Antho Massardi

Oleh Antho Massardi

Sahabat, tahukah apa artinya derajat seorang hamba di hadapan Tuhan? Dalam agama Islam, sedikitnya ada enam derajat manusia di hadapan Allãh Subhanahu Wa Ta’ala.

Pertama, orang disebut Islam (Muslimin) karena ia mengucapkan syahadat pengakuan, mengesakan Tuhan dan kenabian Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.

Kedua, orang disebut Iman (Mukminin) karena ia membaca al-Quran sebagai pengetahuan, meyakini seluruh kebenaran hikmahnya sebagaimana Nabi Muhammad meneladankan.

(mujahidareryl.wordpress.com)

Ketiga, orang disebut Takwa (Mutaqien) karena mengamalkan semuanya sebagai perbuatan, tidak mengkhianati amanah, tidak ingkar janji, dan selalu mengatakan kebenaran.

Keempat, orang disebut Ikhlas (Mukhlisin) karena ia meyakini dirinya sebagai hamba Tuhan, tiada daya dan upaya pengetahuan kecuali karena-untuk-kembali kepada-Nya sebagai peribadatan.

Kelima, orang disebut Ihsan (Muhsinin) karena ia melihat tanda-tanda kehadiran Tuhanatau minimal meyakini bahwa Tuhan melihatnya dalam segala perbuatan sehingga selalu lurus dalam perjalanan hidupnya.

Keenam, orang disebut Abdal (Abdallãh) karena ia menjadikan syareat sebagai jalan kebenaran, menuju tapak harkat-martabat-derajat-hakekat manusia sampai ke kesempurnaan.

Alih-alih sebagai manusia, kita belajar ilmu dunia melalui keenam tahapan itu di sekolahan, sejak di TK, SD, SMP, SMA, Perti, Pascasarjana, hingga menjadi profesor asli atau jiplakan. Seperti itulah keadaan penduduk Indonsesia sebagai mayoritas Muslim di dunia, baru sebatas disebut Islam (Muslimin) karena sudah mengucapkan syahadat pengakuan. Padahal amat besar kebencian Allãh kepada para pendusta yang demikian (QS. Ash-Shaff [61]: 2-3).

Sesungguhnya, hanya orang yang iqra-lah yang akan memiliki ilmu pengetahuan dan keleluasaan wawasan. Yang dengan itulah ia menjadi orang budiman, berbudi pekerti luhur dan beriman kepada kekuasaan mutlak Tuhan. Dan, dengan budi-iman itulah ia memiliki kebijaksanaan menegakkan kebenaran dan keadilan.

Yang dengan itulah ia memahami rumusan “ucapan rakyat = ucapan Tuhan” sebagai tugas yang wajib dilaksanakan. Dan, dengan pedoman itulah ia akan memiliki akhlak mulia dan kepribadiannya berjiwa satria. Yang dengan akhlak jiwa satrianya itulah ia berani menjalani takdir kepemimpinannya di dunia. Dan, takdirnya itulah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Itulah yang dimaksud Plato dalam frasa, “seorang politikus harus seorang begawan”.

Demikian Sahabat. Semoga kalian kelak memiliki derajat orang beriman, sehingga amanah saat menjadi pemimpin. Pemimpin yang mengutamakan perintah Allãh dan Rasulullãh yang diwakili oleh suara rakyat pemilih, untuk kemakmuran dan kesejahteraan dunia dan akhirat. Semoga segala ibadah kita menjadi berkah bagi sesama Muslim, sesama Bangsa, dan bagi sesama Insan.  Amin ya Rabbana.

(Dikutip dari: https://www.facebook.com/anthomassardi2)