(konsultasipelajar.blogspot.com)

Oleh Mawlana Syaikh Nazim Adil al-Haqqani

Armageddon akan terjadi, bukan karena Allah SWT; tetapi karena ego kalian, yang tidak pernah puas. Satu kata dari Rasulullah sallallahu  alaihi wassalam memperjelas semua situasi sekarang yang kita hadapi, “Aku berlindung kepada Allah dari pengetahuan yang tidak membawa manfaat kepada orang yang bersangkutan, atau bagi kemanusiaan.  Aku juga berlindung kepada Allah dari kejahatan ego yang hanya menginginkan kesenangan dan kenikmatan fisik, tidak ada yang lain.”  Semoga Allah mengampuni kita.  Kata-kata doa ini adalah sesuatu yang penting.

Tak Percaya Adanya Tuhan

Oleh sebab itu, Rasulullah saw bersabda, “Aku datang untuk menghilangkan karakteristik buruk ego manusia.  Aku datang untuk menyandangkan kalian dengan kualitas terbaik, nilai terbaik, pakaian terbaik kalian, sehingga kalian akan berada di Hadirat Ilahi dengan Pakaian Ilahi yang terbaik dan paling berharga.”

(eruzman.wordpress.com)

Nilai-nilai tersebut adalah pakaian terbaik bagi kalian. Jika kalian tidak mengenakan pakaian itu, kalian akan diusir, karena ego kalian tidak pernah merasa cukup. Dan Neraka juga akan berkata, “Wahai Tuhanku, jika ada lebih banyak lagi, Aku mohon agar mereka dikirimkan kepadaku. Kirimkanlah padaku orang-orang dengan keinginan egonya, mereka akan temukan bahwa apa yang mereka inginkan ada pada levelku.”

Setelah Revolusi Perancis, tembok besar yang mencegah orang untuk bersikap patuh menjadi hancur.  Jangan dikira bahwa itu semua terjadi demikian-bahwa mereka mendobrak pintu Bastille.  Itu adalah peristiwa simbolik  bahwa Setan membuka penjara Bastille untuk mengeluarkan semua orang yang tidak patuh, yang tidak pernah menundukkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla.  Dan Kerajaan ini mewakili Kerajaan Allah di bumi.

Dan sebagaimana disebutkan dalam semua Kitab Suci, bahwa setiap bangsa sejak awal hingga 1789 masing-masing mempunyai seorang Raja, orang-orang menundukkan kepala kepada mereka, bukannya mengangkat kepalanya, dan menunduk kepada Raja berarti secara tidak langsung patuh terhadap Tuhan Pemilik Surga. Tetapi ketika dinding pemisah antara rakyat dan Raja dihancurkan, semua orang yang tidak patuh, para pemberontak, kalajengking dan naga, semua orang liar yang telah dipenjara keluar.

(antohadisoebroto.blogspot.com)

Juga beberapa filsuf, dan scientist yang bodoh, yang Atheis dan tidak percaya kepada adanya Tuhan Yang Mahakuasa. Mereka menulis banyak buku yang mendorong orang agar orang tidak patuh kepada siapa saja.  Apa yang mereka katakan adalah seperti ketika Allah SWT menciptakan ego kita. Ketika Ego ditanya oleh Allah, siapakah engkau, maka Ego menjawab,”Engkau adalah engkau, dan Aku adalah aku,” begitu kata ego.

Sebagai Ancaman Diri

Ego tidak pernah mau menunduk kepada Tuhannya dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu, dan Engkau adalah Penciptaku, Tuhan Pemilik Surga.”  Dia tidak pernah mau menundukkan kepalanya di Hadirat Ilahi, sampai Allah  SWT memerintahkannya untuk dikurung dalam api neraka yang panas selama 1000 tahun.  Tetapi dia tetap tidak datang dan menunduk.  Kemudian dia dipindahkan ke dalam neraka yang dingin selama 1000 tahun pula, tetapi ego tetap masih belum mau menunduk kepada Tuhannya. Sampai ego itu ditempatkan di lembah kelaparan selama 1000 tahun, barulah kemudian dia keluar dan berkata, “Aku adalah hamba-Mu yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku.” 

