Arbono Lasmahadi

Oleh Arbono Lamashadi

Salim (bukan nama sebenarnya)  adalah lulusan Fakultas Ekonomi dari sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta, yang sudah bekerja selama hampir 10 tahun sebagai Manajer Keuangan di sebuah perusahaan asing bergerak di bidang industri makanan. Selama ini, Salim mempunyai pandangan bahwa hal-hal yang menyangkut masa depan karirnya, merupakan tanggungjawab perusahaan sepenuhnya.

(ernita-lestari.info)

Kondisi nyaman ini dia nikmati sampai suatu saat hadir seorang  Manajer Keuangan yang baru bernama Shinta (bukan nama sebenarnya). Buat Salim, Shinta bukanlah orang yang asing baginya, karena dia merupakan adik kelasnya ketika masih sama-sama di Fakultas Ekonomi. Salimlah yang merupakan mentor Shinta ketika pertama dia masuk ke Fakultas Ekonomi. Yang membuat Salim tersentak, adalah posisi yang dipegang Shinta adalah posisi yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan posisi yang dipegangnya saat ini. Bagaimana mungkin? Apa kata dunia? Demikian mungkin campur aduk pikiran dan perasaannya yang ada dalam diri Salim,  saat harus menerima kenyataan bahwa adik kelasnya saat ini mempunyai karir yang lebih baik darinya.

(ajiraksa.blogspot.com)

Salahkah Salim dengan pengelolaan karir, yang dilakukannya selama ini? Atau benarkah langkah Shinta, yang berpindah kerja untuk meningkatkan karirnya? Jawabannya tidak ada yang benar dan salah. Ini merupakan sebuah pilihan, yang perlu dipertimbangkan oleh seorang karyawan.

Tetap bekerja  pada satu perusahaan tanpa perencanaan karir yang baik, bisa jadi bukan langkah yang bijak. Namun pindah kerja tanpa  perencanaan dan pertimbangan yang matang, tentunya juga bukan sebuah pilihan yang tepat. Tetap bekerja di satu perusahaan atau pindah kerja  dengan membuat perencanaan karir yang jelas, merupakan pilihan yang perlu dipertimbangkan. Lalu siapa yang sebenarnya yang paling bertanggungjawab dalam merencanakan karir Anda? Perusahaankah? Atau Anda sendiri?

(yptrading.co.id)

Menurut hemat penulis, di samping peran yang diambil oleh perusahaan, seorang karyawanlah yang paling berperan dalam melakukan perencanaan karir pribadinya. Dia bertanggung jawab terus meningkatkan ketrampilan yang dia miliki, untuk memastikan bahwa dirinya mempunyai kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan dan pasar tenaga kerja. Dia juga sebaiknya bertindak proaktif untuk melihat kesempatan yang ada, dan kemungkinan munculnya masalah dengan karirnya saat ini.

Untuk itulah, ada baiknya seorang karyawan senantiasa dapat melakukan penilaian diri untuk mengenal aspirasi karir yang dia inginkan, mengukur kekuatan yang ia miliki dan hal-hal yang perlu ditingkatkan lebih baik lagi. Dengan perencanaan karir pribadi ini, seorang karyawan dapat menilai tingkat kesesuaian antara aspirasi karirnya dan karir yang dipegangnya saat ini. Dengan demikian dapat mengarahkan dirinya untuk memilih penugasan atau pekerjaan-pekerjaan yang lebih sesuai dengan aspirasi karirnya.

(lokerindonesia.com)

Perlu diingat bahwa pengertian karir sebaiknya tidak dibatasi hanya bekerja di kantor atau perusahaan. Menjadi wirausahawan, pekerja sosial, atau menjadi penulis merupakan bentuk-bentuk pilihan karir yang dapat seorang pertimbangkan. Dengan pengertian ini tidak mengherankan bahwa sebenarnya seorang yang mempunyai perencanaan karir yang baik, tidak akan pernah pensiun. Karena karirnya dapat terus berjalan seiring dengan kehidupannya.

Ada beberapa saran yang dapat dipertimbangkan oleh seorang karyawan dalam membuat perencanaan karir.

1. Tingkatkan network Anda, di dalam maupun di luar perusahaan, misalnya

  • Ikut terlibat dengan proyek-proyek atau kepanitiaan yang sedang berlangsung di perusahaan untuk lebih memahami rekan kerja dan juga proses bisnis di perusahaan.
  • Mendiskusikan rencana karir Anda dengan atasan atau dengan orang–orang yang dianggap telah berhasil dalam karirnya.
  • Melakukan “wawancara” informal dengan orang-orang yang mempunyai karir yang Anda inginkan, untuk lebih memahami pekerjaan yang dicita-citakan.
  • Terlibat dalam kegiatan sosial atau asosiasi professional di luar jam kantor, untuk dapat berinteraksi dengan orang-orang baru dan meningkatkan wawasan terhadap dunia kerja.

