puncak kesadaran seorang Muslim. Betapa tidak, saat ihsan telah terhujam di hati seorang Muslim di mana pun dan kapan pun ia akan selalu sadar diri, sehingga tertuntun hidupnya. Saat melakukan ketaatan, ia akan berusaha menyempurnakan ketaatan tersebut, sebab ia sadar bahwa Allah melihatnya. Ia pun akan malu melakukan maksiat, sebab pandangan Allah tak mungkin lepas dari dirinya. Dalam bahasanya kaum sufi, para muhsinin itu selalu merasa sendiri dalam keramaian dan merasa ramai dalam kesendirian. Artinya, saat dalam keramaian; kala orang lain tidak ingat Allah, dirinya tetap ingat dan merasakan dekat dengan Allah. Demikian pula kala ia sendiri, hatinya tetap ramai karena Allah selalu bersamanya.

Pada bulan Ramadhan, Allah SWT mendidik kita untuk berlaku ihsan. Dan alhamdulillah kita pun mampu melakukannya. Lihatlah saat tengah hari Ramadhan, saat sedang lapar-laparnya. Walau di kamar kita banyak makanan, kita tidak berani memakannya. Padahal kalau toh kita memakannya, tidak ada seorang pun yang tahu. Saat Ramadhan,sebagian kita mampu menjaga panca indera. Tidak mau ber-ghibah, memandang yang diharamkan dan mendengar perkataan sia-sia.

Pertahankan Sikap Ihsan

(ridhomusfa.wordpress.com)

Pertanyaannya, bagaimana agar kita mampu mempertahankan sikap ihsan ini di sepuluh hari Ramadhan, dan khususnya pada sebelas bulan berikutnya? Ada sebuah ungkapan menarik dari Ustadz Ihsan Tanjung, mempertahankan ihsan tidak jauh beda dengan mempertahankan iman. Dalam sebuah hadis disabdakan bahwa al-iimanu yazid wa laa yankus. Iman itu kadang bertambah, kadang berkurang, kadang naik, kadang turun. Menurutnya, kalau dibuat grafik, naik turunnya iman ada tiga.

Pertama, garis turun dan garis naik berada dalam posisi sama. Naik +10, turun -10. Keimanan seperti ini memungkinkan seseorang mendapatkan khusnul khatimah (baik di akhir), bila Allah berkenan mencabut nyawanya pada saat iman sedang naik +10. Namun bila Allah mencabut nyawanya pada saat imannya turun (-10), maka ia akan mendapatkan su’ul khatimah (jelek di akhir).

Kedua, naiknya sedikit, tapi mudah turun secara drastis. Misal, naik +2, turun -10, dan seterusnya. Orang yang memiliki keimanan seperti ini, kemungkinan besar akan meninggal dalam kondisi su’ul khatimah.

Ketiga, naiknya cepat, tapi lambat turunnya dan sedikit. Orang dengan iman konstruktif seperti ini, ketika ketaatannya naik, ia akan merasakan betapa lezatnya keimanan. Namun saat ia terjatuh pada kemaksiatan, ia akan resah dan ingin segera meninggalkan kemaksiatan tersebut.

(saydha.wordpress.com)

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan, mempertahankan sikap ihsan sama artinya dengan mempertahankan keimanan. Keduanya harus seiring sejalan.

Setidaknya ada lima faktor yang bisa mempertahankan sikap ihsan kita. Pertama, Tadzwidul ‘ulum atau membekali diri dengan ilmu yang bisa mengantar kita semakin mengenal Allah SWT. Pupuk iman adalah ilmu. Maka jadilah orang yang haus ilmu dan terus belajar tentang kebenaran.

Kedua, Shahabatus shalihin atau bersahabat dengan orang shalih. Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang akan mengikuti agama dan keyakinan sahabat karibnya. Maka hendaknya seseorang memperhatikan siapa yang akan dijadikan sahabat karibnya (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Ketiga, Ad-diinun nashihah. Jadikan agama sebagai nasihat. Artinya budayakan saling nasihat-menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, minimal dalam lingkup terdekat.

Keempat Istiqamah fil ‘amal atau konsisten dalam beramal. Pengamalan melahirkan pengalaman. Maka, usahakan untuk merutinkan diri dalam beramal, termasuk melakukan muhasabah.

Kelima, berdoa atau memohon kepada Allah agar dikaruniai sikap ihsan. Wallahu a’lam bish-shawab. (ems)

(Dikutip dari: http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp)

Iklan