(hasnulhadiahmad.com)

Oleh Moh Rusdiana Hambali Djarot

Bulan Ramadhan kemarin adalah bulan saat umat Islam dilatih untuk meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT. Maka, setelah bulan Ramadhan umat Islam dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu Ramadhaniyun dan Rabbaniyun. Yakni:

  1. Ramadhaniyun adalah orang yang taat dan semangat beribadah pada bulan Ramadhan, kemudian ketika selesai Ramadhan akan selesai juga amal ibadahnya.
  2. Robbaniyun adalah orang yang taat dan semangat beribadah pada bulan Ramadhan, yang meski setelah Ramadhan berakhir pun dia tetap semangat dan bahkan bertambah.

Jadi hal yang diperluakan dalam beribadah itu adalah konsistensi atau kesinambungan. Karena apabila kita termasuk kepada orang yang ramadhaniyun, kita termasuk orang yang merugi. Rasululullah saw bersabda, “Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka termasuk orang yang merugi”

Untuk mengetahui apakah termasuk orang yang merugi atau beruntung, mari evaluasi amal kita. Ketika sebelum Ramadhan tingkat ibadah kita dirumuskan dengan simbol X dan setelah memasuki Ramadhan ibadah kita meningkat menjadi 10 X, akan termasuk orang-orang yang beruntung.

Golongan orang yang beruntung:

Sebelum Ramadhan
Ramadhan
Sesudah Ramdhan
X
10X
>X
Posisi awal
10 kali lebih besar dari posisi awal
Meningkat dari posisi awal

(no-words-necessary.tumblr.com)

Golongan orang yang merugi:

Sebelum Ramadhan
Ramadhan
Sesudah Ramdhan
X
10X
X
Posisi awal
10 kali lebih besar dari posisi awal
Sama dengan posisi awal

Golongan orang yang celaka:

Sebelum Ramadhan
Ramadhan
Sesudah Ramdhan
X
10X
Posisi awal
10 kali lebih besar dari posisi awal
Menurun dari posisi awal

Menghitung Kwalitas, Kwantitas dan Kenikmatan

Tidak hanya urusan dunia saja yang perlu kita hitung, disini mari kita menghitung urusan ibadah untuk bekal kita di akhirat nanti. Sebagai contoh, kita pilih lima amalan yang sering dilaksanakan di bulan Ramadhan, kemudian kita perhatikan kualitas amal, kuantitas (jumlah) amal dan semangat serta kenikmatan dalam beribadah.

1.       Shalat wajib
  • Kualitas, khusyu dan tuma’ninah dalam shalat
  • Kuantitas, tepat waktu dan lamanya shalat
  • Pertambahan ilmunya, pengalamannya, semangatnya, nikmat beribadahnya

2.       Shalat sunnah

  • Kualitas, khusyu dan tuma’ninah dalam shalat
  • Kuantitas, jumlah rakaat dan lamanya shalat
  • Pertambahan ilmunya, pengalamannya, semangatnya, nikmat beribadahnya

(ziarahblogislam.blogspot.com)

3.       Tilawah / hafalan Al-Qur’an

  • Kualitas, sejauh mana kita mengerti dan mempelajari Al-Qur’an
  • Kuantitas, seberapa sering kita berinteraksi dengan Al-Qur’an
  • Pertambahan ilmunya, pengalamannya, semangatnya, nikmat membacanya

4.       Shadaqah

  • Kualitas ikhlas dan cara mengeluarkannya
  • Kuantitas yang kita shadaqahkan dan kuantitas banyaknya orang yang mendapat shadaqah tersebut
  • Pertambahan semangat dan nikmat beribadahnya

5.       Puasa

  • Kualitas berpuasa menahan diri dari larangan-larangan Allah SWT.
  • Kuantitas puasa sunnah yang dikerjakan, adakah peningkatan dari yang tadinya tidak biasa puasa sunnah Senin Kamis menjadi puasa, yang biasa puasa Senin Kamis dia menambah dengan puasa yaumul bid (tengah bulan), dan lain sebagainya.
  • Pertambahan ilmunya, pengalamannya, semangatnya, nikmat beribadahnya.

Dan masih banyak lagi yang perlu kita tingkatkan selain yang dituliskan di atas, karena yang ditulis hanya sebagai contoh saja. Kualitas ibadah kita ditinjau dari ketiga aspek tersebut, apakah ketiga aspek tersebut meningkat ataukah menurun setelah bulan Ramadhan.

Kiat Nikmat Ibadah

(lakaranilham.blogspot.com)

Pada bulan Ramadhan ibadah kita selalu meningkat, tapi setelah bulan Ramadhan berlalu ibadah kita biasanya menurun kembali. Tapi, jika kita ingin termasuk golongan rabbaniyun maka turunnya itu jangan sampai lebih rendah dari sebelum Ramadhan. Gunanya untuk apa? Ya, gunanya untuk membuat ibadah kita setiap tahunnya meningkat. Berikut ada beberapa latihan menikmati ibadah:

1. Jangan biarkan ibadah menghilang. Semua ibadah yang biasa kita lakukan di bulan Ramadhan jangan hilang begitu saja setelah Ramadhan berlalu. Kita harus pertahankan ibadah itu meskipun kadarnya berkurang, asalkan berkurangnya lebih rendah dari sebelum Ramadhan. Misalnya, sebelum Ramadhan kita sering melaksanakan tilawah Al-Qur’an sebanyak satu lembar perhari dan pada bulan Ramadhan meningkat menjadi satu juz perhari. Maka setelah Ramadhan berlalu kita harus meningkat dari sebelumnya menjadi tiga lembar perhari. Jangan sampai menurun, misalnya jadi satu halaman perhari.

2. Nikmati seluruh ibadah yang kita kerjakankan. Nikmati shalatnya, nikmati puasanya, nikmati shadaqahnya dan lain sebagainya. Karena tidaklah mungkin ibadah  kita akan meningkat, jika kita tidak menikmati ibadah tersebut. Contohnya :

  • Lebih sensitif terhadap lingkungan akan menghasilkan bershadaqah tanpa diminta tolong, ketika ada yang membutuhkan.
  • Menikmati puasa bukan menikmati bukanya, tapi nikmatilah puasanya.

(ramadan.detik.com)

3. Jangan membatasi ibadah

  • Selama kita masih menikmati ibadah bertasbih, maka lakukan terus lebih dari 33 kali.
  • Begitupun dengan membaca Al-Qur’an, selama kita masih menikmati membaca Al-Qur’an maka lanjutkanlah.
  • Jangan batasi surat-surat yang kita baca dalam shalat.
  • Dan lain sebagainya.

4. Latihan merasakan enaknya beribadah. Yang belum enak saja dibuat enak, apalagi yang sudah enak.

Kita tarik kesimpulannya bahwa dalam beribadah kita membutuhkan sebuah evaluasi untuk lebih meningkatkan kualitas ibadah kita. Evaluasi itu bisa diukur dalam segi kualitas, kuantitas dan semangat serta kenikmatan dalam beribadah. Ibadah pokok yang perlu kita evaluasi yaitu shalat wajib, shalat sunnah, tilawah Al-Qur’an, shadaqah dan puasa. Semoga kita termasuk orang yang beruntung, yaitu orang-orang yang berada dalam golongan rabbaniyun.

(Dikutip dari:  http://materikultumkita.blogspot.com/2012/06/motivasi-ramadhan-dan-kualitas-ibadah.html)