(webctfatimah.wordpress.com)

Oleh Nurul Yaqien

Dalam kehidupan ini, banyak fenomena yang menunjukkan Kebesaran, Keagungan dan Kekuasaan Sang Pencipta. Fenomena-fenomena tersebut ditunjukkan oleh adanya penciptaan makhluk yang ada di alam jagad raya ini, dengan berbagai macam bentuk dan karaktreristiknya yang beraneka ragam. Ada makhluk yang dapat tumbuh dan berkembang tetapi ada pula yang tidak dapat tumbuh dan berkembang, seperti batu, tanah, air, udara, dll. Ada makhluk yang dapat di lihat, ada pula yang tidak dapat di lihat. Di sisi lain Allah juga menciptakan makhluk yang dibekali dengan akal saja dan ada pula yang hanya dibekali nafsu, namun manusia lah yang dibekali dengan keduanya.

(Baca juga: “Derajat Seorang Hamba”)

(facebook.com)

Pandai Bersyukur

Kesemua ini menunjukkan ada Dzat yang menciptakannya, karena tidak ada satu pun di dunia ini yang wujud dengan sendirinya tanpa adanya Dzat yang menciptakannya. Dalam agama Islam pencipta semua ini adalah Allah SWT yang berfirman, ”Dan sesungguhnya jika kamu bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Niscaya mereka menjawab Allah.” (QS. Al-A’raf: 38).

Di antara berbagai macam makhluk di atas, manusia adalah makhluk Allah yang paling mulia. Karena memang Allah SWT telah mengangkat derajat manusia melebihi makhluk-makhlukNya yang lain. Allah SWT berfirman, “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rizki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan mahluk-mahluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’: 70).

Dengan kemuliaan itu, sudah sepantasnya manusia selalu mensyukurinya. Antara lain dengan menjaga derajatnya, jangan sampai jatuh menjadi makhluk yang hina. Karena dengan mensyukuri nikmat derajat tersebut, Allah SWT akan menambah nikmat-nikmat yang lain yang dapat menambah kedekatan (taqarrub) kita kepadaNya. Alllah SWT berfirman, ”Jika kamu semua bersyukur atas nikmatKu, pasti akan Ku tambah dan jika kamu semua kufur sesungguhnya siksaKu sangat pedih.”

Ayat tersebut mengisyaratkan kepada manusia, agar senantiasa selalu mensyukuri  nikmat-nikmat yang telah diberikan kepadanya. Yaitu dengan senantiasa menjaga derajat tersebut, jangan sampai derajat itu turun dan hancur karena ulahnya sendiri yang ceroboh dan tidak berusaha untuk memeliharanya.

Sebab pada hakekatnya, jika manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menjatuhkan derajat maka sesungguhnya ia telah menjatuhkan derajatnya sendiri. Sebaliknya, apabila ia pandai mensyukurinya, maka sesungguhnya ia telah mensyukuri atas dirinya sendiri sebagai makhluk yang dimuliakan oleh Allah SWT. Sebagaimana firmanNya, “Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia telah bersyukur untuk kebaikannya sendiri, dan barang siapa yang ingkar sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (QS. An-Naml: 40).

Dapat Lebih Rendah dari Binatang

(bungaoktora.multiply.com)

Kemuliaan manusia jika dibandingkan dengan makhluk yang lain, merupakan sebuah amanah yang harus dijaga dan dilestarikan oleh setiap manusia. Karena kemuliaan manusia ini dapat menjadi berkurang, apabila manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang mengarah kepada kemaksiatan dan kekufuran kepadaNya.

Seperti korupsi, minum-minuman keras, berzina, mengumpat, menggunakan narkoba, menentang kewajiban-kewajiban yang disyariatkan agama atau melanggar larangan-larangannya, yang kesemuanya mengarah pada perbuatan-perbuatan kotor dan hina. Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya binatang atau mahluk yang paling buruk di sisi Allah adalah orang-orang kafir karena mereka itu tidak beriman.” (QS. Al-Anfal: 55).

Ayat tersebut mengisyaratkan ketika manusia melakukan perbuatan perbuatan kotor, pada hakekatnya imannya kepada Allah SWT mulai berkurang, sehingga ia berani melakukan larangan-larangan tersebut. Hal ini sangat membahayakan apabila tidak segera disembuhkan, karena perbuatan-perbuatan tersebut tanpa disadari akan menyeretnya kepada kekufuran terhadap perintah dan larangan-larangan Allah SWT.

Keadaan inilah yang akan menjadikan derajat manusia rendah, dan bahkan lebih rendah dari pada binatang. Sebab ketika binatang akan mati (sekarat), mungkin masih dapat diharapkan keselamatannya atau sekalian disembelih utuk dimanfaatkan daging atau kulitnya.

Akan tetapi jika manusia jahat maupun dzalim yang akan meninggal, sedikit sekali yang mengharapkan kesembuhannya. Bahkan mungkin banyak yang mengharapkan ia meninggal, dengan harapan daerahnya menjadi lebih aman. Karena dengan kesembuhannya, dimungkinkan dapat menimbulkan keonaran lagi bagi masyarakat yang lain.

Dapat Lebih Mulia dari Malaikat

(kembanganggrek2.blogspot.com)

Dari kondisi di atas dapat diketahui bahwa sesungguhnya yang membedakan antara manusia dan binatang bukan terletak pada kemampuan akal semata, tetapi yang paling esensi yang membedakannya adalah keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Sebab kemampuan akal manusia terkadang lebih buas, jika dibandingakan dengan binatang.

Dengan kecanggihan akalnya, manusia bisa membobol bank atau rekening orang lain dan dipindah kerekeningnya tanpa harus berbuat kekeresan. Dengan kecanggihan akalnya pula manusia bisa membuat bom nuklir yang akan memusnahkan kehidupan di atas bumi ,jika diledakkan.

Masih banyak lagi akibat kecanggihan akal yang menunjukkan manusia dapat lebih hina dari pada binatang, jika tidak disertai keimanan dan ketakwaan kepadaNya. Sebab dengan menjaga keimanan dan ketakwaan itulah, derajat manusia akan menjadi mulia. Allah SWT berfirman. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujarat: 13).

(ustadz-muhyi.blogspot.com)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa orang yang memiliki derajat mulia di sisi Allah SWT bukan terletak kepada kecanggihan akal yang ia miliki, tetapi terletak pada kualitas ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan kualitan ketakwaan yang baik inilah, yang menjadikan derajat manusia mulia di sisiNya. Bahkan bisa menjadi lebih mulia, dari derajat para malaikat.

Bukankah Nabi kita memiliki derajat yang lebih mulia daripada malaikat? Hal ini dapat kita ketahui dari sejarah Isra’ Mi’raj, ketika Rasulullah saw sampai ke Sidratul Muntaha tanpa diikuti oleh malaikat Jibril as saat naik ke Mustawa menghadap Allah SWT. Fenomena ini menunjukkan bahwa derajat manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, akan menjadi lebih mulia daripada derajat para malaikat.

Pada dasarnya setiap manusia dituntut untuk membimbing hawa nafsunya untuk selalu ta’at dan patuh terhadap perintah maupun larangan-laranganNya, karena hawa nafsu tersebut mempunyai kecendrungan bermaksiat atau selalu berkompromi pada keinginan-keinginan yang mengarah pada perbuatan-perbuatan keji dan  munkar.

(Dikutip dari: http://blog.uin-malang.ac.id/yaqien/2011/07/07/derajat-manusia-dalam-pandangan-islam/)