(syifor98.blogspot.com)

Itulah karakteristik utama dari ego kita-tidak mau menundukkan kepala di hadapan orang lain. Jika dia tidak menundukkan kepalanya di hadapan Allah SWT, bagaimana dia mau menundukkan kepala di hadapan mahluk yang lain. Tidak akan! Demikianlah karena manusia sekarang tidak menghargai satu sama lain sebagai ciptaan-ciptaan Tuhan mereka yang unik dan terkasih, maka mereka pun tak mampu untuk bersikap toleran satu sama lain. Apalagi untuk mampu menghargai mereka, atau menjadi lebih akrab dengan mereka.

“Dunia ini tak cukup besar untuk menampung kita berdua,” kata salah seorang kepada yang lainnya. Apalagi satu bangsa atau negara kepada bangsa dan negara lainnya. Setiap orang berteriak lantang akan dirinya masing-masing demikian kerasnya untuk menekan eksistensi yang lain. Dan perilaku semacam ini membuat orang menjadi demikian berat pula, hingga bumi pun hampir-hampir tak mampu lagi menampung keseluruhan ras manusia –bukan karena jumlah mereka– tapi karena sikap dan perilaku mereka.

Kita telah mencegah diri kita sendiri dari sikap menghargai orang lain dan mencari keakraban dengan mereka. Kita melihat mereka tidak sebagai wakil-wakil Tuhan kita yang tercinta di muka bumi ini, tapi sebagai ancaman-ancaman bagi diri kita sendiri. Dan mereka pun, sebagai gantinya, melihat kita sebagai orang-orang yang berbahaya dan menarik keakraban mereka dari diri kita. Karena itulah, sikap liar dan buas tengah berjangkit dan tumbuh secara cepat pada manusia, dan dari sifat liar inilah muncul kebekuan, kebencian dan kedengkian di antara manusia.

Mengikuti Langkah Setan

Ego dan nafsu rendah kita telah membangun dinding-dinding di sekeliling kita. Dinding dan tembok Ego yang tak dapat ditembus. Hancurkanlah lebih dahulu tembok-tembok Ego kalian itu, agar kalian mampu menghargai orang lain dan mendekati mereka. Setelah kalian mampu mengahancurkan dinding Ego itu, kalian akan menemukan bahwa perasaan-perasaan yang tulus mulai mengalir dari kalbu kalian, dan kemudian sebagian besar orang akan mulai menunjukkan sikap yang lebih baik terhadap diri kalian.

(my.opera.com)

Tetapi jika kalian suka bertengkar dan terkuasai oleh ego rendah kalian yang buruk dan serakah, tak seorang pun mampu mendekatimu. Dan kalian pun tak mampu mendekati seorang pun, kecuali dengan kekerasan. Ini adalah sesuatu yang bersifat timbal-balik. Jadi hal pertama yang harus diperbaiki adalah dirimu sendiri, untuk mengendalikan ego/nafsu rendahmu, agar diri kalian mampu untuk meberikan keakraban yang tulus pada semua orang.

Jika kalian ingin menyelamatkan diri kalian secara fisik dan spiritual dan selamanya, ikutilah langkah para Auliya.  Kita begitu lemah untuk mengikuti langkah para Nabi dan Rasul, karena dibutuhkan iman yang kuat sehingga kalian bisa berpijak di jalur yang benar dengan mantap. Jika kalian tidak mempunyai ‘qadama sidqin’, kalian belum memiliki langkah yang benar, kalian tidak dapat melangkah di jalan yang benar, tidak bisa.

Jalan yang benar, menuntut langkah yang benar. Langkah yang benar, dilakukan oleh kaki yang benar.  Kaki yang benar adalah milik hati yang benar. Jika hati kalian tidak benar, dia tidak bisa memerintahkan kaki kalian untuk berpijak dengan benar.  Oleh sebab itu perhatikanlah-seseorang yang mempunyai langkah yang benar, ikutilah mereka.  Siapa pun dia, kalian boleh mengikutinya.  Jika tidak, kalian akan mengikuti langkah Setan. Dan siapa pun yang mengikuti Setan, dia akhirnya akan sampai ke neraka. Wa min Allah at Tawfiq

(Dikutip dari: http://ervakurniawan.wordpress.com/category/kumpulan-artikel-islam/)

Iklan