(igaji.com)

2. Bila Anda cukup puas dengan pekerjaan saat ini namun kurang puas dengan cara pengorganisasiannya, mungkin perlu melakukan rekonfigurasi pekerjaan Anda, supaya tidak mengalami kejenuhan. Hal yang dapat dilakukan, misalnya:

  • Mempertimbangkan alternatif pengaturan waktu kerja atau cara kerja Anda, dari cara-cara yang umum berlaku saat ini. Misalnya: flexi time, kerja paruh waktu, bekerja dari rumah, dan sebagainya.
  • Melakukan pemberdayaan kepada staf Anda (bila memiliki), dengan demikian mempunyai waktu yang lebih luang untuk mencari penugasan-penugasan baru yang cukup menantang

(mmuntan20.wordpress.com)

3. Secara konsisten terus meningkatkan kompetensi, yang berkaitan dengan pekerjaan maupun dengan karir yang Anda idam-idamkan. Misalnya:

  • Mengikuti kegiatan pelatihan dan pengembangan yang diselengarakan oleh perusahaan atau atas inisiatif sendiri, bila memang perusahaan tempat Anda bekerja tidak menyediakan program pelatihan dan pengembangan yang diinginkan.
  • Mengikuti pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh asosiasi professional atau diskusi-diskusi yang dilakukan di mailing list, facebook, blog, yang membahas masalah-masalah sesuai minat Anda.

(noesaalas.blogspot.com)

4. Bila memungkinkan miliki mentor, yang dapat membantu untuk meningkatkan kepuasan dan kesuksesan karir anda. Mentor adalah seorang yang mempunyai posisi senior di perusahaan, yang dapat menjadi semacam narasumber atau penasehat yang dapat memberikan bimbingan atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan karirAanda.

Di sini lah perusahaan dapat berperan untuk mendorong para senior manajernya, agar bersedia meluangkan waktunya menjadi mentor dan memberikan penghargaan kepada mereka atas kesediaannya tersebut. Namun demikian, pada akhirnya karyawan sendirilah yang paling berperan dalam mendapatkan seorang mentor dan membangun hubungan yang produktif dengannya.

(jobsinpt.blogspot.com)

Bagaimana cara mendapatkan seorang mentor? Garry Dessler dalam Bukunya “Human Resource Management” (2005), mengungkapkan saran-saran sebagai berikut:

  • Memilih mentor potensial yang sesuai. Mentor ini sebaiknya seorang yang dapat memberikan saran yang objektif tentang karir kepada Anda. Karena itulah sebaiknya bukan atasan langsung Anda. Banyak orang mencari mentor pada seseorang, yang mempunyai jenjang karir setingkat atau 2 tingkat lebih tinggi dari atasan langsungnya. Bahkan bila memungkinkan, seseorang di luar perusahaan.
  • Jangan patah semangat bila permintaan Anda ditolak oleh mentor potensial tersebut. Tidak semua orang bersedia meluangkan diri untuk profesi yang cukup menyita waktu. Jadi jangan kaget, bila Anda ditolak oleh pilihan pertama atau yang kedua.
  • (atmajaya.ac.id)

    Jelaskan harapan yang ingin diperoleh dari calon mentor –terutama mengenai waktu dan saran-saran– saat Anda meminta kesediaannya untuk menjadi mentor. Dengan demikian, akan membantu calon mentor untuk mengambil keputusan menerima atau menolak permohonan Anda

  • Susunlah agenda yang jelas tentang masalah-masalah penting atau topiK-topik yang akan menjadi bahan diskusi, dan bawalah pada pertemuan pertama mentoring.
  • Menghargai waktu mentor. Selektiflah dalam memilih masalah pekerjaan yang akan didiskusikan dengan mentorAanda. Ingatlah mentor Anda bukanlah konsultan pribadi. Juga dalam proses mentoring umumnya, tidak melibatkan masalah-masalah pribadi.

Semoga tulisan sederhana ini dapat terus mengingatkan diri saya, agar menjadi lebih baik dari waktu ke waktu dan  memberikan insipirasi kepada Anda semua –para professional — yang selalu bekerja dengan cerdas, penuh semangat dan dedikasi yang tinggi.

(Dikutip dari: https://www.facebook.com/arbono.lasmahadi)